Renungan Harian Kristen 1 Mei 2026 - Menjadi Alat Kemuliaan Tuhan
Suci Rahayu PK April 30, 2026 05:49 PM

Renungan Harian Kristen 1 Mei 2026 - Menjadi Alat Kemuliaan Tuhan

Bacaan ayat: Hakim-hakim 11:11 (TB)  Maka Yefta ikut dengan para tua-tua Gilead, lalu bangsa itu mengangkat dia menjadi kepala dan panglima mereka. Tetapi Yefta membawa seluruh perkaranya itu ke hadapan TUHAN, di Mizpa. 

Oleh Pdt Feri Nugroho

 

Dalam beberapa kesempatan, beberapa orang ragu ketika harus terlibat langsung dalam pelayanan melalui organisasi. Bermacam pertimbangan muncul.

Beberapa diantaranya, merasa tidak layak. Bisa jadi ini dikaitkan dengan kehidupan pribadi, atau kemampuan intelektual, atau rasa tidak percaya diri jika harus berhadapan dengan banyak orang. 

Keraguan lain juga timbul terkait dengan hasil. Bisa terjadi faktor waktu yang terbatas, dijadikan sebagai ukuran bahwa tidak banyak waktu yang ada untuk melakukan tugas pelayanan. 

Ajaibnya, beberapa yang lain berfikir bahwa pelayanan itu sangat mulia, sehingga tidak main-main ketika telah terjun didalamnya.

Dipastikan ingin memberikan yang terbaik. Jika tidak bisa memberi yang terbaik, lebih baik tidak terlibat. 

Banyak faktor diatas sangat bisa dipahami dan paling masuk akal. Namun saat direnungkan lebih dalam, maka ditemukan sebuah benang merah yang terlupakan. 

Jika bidang pekerjaan atau organisasi lain, pasti keberhasilan menjadi tolok ukur kesuksesan. Orang-orang berlomba dengan kampanye dan menjanjikan akan tampil dengan hasil terbaik. 

Tanpa sadar fokus utama ialah tentang diri sendiri yang berhasil dan menghasilkan yang terbaik. Disandingkan dengan pelayanan, kita dapati sesuatu yang sungsang (terbalik). 

Sebab yang dilakukan dalam pelayanan ialah untuk Tuhan dan bukan untuk diri sendiri. Disinilah kerendahan hati sangat diperlukan. Jika merasa tidak layak, maka Tuhan yang melayakkan. Jika merasa berkemampuan, maka Tuhan yang dipermuliakan.

Yefta tampil sebagai seorang pemimpin.

 Siapa dia? Alkitab mencatat, "Adapun Yefta, orang Gilead itu, adalah seorang pahlawan yang gagah perkasa, tetapi ia anak seorang perempuan sundal; ayah Yefta ialah Gilead."

 Ia anak seorang perempuan sundal! Satu kondisi yang bagi pemahaman kala itu menjadi kondisi yang paling memalukan.

 Ia akan disingkirkan dalam kehidupan sosial. Itu sebabnya ia diusir oleh keluarganya. Ia tidak diinginkan! Persoalannya, bisakah Yefta memilih siapa ibunya? Tidak bisa! Itu otoritas dari Sang Pencipta.

Disinilah misteri itu terjawab! Yefta tidak bisa mempersalahkan masa lalu. Ia juga tidak mungkin protes kepada Tuhan. Yang ia bisa lakukan ialah menemukan apa perkerjaan Allah yang sedang dinyatakan. 

Secara tidak terduga, Bani Amon menyerang Israel. Israel memerlukan panglima. 

Tentu ada begitu banyak orang yang berpotensi untuk tampil. Namun justru para tua-tua meminta Yefta. Ironis bukan?

Apakah ini membuat Yefta mendendam dengan tidak memenuhi permintaan para tua tua? Tidak, Yefta bersedia. Apakah kesempatan itu membuat Yefta menjadi sombong? Tidak.

Yefta membawa perkara itu kepada Tuhan. 

Jika merasa tidak layak, Tuhan yang akan melayakkan. Jika merasa tidak mampu, maka Tuhan yang akan memampukan. Jika merasa tidak bisa, Tuhan yang akan memperlengkapi.

Jika merasa sibuk, bukankah Tuhan itu mengatasi ruang dan waktu?

Jika merasa tidak bisa melakukan tugas dengan baik, itu justru saat yang tepat untuk merendahkan diri dihadapan Tuhan! 

Bahkan Yefta pun bisa terlibat dalam karya penyelamatan Allah. 

Yang diperlukan hanya kesediaan untuk memberikan hati seorang pelayan; yang lain Tuhan yang akan kerjakan! Ingat semua untuk kemuliaan Tuhan. Amin

    Renungan Kristen oleh Pdt Feri Nugroho, GKSBS Siloam Palembang

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.