Laporan Wartawan TribunJabar.id, Nazmi Abdurrahman
TRIBUNJABAR.ID, PURWAKARTA - Aktivitas bertani turut membentuk kekuatan fisik Uhe di usia yang sudah senja. Sejak turun dari bus, siapapun bisa menilai dari penampilan Uhe.
Kerut wajah dan kulit yang mengendur, menandakan usianya tak lagi muda.
Namun, begitu tapak kakinya menyentuh aspal dan berjalan, dia seolah menolak tua. Padahal, usianya telah menginjak 90 tahun dan menjadikannya jamaah haji tertua asal Kabupaten Purwakarta.
Meski jalannya tidak lagi tegap, Uhe masih sanggup keliling menyalami para tetangga yang mengantar hingga ke Masjid Tajug Gede Bungursari, titik kumpul keberangkatan para jemaah menuju asrama haji di Indramayu. Tangannya juga cekatan, menata barang-barang di tas miliknya.
Baca juga: Kisah Entin, Penjual Kangkung dari Subang Naik Haji 2026, Sisihkan Uang Rp 10 Ribu Per Hari
Tak ada raut lelah di wajah Uhe yang sudah dihiasi keriput itu. Layaknya masih berumur 60 tahunan.
Uhe merupakan calon jemaah haji tertua di Purwakarta. Usia senja tidak membuatnya mundur menunaikan rukun islam kelima.
“Nunggunya lima tahun, kan sudah tua,” ujar Uhe, Rabu (29/4/2026).
Uhe berasal dari Desa Wanawali, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Purwakarta. Dia tergabung dalam kloter 12, Embarkasi Kertajati, Indramayu.
Panas terik di Tanah Suci bukan hal asing bagi Uhe yang hampir separuh hidupnya bekerja sebagai petani. Meskipun hanya bisa berbahasa Sunda, Uhe tak khawatir. Apalagi, pendengaran dan penglihatannya masih berfungsi dengan baik. Tekadnya sudah sangat mantap.
"Ada pendamping, buat apa takut?"ucap Uhe.
Biaya beribadah dibantu sang anak. Namun, untuk sehari-hari, Uhe mengaku menghidupi diri sendiri. Dia tidak mau menggantungkan hidup kepada orang lain.
"Ya, uang dari tani. Menanam panen, dapat uang," katanya.
Tak ada resep khusus soal tubuhnya yang masih sehat. Dia hanya memiliki kebiasaan berjalan kaki, entah ke sawah atau keliling kampung.
"Mungkin itu yang bikin sehat," katanya.
Baca juga: Hari Ini Ratusan Jemaah Haji Purwakarta Berangkat ke Tanah Suci Diiringi Tangis Haru Keluarga
Hampir semua hal dilakukan Uhe sendiri. Misalnya melakukan persiapan sebelum berangkat kemarin. Satu per satu dia kemasi perlengkapan ibadahnya. Sajadah, mukena, dan perbekalan yang akan dibawa dalam tas tenteng miliknya. Tas koper sudah masuk bagasi. Namun, kata Uhe, tak ada barang spesial. Hanya sebungkus permen kopi dan tumbler 600 mililiter. Selebihnya beberapa lembar baju.
"Ya, cuma bawa ini saja. Sama minyak telon,” ucapnya.
Uhe berharap bisa menjalani ibadah dengan baik. Apalagi, dia merasa masih kuat berjalan. Rangkaian tawaf, sa’i, bermalam di Mina, hingga melempar jumrah yang menuntut tenaga juga sudah diperhitungkannya. Namun, jika nantinya diminta menggunakan kursi roda, Uhe pasrah.
“Tapi kalau sekarang ya masih kuat," ucapnya.
Uhe juga sudah membekali diri dengan berbagai hafalan doa yang diajarkan anaknya. Dia bersyukur masih belum pikun. Keinginannya di Tanah Suci nanti sederhana saja.
"Saya mau berdoa supaya sehat terus, kuat, dan terus bisa bekerja,”ucapnya.
Perjalanan Uhe menuju Tanah Suci bukan hanya ditopang tenaga dan doa. Ada tabungan yang disetor bertahun-tahun, lalu dijaga nilainya hingga hari keberangkatan tiba.
Cerita pemilik tekad kuat untuk berhaji juga datang dari Istoifah. Perempuan berusia 57 tahun itu dijadwalkan berangkat ke tanah suci pada 8 Mei 2026.
Tak pernah terbayangkan baginya berangkat haji tahun ini. Pemasukan sehari-hari hanya mengandalkan berjualan rujak di pinggir Jalan Evakuasi, Kota Cirebon. Namun, itu tak membuat dia patah arang. Jerih payahnya menabung selama tiga belas tahun mengantar dia mencapai mimpi berhaji.
Keinginan berhaji Istoifah muncul setiap kali mendengar sholawat dari rombongan calon jemaah haji.
“Saya itu kalau sore dengar orang sholawatan mau berangkat haji, sampai menangis. ‘Apa iya ya saya bisa ke sana, Gusti Allah?’,” ucapnya, dengan mata berkaca-kaca.
Tekad itu akhirnya dia wujudkan dengan mulai menabung sejak tahun 2013, dengan setoran awal Rp 25 juta hasil jualan rujak yang dijalani sejak 1997.
Meski penghasilannya tak menentu, dia berusaha disiplin menyisihkan uang sedikit demi sedikit.
“Kadang ada Rp 500 ribu ya saya tabungin, ada Rp 200 ribu ya saya tabungin. Begitu saja,” katanya.
Omzet harian dari usahanya, bisa mencapai sekitar Rp 2 juta, meski masih kotor dan harus diputar kembali untuk modal serta kebutuhan keluarga.
Cerita Uhe dan Istoifah merupakan realitas mayoritas jemaah haji Indonesia yang harus menunggu dan menabung bertahun-tahun demi berhaji. Biaya Perjalanan Ibadah Haji (Bipih) sebesar Rp 54,19 juta pada 2026, menuntut pengorbanan seumur hidup.
Ketika Uhe dan Istoifah menyetor dana porsi awal sebesar Rp 25 juta pada 13 tahun lalu, nilai tukar mata uang, ongkos penerbangan pulang-pergi, akomodasi Mekkah, dan Madinah masih berada diangka lebih rendah dibandingkan saat ini.
Lalu, bagaimana agar dana haji para jamaah yang disimpan belasan bahkan puluhan tahun tidak tergerus inflasi? Pada titik ini, kehadiran Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) menjadi penting.
Total Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) riil pada 2026 sebenarnya mencapai Rp 87,4 juta per jemaah. Artinya, terdapat selisih sekitar 38 persen dari total biaya operasional atau Rp33,2 juta.
Jumlah tersebut tidak dibebankan kepada calon jemaah, tapi ditutup oleh "Nilai Manfaat" yang dikelola secara independen oleh BPKH melalui Akad Wakalah, jemaah memberikan mandat penuh kepada BPKH untuk mengelola uang setoran awal mereka sebesar Rp 25 juta. Nilai manfaat itu merupakan hasil perputaran dana dari 5,5 juta jemaah yang sedang dalam masa antrean.
Dana itu dikelola secara produktif sesuai prinsip syariah, diinvestasikan dengan alokasi 73,68 persen pada Surat Berharga Syariah Negara (Sukuk) dan sisanya 26,32 persen, ditempatkan di perbankan syariah.
Baca juga: 95 Calon Jemaah Haji Sumedang Berangkat 13 Mei 2026 , 15 Persen Terdiri dari Lansia
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Sulistyowati, mengatakan pengelolaan keuangan haji dilakukan secara amanah dan profesional, sehingga manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh para jemaah.
BPKH, kata Sulistyowati, diamanahkan untuk mengelola keuangan haji, dan dana haji terus tumbuh. Pada tahun 2025, BPKH memperoleh nilai manfaat sekitar Rp12 triliun dengan dana kelolaan total Rp180 triliun.
“Nilai manfaat tersebut didistribusikan kepada jemaah tunggu maupun jemaah yang berangkat. Selain itu, jemaah juga mendapatkan uang saku atau living cost sebesar 750 riyal Arab Saudi yang dapat digunakan sebagai bekal operasional selama berada di Tanah Suci,” ujar Sulistyowati.
Bagi Uhe dan Istoifah, nama BPKH mungkin terdengar asing, apalagi memahami istilah nilai manfaat, sukuk, atau portofolio investasi. Namun, satu hal yang mereka rasakan adalah negara hadir menjaga harapan mereka tetap sampai ke tujuan.
Di balik angka-angka dan kebijakan, ada langkah renta seorang petani dari Desa Wanawali serta air mata penjual rujak di Cirebon yang akhirnya sama-sama akan menatap Ka'bah sebagai puncak ikhtiar seumur hidup.