Tribunlampung.co.id, Bekasi - Pagi itu, Rabu (29/4/2026) terasa berbeda bagi Muhamad Ari Kurniawan (21). Tak ada lagi suara yang membangunkannya untuk salat subuh, seperti yang biasa dilakukan kakaknya, Vica Acnia Pratiwi (24).
Kebiasaan kecil itu kini justru menjadi kenangan yang paling terasa hilang. Ari hanya bisa mengingat momen terakhir saat sang kakak masih sempat membangunkannya sebelum berangkat kerja.
Sejak kepergian Vica, suasana rumah berubah sunyi. Rutinitas sederhana yang dulu terasa biasa, kini justru meninggalkan ruang kosong yang sulit tergantikan.
Di tengah duka yang masih menyelimuti, Ari mencoba menahan kesedihan. Namun setiap cerita tentang kakaknya, emosinya tak lagi bisa dibendung.
Baginya, Vica bukan sekadar kakak, tetapi juga sosok yang selalu hadir dalam keseharian, termasuk dalam hal-hal kecil seperti mengingatkan ibadah.
Baca juga: Harapan Aji Pupus, Hasil Identifikasi Istri Jadi Korban Tewas Kecelakaan KRL
Tak hanya itu, Ari pun mengenang keinginan Vica semasa hidupnya, yakni diberi bunga tanpa diminta.
"Sekarang bunganya banyak banget datang ke rumah," ucap Ari, adik kandung almarhumah Vica, sebagaimana dikutip dari Tribunnews.com.
Suaranya payau nyaris tak terdengar. Sesekali Ari berhenti bicara, matanya berkaca-kaca.
Ditemui di rumah duka, Perumahan Telaga Murni, Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Rabu (29/4/2026), Ari tak kuasa menahan sedih menceritakan soal kepergian kakaknya tercinta.
Vica menjadi satu dari 16 korban meninggal dunia akibat kecelakaan tragis dua kereta di Bekasi Timur pada Senin (27/4/2026) malam.
Kecelakaan yang melibatkan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek itu juga mengakibatkan sedikitnya 90 orang terluka.
Vica adalah sosok pejuang keluarga.
Lulusan Teknik Elektro Universitas Negeri Lampung ini baru lima bulan meniti karier di sebuah perusahaan di Tebet, Jakarta Selatan.
Setiap hari, rutinitasnya tetap sama ketika menuju ke kantor.
Insinyur muda ini memacu sepeda motor menuju Stasiun Telaga Murni, menitipkan motornya di sana.
Lalu membelah kemacetan ibu kota menggunakan KRL dari rumahnya di Bekasi.
Di KRL malam itu, dia menghembuskan nafas terakhir.
Dalam sebulan terakhir, almarhumah Vica sering mengajak keluarganya menghabiskan waktu bersama untuk makan, pergi jalan-jalan untuk sekadar berkumpul.
Seolah ingin menciptakan lebih banyak momen bersama keluarga.
"Enggak ada firasat karena aku juga jarang ngobrol, cuma satu bulan terakhir ini sering ajak makan jalan bareng semua keluarga," kata Ari.
Ari terakhir kali bertemu Vica pada Senin subuh saat kakaknya itu membangunkannya untuk salat.
Ari berangkat kerja pukul 06.00 WIB, sedangkan Vica pukul 07.00 WIB.
Tak ada firasat apapun yang dirasakan Ari.
Chat terakhir pada Selasa siang, Vica masih sempat mengabari akan pulang terlambat karena ada acara makan bersama rekan kantor.
Saat kejadian, Ari tengah masuk kerja shift malam.
Baru beberapa jam masuk bekerja, ia mendapatkan kabar kakaknya hilang dan langsung mengajukan izin ke atasan untuk tidak bekerja.
Setelah diizinkan, ia diantar temannya menuju ke Stasiun Bekasi Timur pada Senin pukul 23.00 WIB.
Ketika itu suasana sudah macet sampai mobilnya parkir jauh dari lokasi kejadian.
"Saya pakai mobil parkir di Terminal Bekasi, jalan kaki sampai Stasiun Bekasi Timur," kata dia.
Selama ada di Stasiun Bekasi Timur sampai Selasa (28/4/2026) pukul 03.00 WIB, Ari tidak menemukan Vica.
Saat itu gelisah karena sampai tinggal beberapa orang saja yang belum dievakuasi, Vica belum ditemukan.
Ari disarankan mencari ke beberapa rumah sakit rujukan di Kota Bekasi, tetapi juga tidak ada nama Vica.
Ada yang lalu menyarankan Ari untuk memeriksa RS Polri Kramat Jati, Jakarta Timur.
Ia bersama kakak dan pamannya langsung ke RS Polri untuk menanyakan keberadaan Vica.
"Kemarin sore hasilnya keluar, dinyatakan cocok, tapi jenazah baru bisa dibawa selepas magrib setelah pengumuman resmi kepolisian," kata dia.
Jenazah tiba di rumah duka pukul 21.00 WIB dan langsung dimakamkan di TPU Telaga Murni.