Penjaga Perlintasan KA Soroti Tragedi Bekasi: Banyak Pengendara Nekat Terobos Palang
Dwi Rizki April 30, 2026 09:19 PM

WARTAKOTALIVE.COM, KEBAYORAN LAMA - Keselamatan di perlintasan KA sebidang menjadi hal yang paling disoroti dalam tabrakan antara KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur, Kota Bekasi.

Adapun jumlah korban meninggal dalam kecelakaan pada Senin (27/4/2026) malam itu tercatat 16 orang.

Teranyar, satu korban bernama Mia Citra meninggal dunia pada Rabu (29/4/2026) pagi di RSUD Kota Bekasi.

Di balik korban tewas tabrakan KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek, terdapat perempuan dari berbagai profesi, mulai dari guru, tenaga kesehatan sampai mahasiswi.

Ocim (53), penjaga perlintasan sebidang kereta api di Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan menyebut, peristiwa kecelakaan di perlintasan umumnya berkaitan dengan perilaku pengendara.

"Kalau menurut saya ya, karena lintasannya ini kan ilegal atau enggak ada palang pintu, sebagai pengguna jalan seharusnya hati-hati," ujarnya, saat ditemui Warta Kota di Jalan TPU Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Kamis (30/4/2026).

"Kalau udah di-setop kadang-kadang orang udah di-setop gitu ya, pada maksain aja ya kan, nah itu kendalanya kadang-kadang yang bikin kejadian, jadi kami udah setopin, kereta udah dekat, terus dia main 'nyodok' aja, nah itu yang sering kejadian itu, bukan kelalaian yang jaga sebenarnya, kelalaian itu yang berkendara yang melintas," sambungnya.

Baca juga: Selamat dari Kebakaran, Penghuni Apartemen Mediterania: Alarm dan Sprinkler Tak Berfungsi

Pria berkulit cokelat tersebut mengatakan bahwa kejadian serupa bukan hal baru baginya. 

Di lokasi tempatnya berjaga di perlintasan sebidang kereta api di kawasan Tanah Kusir, Kebayoran Lama, Ocim juga kerap menghadapi pengendara yang tetap mencoba menerobos rel meski sudah diberi peringatan.

"Jadi ya mohonlah, kalau berkendara harus hati-hati, harus diperhitungkan, jangan fokus sama yang jaga aja, saling jaga aja, namanya di jalan kan, kalau di jalan kan kita pelan juga ditabrak, kenceng ya kita nabrak kan gitu ya kan," kata dia.

"Itu serba salah, makanya kita harus hati-hati, apes itu enggak ada di kalender, enggak ada yang tahu, kayak di Bekasi," lanjut Ocim. 

Ocim yang telah lebih dari 15 tahun membantu menjaga perlintasan sebidang kereta api secara swadaya di Tanah Kusir ini menyebut, keterbatasan fasilitas membuat peran penjaga di perlintasan sebidang menjadi penting, meski tidak bersifat resmi.

Ia juga menyoroti perlunya sistem peringatan tambahan di perlintasan, seperti sirine atau tanda visual, untuk membantu pengguna jalan lebih waspada terhadap kedatangan kereta.

“Minimal ada tanda atau bunyi peringatan berapa meter gitu supaya orang tahu kereta mau lewat,” ujarnya.

Menurutnya, keselamatan di perlintasan sebidang tidak bisa hanya mengandalkan petugas, tetapi juga membutuhkan kesadaran setiap pengguna jalan.

“Bukan cuma yang jaga, tapi semua harus hati-hati,” kata Ocim.

Perlintasan sebidang masih menjadi titik rawan kecelakaan di berbagai daerah, terutama di jalur alternatif yang padat aktivitas warga.

Seperti Jalan TPU Tanah Kusir yang merupakan jalan alternatif menghubungkan Ulujami Raya dan Bintaro Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.

Jalan itu menjadi jalur sibuk, terutama saat pagi hari ketika para pelajar dan pekerja berlalu-lalang.

"Ini jalan alternatif menuju Ulujami, Ulujami Raya dan Bintaro Raya, jadi jalan alternatif, tembusnya kan Cipulir, jadi kalau Cipulir macet maupun banjir, lintasannya sini, apalagi kalau pagi itu anak sekolah," tutur dia.

"Di sini macet, masya Allah, kalau kita di sini enggak jagain, ya itu risikonya, itulah makanya, kalau dilintasan itu ekstra hati-hati sebenernya," lanjut Ocim.

Kereta KRL Commuter Line arah Rangkasbitung maupun arah Tanah Abang lewat tiap lima menit sekali.

Ia bersama sembilan rekan lainnya bergantian menjaga jalur rel mulai dari pagi hingga malam hari.

"Kami ada 10 orang, kami ganti-ganti shift, per 2 jam atau 1 jam setengah tergantung kekuatan mata sama kaki," ucapnya.

Ocim menyoroti kebiasaan pengendara yang kerap memaksakan diri menerobos, meski kereta sudah dekat. 

Menurutnya, hal itu menjadi penyebab utama kecelakaan di perlintasan sebidang kereta api kawasan Tanah Kusir.

"Kalau di sini sih ya karena enggak dipalang, nerobos banyak, nah kami sebagai yang jaga, kadang-kadang ya udah panas, ya kan capek, ya emosi juga kadang-kadang ya itulah, kalau kami enggak jaga-jaga emosi banget ya, sering-sering ribut," kata dia.

Menurut Ocim, perlintasan sebidang tersebut sudah ada sejak 1980-an, ketika jalur kereta masih satu rel (single track).

"Waktu itu di sini masih satu rel, satu jalur keretanya, ya kejadian Tragedi Bintaro kan (tahun) 1987 itu, itu masih satu jalur. Kan dua jalur pas tahun 1990-an, 2000 lah," katanya.

Perlintasan tersebut memang bukan jalur resmi dengan fasilitas lengkap. 

Di perlintasan sebidang yang bisa dibilang liar ini, ada dua palang besi, tetapi kini tak digunakan saat kereta melintas.

Upaya penggunaan palang manual itu pun terkendala teknis, seperti tali yang berat dan sering putus.

"Itu yang bikin dari angkatan laut, kami pernah gunain juga, ternyata berat tambangnya sering putus, jadi ribet juga kami buka tutupnya kan, makanya kan pernah dibikin dari Seskoal sini sih, ya sempet kami gunain, sekarang kan enggak ada (tali) tambangnya, itu bingung juga kami gunainnya," tutur dia.

"(Perlintasan sebidang di Tanah Kusir) sudah lama ada, di sini tadinya ada palang, waktu kereta 1 jalur, ada di situ dari KAI dibikin, waktu itu juga ada pos (jaga)-nya itu tahun 1990-an lah, ada pos, dibikinin pos waktu itu, tapi akhirnya dihancurin, enggak ada yang nungguin, sekarang begini, untungnya sih ada anak-anak yang jagain, teman-teman, swadaya masyarakat," lanjut Ocim. 

Di tengah keterbatasan, Ocim beserta rekan-rekannya tetap berjaga di perlintasan sebidang tersebut. 

Mereka mengandalkan ketelitian dan insting seperti mendengar klakson kereta, melihat getaran kabel, hingga membaca situasi dari kejauhan. 

Jalur rel yang berkelok membuat tugas menjaga perlintasan semakin menantang.

Selain risiko kecelakaan, kondisi jalan yang rusak dan licin saat hujan di perlintasan juga kerap memicu pengendara terjatuh di rel. 

"Kami harus jeli, karena sana nikung, di sini nikung (jalur rel kereta), jadi kami harus jeli, kedengeran suara klakson maupun sirine (kereta), kadang-kadang enggak kedengeran (suara klakson atau rel), kadang-kadang lihat kabel gerak, kadang-kadang enggak ada kereta kami berhentikan," sambungnya.

Ocim mengingat satu kejadian beberapa tahun lalu ketika sebuah mobil tertabrak kereta karena memaksa melintas. 

Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam insiden tersebut, meski kendaraan sempat terpental dan mengalami kerusakan.

"Yang kecelakaan paling parah di sini, pernah kereta tabrak mobil, lima atau enam tahun lalu kalau enggak salah, karena mobil itu pun udah di-setop, udah di-setop, enggak dapet kan, maksain, kenalah mobil itu, kan sempat masuk TV juga rame," tuturnya.

Ocim Mengaku Tak Digaji

Menjadi penjaga perlintasan bukan pekerjaan yang menjanjikan secara ekonomi. 

Ocim bahkan mengaku tidak menerima gaji tetap. 

Penghasilannya hanya berasal dari pemberian sukarela pengguna jalan, dengan pendapatan sehari berkisar Rp30.000 hingga Rp50.000.

“Orang tahunya kami digaji, padahal tidak. Ini swadaya masyarakat saja, supaya tidak ada kejadian di depan mata,” katanya, yang juga bekerja sebagai penjaga makam di TPU Tanah Kusir.

Meski begitu, ia tetap melakukannya dengan penuh tanggung jawab.

Baginya, keselamatan jauh lebih penting daripada imbalan materi.

"Di sini kan sudah dibikin-bikinin lubang-lubang, buat palang baru, cuman enggak tahu kapan-kapannya, dari dulu kan 'ya nanti dibikin', sampai sekarang buktinya enggak," tutur dia. 

Dari data Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, diketahui ada belasan perlintasan sebidang kereta api di wilayahnya.

"Total 11," ujar Kepala Suku Dinas Perhubungan Jakarta Selatan, Bernad Pasaribu, saat dikonfirmasi Warta Kota, Kamis.

Rinciannya, wilayah Kebayoran Lama menjadi yang terbanyak dengan tiga perlintasan.

Lalu dua perlintasan berada di Pancoran, Tebet, dan Pasar Minggu, sedangkan satu di Pesanggrahan dan Jagakarsa. (m31)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.