TRIBUNJATENG.COM, BANYUMAS — Denyut budaya lokal kembali terasa kuat di kawasan Taman Sari Kota Lama Banyumas melalui penyelenggaraan Peken Banyumasan 2026, Sabtu 25 April 2026 mulai pukul 08.00 hingga 23.00 WIB.
Kegiatan yang kini menjadi agenda rutin tahunan yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni, tetapi juga berfungsi sebagai ruang hidup budaya yang mengintegrasikan ekspresi tradisi dengan geliat ekonomi kreatif masyarakat.
Mengusung konsep living culture space, Peken Banyumasan dirancang sebagai ruang interaktif yang memungkinkan masyarakat tidak hanya menjadi penonton, tetapi juga pelaku dalam ekosistem budaya.
Beragam aktivitas dihadirkan secara terpadu, mulai dari pertunjukan seni tradisional, dolanan rakyat, hingga pasar UMKM yang menampilkan produk-produk lokal khas Banyumas.
Program ini lahir dari kebutuhan untuk menghidupkan kembali identitas Banyumasan dengan pendekatan yang lebih relevan terhadap perkembangan zaman.
Budaya ngapak, sebagai salah satu ciri khas masyarakat Banyumas, menjadi elemen penting yang terus diangkat dalam setiap penyelenggaraan.
Tidak hanya sebagai simbol linguistik, tetapi juga sebagai representasi karakter masyarakat yang egaliter dan terbuka.
Dalam pelaksanaannya, Peken Banyumasan melibatkan berbagai pihak secara kolaboratif.
Pelaku UMKM yang didukung oleh berbagai kalangan, mulai dari seniman lokal, komunitas seni, hingga perwakilan dari 12 desa di Kecamatan Banyumas, turut ambil bagian dalam mengisi ruang-ruang kegiatan.
Keterlibatan ini menjadikan Peken Banyumasan sebagai platform pemberdayaan masyarakat yang berbasis potensi lokal.
Peran akademisi juga menjadi aspek yang tidak terpisahkan. Mahasiswa dari Program Studi Desain Komunikasi Visual Telkom University Purwokerto berkontribusi dalam berbagai lini, mulai dari pengembangan branding kegiatan, desain komunikasi visual, dokumentasi, hingga pendampingan desa dalam membangun identitas produk yang lebih kompetitif.
Kegiatan ini sekaligus menjadi implementasi pembelajaran berbasis proyek dalam kerangka program kampus berdampak.
Dari sisi ekonomi, keberadaan Peken Banyumasan memberikan dampak langsung terhadap peningkatan aktivitas UMKM lokal.Produk kuliner, kriya, hingga fesyen lokal mendapatkan ruang promosi yang lebih luas melalui interaksi langsung dengan pengunjung. Pola ini dinilai efektif dalam mendorong perputaran ekonomi berbasis komunitas.
Namun demikian, di tengah pertumbuhan tersebut, tantangan tetap hadir.
Salah satu yang utama adalah menjaga keseimbangan antara nilai budaya dan kepentingan komersial.
Kurasi program menjadi langkah strategis yang terus dilakukan oleh penyelenggara untuk memastikan bahwa identitas Banyumasan tetap menjadi inti dari setiap kegiatan, tanpa tergerus oleh orientasi pasar.
Selain itu, keberlanjutan program juga menjadi fokus penting.
Konsistensi penyelenggaraan serta keterlibatan lintas sektor menjadi kunci dalam menjaga eksistensi Peken Banyumasan sebagai ruang budaya yang adaptif dan berdaya saing.
“Ke depan, Peken Banyumasan diharapkan tidak hanya berhenti sebagai agenda lokal, tetapi mampu berkembang menjadi ikon budaya dan destinasi wisata unggulan Banyumas. Dengan potensi yang dimiliki, kegiatan ini berpeluang besar untuk dikenal di tingkat nasional hingga internasional sebagai model pengembangan ekowisata berbasis budaya yang berkelanjutan,” ujar Galih selaku Ketua Program Studi S1 DKV Telkom University Purwokerto.
Sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi, keterlibatan Telkom University Purwokerto dalam Peken Banyumasan menjadi wujud nyata peran akademisi dalam mendukung pelestarian budaya sekaligus pemberdayaan masyarakat.
Ke depan, sinergi antara kampus, komunitas, dan pemerintah diharapkan terus diperkuat guna menciptakan inovasi berbasis budaya yang tidak hanya berdampak secara lokal, tetapi juga mampu membawa nama Banyumas ke kancah yang lebih luas.(***)