TRIBUNNEWSMAKER.COM - Kabar duka gugurnya Praka (Anumerta) Aprianus di Papua, menyimpan kisah haru tentang perjuangan seorang anak desa.
Sejak awal Praka Aprianus memilih mengabdikan hidupnya sebagai prajurit demi keluarga.
Aprianus bukan sekadar anggota TNI. Ia adalah sosok anak bungsu yang menjadi harapan keluarga, sekaligus satu-satunya laki-laki yang tumbuh dengan tekad kuat untuk mengubah nasib.
Kabar gugurnya prajurit muda ini dibenarkan langsung oleh Komandan Kodim 1205/Sintang, Letkol Arm Anggit Wijaksono.
"Betul, Praka Aprianus, seorang prajurit TNI asal Sintang, gugur saat bertugas di Papua," kata Anggit, dikutip dari Tribun Pontianak, Kamis (30/4/2026).
Aprianus diketahui berasal dari Desa Pakak, Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat.
Baca juga: Gencatan Senjata dengan AS Segera Berakhir! Iran Siapkan Kejutan Besar di Medan Perang
Ia tumbuh sebagai anak desa dengan kehidupan sederhana, namun memiliki semangat besar untuk membantu keluarganya.
Sebagai anak bungsu dan satu-satunya laki-laki, Aprianus memikul tanggung jawab yang tidak ringan.
Keputusan untuk menjadi prajurit TNI bukan hanya soal pengabdian kepada negara, tetapi juga bentuk bakti kepada orang tua dan keluarganya.
Pilihan hidupnya itu kini menjadi cerita yang menyentuh hati, tentang keberanian, pengorbanan, dan cinta seorang anak kepada keluarga yang ia tinggalkan.
Kepergian Aprianus pun meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga masyarakat di kampung halamannya yang mengenalnya sebagai sosok pekerja keras dan penuh tekad.
Sang ibunda, Agnes, mengaku sempat berharap anaknya tidak menjadi prajurit TNI dan memilih jalan lain yang dinilai lebih aman.
Ia bahkan pernah menyarankan Aprianus untuk melanjutkan pendidikan atau menjadi pastor.
"Pernah saya bilang, 'Bang, kau tidak usah jadi tentara. Kuliah saja dulu atau jadi pastor, mau tidak?'," ujar Agnes, di rumah duka.
Baca juga: Pernyataan Mengejutkan Pengacara, Nadiem Dipaksa Hadiri Sidang Meski Sakit, Jaksa Tegas Membantah
Namun, Aprianus memiliki alasan sendiri. Ia ingin segera bekerja agar bisa membantu ekonomi keluarga.
"Dia bilang, 'Aku tidak mau, Mak. Nanti kalau aku kuliah, kapan aku bisa kasih kalian uang?'," tutur Agnes.
Keputusan itu menjadi titik awal perjalanan panjang Aprianus hingga akhirnya menjadi prajurit TNI.
Perjalanan Aprianus tidak mudah. Ia harus menghadapi kegagalan berulang kali sebelum berhasil mengenakan seragam TNI.
Aprianus tercatat dua kali gagal dalam seleksi TNI. Ia juga sempat mencoba jalur kepolisian, namun belum berhasil.
Meskipun demikian, ia tidak menyerah hingga berhasil masuk ke jajaran.
Pada percobaan ketiga di tahun 2021, Aprianus akhirnya dinyatakan lolos dan resmi menjadi prajurit TNI.
Bagi keluarga, keberhasilan tersebut menjadi kebanggaan tersendiri.
Sebelum menjadi prajurit, Aprianus sudah terbiasa membantu orangtuanya berjualan sayur di pasar.
Kakaknya, Margareta, mengatakan Aprianus dikenal sebagai pribadi yang pekerja keras dan peduli terhadap keluarga.
"Kadang subuh-subuh dia sudah bangun, antar mama bapak ke pasar, bantu beli sayur. Dia memang anak yang luar biasa," ujar Margareta.
Kebiasaan itu menunjukkan kedekatan Aprianus dengan keluarga sekaligus tanggung jawabnya sejak usia muda.
Kini, keluarga hanya bisa mengenang sosok Aprianus sebagai anak yang berbakti dan tidak mudah menyerah.
Aprianus gugur dalam tugas di Papua pada Rabu (29/4/2026) setelah mengalami luka tembak dalam insiden kontak tembak.
Ia sempat dievakuasi ke Timika sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Atas pengabdiannya, ia dianugerahi kenaikan pangkat satu tingkat lebih tinggi menjadi Praka (Anumerta).
(Tribunnewsmaker.com/Kompas.com)