POSBELITUNG.CO - Kepercayaan Iran terhadap Amerika Serikat nampaknya telah menghilang.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengaku sulit untuk kembali mempercayai Amerika Serikat (AS).
Ia mengatakan AS harus bekerja keras untuk mengembalikan kepercayaan Iran, yang saat ini hampir sepenuhnya hilang.
Menurutnya, AS telah dua kali melakukan serangan terhadap Iran ketika perundingan sedang berlangsung. Hal itu membuatnya merasa dibohongi dan sulit percaya dengan Washington.
Baca juga: Rincian Tanggal Merah dan Cuti Bersama Bulan Mei 2026, Ada Long Weekend, Catat Jadwalnya
Pezehskian dilaporkan mengungkapkan hal itu saat berbicara melalui sambungan telepon dengan Presiden Belarusia Alexander Lukashenko, Kamis (30/5/2026).
Pezeshkian juga disebut mengatakan kepada Lukashenko, serangan AS-Israel ke infrastruktur-infrastruktur Iran, termasuk fasilitas nuklir yang dijaga ketat, sebagai kejahatan perang dan pelanggaran hukum internasional.
“Selama proses negosiasi, AS dan rezim Zionis menyerang Iran dua kali dan ada kemungkinan hal itu terjadi lagi, yang menyebabkan Iran kehilangan kepercayaan sepenuhnya terhadap Amerika Serikat,” kata Pezeshkian, dikutip dari IRNA.
Pada Juni 2025, AS dan Israel melakukan serangan ke Iran yang memicu serangan balasan. Padahal, ketika itu AS dan Iran tengah melakukan perundingan nuklir.
Serangan gabungan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari juga terjadi ketika perundingan nuklir tengah dilakukan.
Pezehskian juga memberikan pengarahan kepada Lukashenko mengenai pembicaraan gencatan senjata antara Iran dan AS yang dilakukan di Islamabad, Pakistan, awal bulan April lalu.
Ia mengatakan gencatan senjata tersebut telah dilanggar lewat aksi agresif AS-Israel.
Pezehskian mengatakan AS harus menghentikan retorika agresif dan provokasinya demi mengembalikan kepercayaan Iran.
AS juga harus menunjukkan keseriusan dalam proses negosiasi yang bertujuan mengakhiri perang secara permanen.
Pada kesempatan itu, Pezeshkian berterima kasih kepada Belarusia atas dukungannya, dan menyerukan agar dilakukan kerja sama politik, ekonomi, dan budaya berkepanjangan antara kedua negara.
Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Presiden Donald Trump memasuki fase kritis yang mengancam stabilitas global.
Teheran secara terbuka mengeluarkan peringatan keras bahwa babak baru peperangan di kawasan tersebut akan menjadi bencana besar yang mampu menenggelamkan status Amerika Serikat sebagai negara adidaya.
Ancaman ini muncul di tengah blokade strategis yang dilakukan Iran di Selat Hormuz, jalur nadi minyak dunia yang kini menjadi titik api utama konflik.
Di sisi lain, militer Amerika Serikat tidak tinggal diam. Pentagon melalui Komando Pusat (CENTCOM) mengklaim telah menyiapkan opsi militer berupa gelombang serangan yang "singkat namun sangat ampuh".
Fokus utama dari operasi ini dikabarkan menyasar infrastruktur vital di daratan Iran serta upaya paksa untuk membuka kembali Selat Hormuz bagi lalu lintas komersial.
Trump sendiri menegaskan bahwa posisi tawar AS saat ini berada di atas angin, namun ia tetap membuka peluang kesepakatan jika Teheran bersedia menghentikan ancamannya dan kembali ke meja perundingan dengan syarat ketat.
Dunia kini menanti apakah diplomasi masih memiliki celah, atau justru kawasan Timur Tengah akan benar-benar terjerumus ke dalam konfrontasi militer skala penuh yang dapat mengubah peta kekuatan geopolitik secara permanen.
(Kompas/Tribunnews)