TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, LAMPUNG TENGAH – Kondisi ekonomi dan sosial di Kabupaten Lampung Tengah tengah berada dalam momentum krusial pada periode April-Mei 2026.
Di tengah tren kenaikan harga singkong yang kian pedas di tingkat petani, gelombang massa buruh dari daerah ini juga bergerak menuju Ibu Kota untuk menyuarakan tuntutan kesejahteraan dalam peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day yang berpusat di Monas, Jakarta.
Ketua PPUKI Lampung Tengah, Dasrul Aswin, mengungkapkan, saat ini singkong tengah menjadi barang langka di pasaran karena banyak petani yang mulai beralih ke tanaman lain seperti tebu, jagung, atau sawit.
Namun, kelangkaan ini justru membawa berkah bagi petani yang masih bertahan, terlebih masuknya musim kemarau menjadi momentum krusial karena kadar air yang sulit didapat justru berpotensi menaikkan kadar aci atau pati dalam umbi singkong.
"Sekarang harga singkong mencapai Rp 1.650 per kilogram dengan potongan rafaksi antara 18 sampai 25 persen, sehingga petani bisa mengantongi keuntungan bersih seribu rupiah lebih per kilogramnya," ujar Dasrul Aswin, Jumat (1/5/2026).
Menurutnya, kenaikan harga ini dipicu oleh menipisnya stok barang di tingkat petani serta kebijakan pembatasan impor tepung tapioka oleh pemerintah yang memaksa industri lokal menyerap produksi dalam negeri secara maksimal.
Di sisi lain, gairah ekonomi di sektor pertanian tersebut berbarengan dengan gerakan massa buruh yang memilih mengosongkan aksi di daerah untuk memusatkan aspirasi di Jakarta pada 1 Mei 2026.
Dasrul menyebutkan, organisasinya pun turut andil dalam rombongan tersebut sebagai bentuk solidaritas sesama pekerja.
"Kami yang juga sebagai buruh hari ini pun turut ke Monas bersama buruh lain, kami berangkat dua bus untuk bergabung dengan ribuan buruh lainnya," kata Dasrul menambahkan.
Senada dengan hal tersebut, Anggota Fhukatan KSBSI Lampung Tengah, Ponijan, menyatakan ribuan buruh dari Lampung Tengah sengaja merayakan May Day bersama Presiden RI di Monas untuk memastikan pesan mereka sampai ke pusat kekuasaan.
"Ada ribuan buruh Lampung Tengah yang berangkat ke Monas, merayakan May Day bersama Presiden RI. Untuk di Lampung Tengah tidak ada aksi, semua fokus satu titik di Jakarta," tutur Ponijan.
Ponijan menegaskan kehadiran mereka di Jakarta bukan sekadar agenda tahunan yang bersifat seremonial, melainkan membawa misi besar terkait pengawalan regulasi dan keadilan upah di daerah.
"Aspirasi kami tahun ini sangat spesifik, kami mendesak revisi UU Ketenagakerjaan segera dilakukan karena masih banyak celah yang merugikan kawan-kawan di lapangan," ucapnya.
Selain isu nasional, persoalan upah lokal di Lampung Tengah menjadi poin panas yang dibawa para buruh ke tingkat pusat, mengingat hilangnya struktur upah tertentu yang selama ini menjadi sandaran hidup buruh daerah.
"Kami menuntut pemerintah untuk membentuk kembali UMK Lampung Tengah yang hilang dan segera membentuk UMSK, karena ini soal keadilan distribusi kesejahteraan bagi buruh di daerah," tegas Ponijan terkait hilangnya instrumen upah sektoral tersebut.
Isu keselamatan kerja dan jaminan sosial juga tidak luput dari perhatian massa buruh Lampung Tengah dalam orasi yang akan disampaikan di Jakarta.
Ponijan mengingatkan nyawa buruh tidak boleh menjadi tumbal dari target produksi perusahaan tanpa adanya perlindungan yang memadai.
"Perlindungan pekerja harus optimal, mulai dari seluruh pekerja yang wajib didaftarkan BPJS Ketenagakerjaan dan Kesehatan, hingga fasilitas K3 yang harus sesuai standar karena nyawa buruh tidak boleh dipertaruhkan," jelasnya.
Ponijan juga menyoroti pentingnya pemberantasan korupsi sebagai kunci kesejahteraan rakyat, termasuk kaum buruh, dengan menagih janji pengesahan regulasi perampasan aset.
"Kami juga meminta Presiden segera mengesahkan UU Perampasan Aset sesuai janji beliau, karena kami percaya jika aset negara tidak dirampas koruptor, kesejahteraan buruh bisa lebih terjamin melalui subsidi dan jaminan sosial yang lebih baik," pungkasnya.
( TRIBUNLAMPUNG.CO.ID / Fajar Ihwani Sidiq )