Didatangi Polisi hingga Dihadang Preman, Petani Way Kanan Lampung Tetap Tembus Aksi May Day
soni yuntavia May 01, 2026 10:28 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Upaya puluhan petani dari Way Kanan untuk mengikuti aksi Hari Buruh Internasional (May Day) di Bandar Lampung sempat dihadang berbagai kendala, mulai dari upaya pencegahan hingga intimidasi di lapangan.

Ketua Umum Forum Komunitas Petani Bersama (FKPB), Hadi Sutrisno, mengungkapkan, pihaknya sempat didatangi aparat kepolisian pada sore hari sebelum keberangkatan.

Menurut Hadi, kedatangan tersebut bertujuan agar massa tidak melanjutkan rencana aksi.

“Memang benar, sore itu kami didatangi Intel Polsek untuk upaya penggagalan agar kami tidak melanjutkan aksi May Day hari ini,” ujar Hadi saat diwawancara di Tuguadipura Bandar Lampung, Jumat (1/5/2026).

Namun, pihaknya menolak imbauan tersebut. Ia menegaskan bahwa peringatan May Day merupakan hak rakyat, khususnya buruh dan petani.

“Kami bantah, karena May Day ini adalah hari pergerakan rakyat, bukan hanya buruh saja. Tidak ada instansi yang berhak menghalangi,” tegasnya.

Setelah pertemuan tersebut, rombongan petani tetap mempersiapkan keberangkatan pada malam hari sekitar pukul 20.00 WIB dari Kecamatan Negara Batin, Way Kanan.

Namun, kendala kembali muncul saat armada yang akan menjemput mereka justru dihadang oleh sekelompok orang tak dikenal.

“Mobil yang akan menjemput kami dihadang sejumlah preman di tengah jalan. Sopir sempat dinego, bahkan ditawari uang agar tidak menjemput massa,” kata Hadi.

Karena situasi tersebut, sopir akhirnya memilih putar balik demi menghindari risiko.

Tak menyerah, puluhan petani tersebut kemudian mencari alternatif transportasi.

Hingga akhirnya mereka mendapatkan bantuan mobil pickup milik warga setempat.

“Semalam kami tetap bertahan sekitar 50 orang. Lalu ada tetangga yang punya mobil pickup, kami ajak. Tapi harus dikawal karena tidak berani jalan sendiri,” jelasnya.

Keesokan paginya, sekitar pukul 07.00 WIB, rombongan akhirnya berangkat dengan pengawalan hingga tiba di lokasi aksi.

Namun, karena keterbatasan kendaraan, jumlah massa yang berhasil berangkat berkurang drastis.

“Awalnya 50 orang, yang berangkat hanya 21 orang karena keterbatasan kendaraan,” ungkapnya.

Hadi juga menyampaikan kondisi buruh dan petani di daerahnya masih menghadapi berbagai persoalan, mulai dari ketimpangan sosial hingga kebijakan yang dinilai belum berpihak.

“Mayoritas anggota kami petani, sekitar 80 persen. Mereka juga merasakan tekanan, baik sebagai buruh maupun petani, termasuk diskriminasi dari kebijakan yang ada,” tandasnya.


( Tribunlampung.co.id / Riyo Pratama ) 



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.