HARGA Eceran Tertinggi Minyakita Segera Naik! HET Berubah dalam Waktu Dekat, Ini Kata Kemendag
Anak Agung Seri Kusniarti May 01, 2026 11:03 PM

TRIBUN-BALI.COM – Harga bahan pangan berpotensi mengalami kenaikan seiring melonjaknya harga plastik di dalam negeri. Salah satu komoditas yang terdampak adalah minyak goreng kemasan sederhana, Minyakita.

Kementerian Perdagangan (Kemendag) menyatakan segera menaikkan Harga Eceran Tertinggi (HET) MinyaKita dalam waktu dekat. Wacana perubahan HET MinyaKita dari Rp 15.700 per liter bergulir seiring kenaikan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO). 

“Nah target kita tuh dalam waktu dekat kita akan menyesuaikan HET,” kata Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag Iqbal Shoffan Shofwan saat ditemui di kawasan Mega Kuningan, Jakarta, Kamis (30/4). 

Iqbal mengatakan, Rapat Koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memerintahkan Kemendag menyusun kajian keekonomian menyangkut HET MinyaKita. Menurutnya, HET minyak goreng rakyat itu harus segera diselesaikan karena pengusaha sudah berkorban banyak. 

Baca juga: UANG Puluhan Juta & Perhiasan Emas Nyo Ing Hong Raib, Korban Kena Tipu Modus Hipnotis di Buleleng

Baca juga: SUNGGUH Pilu, Balita 4 Tahun di Padangbulia Tewas Tenggelam di Proyek dalam Bak Penampungan Air!

“Ini sih seharusnya lebih cepat ya karena pengorbanan pelaku usaha dalam konteks HET ini semakin melebar,” ujar Iqbal seperti dilansir Kompas.com. 

Meski demikian, ia belum menyebut berapa kenaikan HET MinyaKita. Ia hanya mengatakan HET disesuaikan dengan harga CPO saat ini. Kalangan produsen minyak goreng menginginkan harga HET disesuaikan, mengingat kenaikan bukan hanya terjadi pada CPO. “Banyak lagi harga-harga penunjang lainnya yang memang harus disesuaikan dengan harga saat ini. Makanya memang kita harus menyesuaikan harga itu,” tutur Iqbal. 

Saat ini, Kemendag telah menerima beberapa masukan terkait besaran kenaikan harga MinyaKita. Kemendag menjadwalkan rapat koordinasi di Kementerian Koordinator Bidang Pangan bersama Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). “Kayaknya minggu depan saya mau panggil rapat untuk Kemenko Pangan, BPKP, dan segala macam,” kata Iqbal. 

Harga CPO yang menjadi bahan baku minyak goreng merangkak naik imbas perang di Barat (Timur Tengah). Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan, pada kuartal kedua 2026, harga CPO di pasar global naik dari 1.165 dollar AS menjadi 1.440 dollar AS per ton pada April.

Harga sawit terus meningkat pada Mei menjadi 1.701 dollar AS per ton dan 1.783 dollar AS per ton pada Juni 2026. Perang membuat harga minyak bumi melonjak, mendorong banyak negara beralih menggunakan CPO untuk bahan baku biodiesel. “Tekanan harga global berpotensi memberi efek nyata pada pasar domestic,” tulis IPOSS.

Iqbal juga menanggapi keluhan perusahaan negara, PT Perum Bulog yang menyebut stok MinyaKita terbatas karena belum kembali dipasok oleh produsen minyak goreng. Iqbal mengatakan kewajiban produsen dalam menyalurkan MinyaKita ke perusahaan BUMN minimal 35 persen. 

“Kewajiban produsen pasok minimal 35 persen ke BUMN Pangan dan/atau Perum Bulog,” kata Iqbal saat dihubungi Kompas.com, Selasa (28/4).

Berdasarkan data Kemendag, jumlah keseluruhan penyaluran MinyaKita ke BUMN Pangan sudah lebih dari 48 % . Sementara, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 43 Tahun 2025 hanya mengatur batas minimal penyaluran melalui BUMN Pangan. 

“Secara kumulatif, Januari-Maret, produsen telah menyalurkan lebih 48 % ke BUMN Pangan dan/atau Perum Bulog. Di atas kewajiban minimal 35 % ,” tambahnya.

Keluhan mengenai keterbatasan stok MinyaKita sebelumnya disampaikan Kadiv Perencanaan Operasi dan Analisa Harga Pasar Bulog Muhammad Wawan Hidayanto dalam Rapat Koordinasi Inflasi yang disiarkan di YouTube Kementerian Dalam Negeri, Senin (27/4).

Wawan mengungkapkan kondisi itu timbul karena produsen belum kembali memasok MinyaKita ke Bulog. “Untuk stok MinyaKita komersial di beberapa wilayah memang sangat terbatas, belum ada tambahan pasokan lagi dari produsen,” kata Wawan. (ali/kontan)

Bulog Percepat Distribusi 

Perum Bulog mempercepat distribusi Minyakita untuk menjaga stabulitas pasokan dan harga di tingkat pasar.  Direktur Operasi Perum Bulog Andi Afdal menegaskan pihaknya secara konsisten memastikan penyaluran Minyakita tetap menjangkau masyarakat melalui berbagai saluran distribusi.

“Distribusi Minyakita tetap kami jalankan secara terukur dan berkelanjutan. Bulog juga terus memperkuat koordinasi dengan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan kelancaran pasokan di berbagai wilayah terlebih di wilayah yang memiliki tantangan medan distribusi seperti di Indonesia Timur,” ujar Andi Afdal dalam keterangan resminya, Jumat (1/5). 

Lebih lanjut Andi Afdal mengatakan bahwa penyaluran Minyakita oleh Bulog dilakukan melalui berbagai saluran dan jaringan. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keterjangkauan harga serta memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses terhadap minyak goreng bersubsidi.

Bulog juga terus mendorong penguatan sistem distribusi yang lebih efisien dan tepat sasaran serta menambah kapasitas gudang penyimpanan minyak. Upaya ini bertujuan untuk meningkatkan akses masyarakat, menjaga stabilitas harga sesuai ketentuan dan memastikan distribusi lebih merata. Sebagai bagian dari ekosistem pangan nasional, Bulog berkomitmen untuk terus menjaga stabilitas pasokan dan harga, termasuk komoditas minyak goreng rakyat.

“Bulog akan terus hadir menjalankan mandat pemerintah dalam menjaga ketersediaan dan keterjangkauan pangan bagi masyarakat,” jelas Andi Afdal. (kontan)

Dampak Pergerakan Harga Minyak Dunia

Pengamat Pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai, kenaikan harga plastik dapat mendorong naiknya biaya produksi, khususnya dari sisi kemasan. Namun demikian, ia belum dapat memastikan besaran kenaikan harga Minyakita yang mungkin terjadi karena masih perlu perhitungan lebih lanjut.

“Perlu dihitung dulu, porsi biaya kemasan terhadap total ongkos produksi itu berapa persen. Karena ongkos produksi itu komponennya banyak, salah satunya kemasan,” ujar Khudori, Kamis (23/4).

Khudori menjelaskan, dampak kenaikan harga plastik terhadap harga jual juga sangat bergantung pada kondisi pasar. Jika harga plastik kembali turun, maka tekanan terhadap harga Minyakita juga bisa mereda. Selain itu, faktor lain seperti pergerakan harga minyak dunia dan nilai tukar rupiah juga akan sangat menentukan.

“Kalau harga minyak naik, ya harga ikut naik. Apalagi kalau pada saat yang sama rupiah melemah, tentu biaya produksi akan semakin mahal,” jelasnya.

Khudori pun mendorong pemerintah untuk menyiapkan skenario harga yang adaptif di tengah volatilitas global, terutama akibat dampak konflik geopolitik yang memengaruhi harga energi dan bahan baku. “Perlu ada skenario, misalnya selama periode tertentu harga tertinggi dan terendahnya berapa, supaya ada acuan,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia juga menilai harga eceran tertinggi (HET) Minyakita saat ini sebesar Rp15.900 per liter perlu dikaji ulang karena dinilai tidak lagi mencerminkan kondisi biaya produksi terkini. “Sudah berkali-kali saya sampaikan, ongkos produksi Minyakita itu sudah melampaui HET yang ditetapkan. Jadi perlu evaluasi,” tegas Khudori. (kontan)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.