TRIBUNJATENG.COM, KENDAL - Pelaku industri di Kabupaten Kendal kini dihadapkan pada persoalan serius terkait aktivitas ekspor impor.
Selama ini, mereka menggunakan pelabuhan Tanjung Emas Semarang sebagai pintu utama perekonomian.
Tapi para pelaku industri itu mulai merasakan dermaga di sana lebih sesak, yang dinilai tak lagi mampu menampung lonjakan aktivitas ekspor dan impor dari kawasan industri di Jawa Tengah.
Presiden Direktur PT BTR yang berada di Kawasan Industri Kendal (KIK), Wu Lei, jadi salah satu yang kena getahnya.
Baca juga: Tawuran Pelajar di Kudus: Ada yang Tersungkur dan Dipukuli
Baca juga: Jelang Akreditasi, RSUD Kajen All Out Bangun Budaya Keselamatan Pasien
Grafit anoda dari Sulawesi untuk bahan baku baterai litium-ion harus menunggu antrean 5-7 hari sebelum bisa masuk ke pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
"Padahal bahan baku untuk baterai litium-ion yang kami produksi ini sangat kami tunggu. Karena harus menunggu lama, proses produksi tidak bisa maksimal,” kata Wu Lei, Senin (4/5/2026).
Wu Lei mengaku, 2-3 tahun lalu kapal masih bisa bongkar muat setiap hari.
Menurut dia, sekarang kondisi di dermaga Tanjung Emas tak lagi mampu menampung lonjakan kawasan industri di Jateng.
Imbasnya, PT BTR yang kini ekspor 600 kontainer per bulan harus menahan target 800 kontainer.
"Kalau bongkar muat lancar, kami bisa naikkan. Kami rasa pemerintah perlu menyiapkan solusi," imbuhnya.
Tak cuma BTR. Executive Vice President PT Matahari Tire Indonesia, Wu Yuejun, juga pusing.
Kapal bahan baku dari Amerika Serikat dan Vietnam yang memasok bahan baku ke pabriknya kini rutin antre 5 hari.
Dia mengatakan, setiap bulan, 1.000 kontainer ban jumbo harus dikirim ke Amerika dan Brasil.
Dia khawatir, keterlambatan ekspor dalam rentan waktu 2-3 hari yang kerap dialami bakal berpengaruh pada perusahaannya.
“Keterlambatan tersebut jelas berdampak pada kelancaran produksi,” ucapnya.
Adapun General Manager Polygroup Manufaktur Indonesia, Nicholas Lau, lebih cemas lagi.
Saat musim puncak ekspor pada Juni-September, arus barang bisa 300-400 kontainer per hari.
Lau mengatakan, pabrik miliknya mampu mengekspor 1.000 kontainer per bulan dengan target ke depan diproyeksikan mencapai 3.000 kontainer.
"Dengan kondisi saat ini, para investor khawatir hambatan logistik akan semakin besar jika tidak segera diatasi," imbuhnya.
Fungsikan Pelabuhan Niaga
Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari keterbatasan kapasitas pelabuhan saat ini menjadi tantangan bagi daerah dengan kawasan industri yang tengah berkembang pesat.
Ia mengungkapkan, sekitar 70 persen jalur pasokan ekspor dan impor masih bergantung pada Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta. Sementara 30 persen lain melalui Tanjung Emas Semarang.
Bupati yang akrab disapa Tika menambahkan, kedua titik vital itu sama-sama menghadapi persoalan kepadatan.
"Di Tanjung Emas antrean bisa sampai berhari-hari, bahkan hingga satu minggu. Ini tentu berdampak pada efisiensi industri," terangnya.
Tika menuturkan, Pemkab Kendal telah mendorong adanya pengembangan pelabuhan niaga baru di wilayahnya sebagai solusi jangka panjang.
Pelabuhan yang terletak berdampingan dengan pelabuhan Kendal itu, kini dalam kondisi mangkrak bertahun-tahun sejak dibangun pada 2016.
Kendalanya cukup kompleks, kapal kargo membutuhkan kedalaman sekitar 7 meter untuk bersandar ke pelabuhan.
Adapun kondisi di pelabuhan niaga saat ini hanya memiliki kedalaman sekitar 2,5 meter akibat pendangkalan sedimentasi.
"Kami terus berupaya dan mendorong agar pelabuhan niaga di Kendal bisa beroperasi. Ini penting untuk mendukung aktivitas industri yang terus berkembang," sambungnya.
Tika menilai, keberadaan 2 pelabuhan di Kendal itu akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan.
"Kalau pelabuhan ini terealisasi, distribusi barang akan lebih efisien dan biaya logistik bisa ditekan. Dampaknya tentu akan luas bagi berbagai sektor," tandasnya.
Di sisi lain, Sekretaris Kementerian Koordinator (Sesmenko) Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso saat kunjungan di Kendal juga telah menerima keluhan dari pelaku usaha terkait tingginya dwelling time dan port stay time di pelabuhan.
Menurutnya, kondisi itu tidak bisa dibiarkan di tengah tuntutan efisiensi industri yang terus berkembang.
“Kami sudah berdiskusi dengan berbagai pihak, dan minggu depan akan dilakukan pembahasan khusus untuk mencari solusi,"
"Semua stakeholder akan kita undang, mulai dari operator pelabuhan, bea cukai, hingga instansi terkait lainnya." ungkapnya.
Dia mengatakan, di tengah gangguan rantai pasok global, Indonesia justru harus memastikan sistem logistik dalam negeri berjalan lancar dan efisien.
Hal ini penting untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus mendukung pertumbuhan industri.
"Kalau logistik kita tidak efisien, ini bisa mengurangi daya saing. Karena itu pembenahan harus segera dilakukan," terangnya.
Kejar Investasi
Di tengah ketidakpastian global akibat ekskalasi perang Iran - Amerika, pemerintah justru tancap gas memburu investasi.
Susiwijono mengatakan kawasan Timur Tengah kini menjadi incaran utama, khususnya untuk sektor industri manufaktur dan keuangan.
Dia menambahkan, ide itu tercetus dalam forum Indonesia Financial Center di Bali beberapa waktu lalu yang dihadiri Menteri Investasi Rosan Roeslani.
Menurutnya, langkah ini dilakukan untuk mendorong target pertumbuhan ekonomi menuju Indonesia Emas 2045.
"Pemerintah justru mendorong investasi pada saat situasi global yang saat ini tidak mudah, dan penuh ketidakpastian,"
"Justru kita berharap menarik beberapa investasi khususnya dari kawasan Timur Tengah, industri manufaktur maupun keuangan." sambungnya.
Susiwijono menuturkan, pemerintah telah menargetkan kontribusi industri manufaktur nasional bisa mencapai 30 persen.
"Karena pengalaman negara maju, semua kontribusi industri manufaktur antara 30-40 persen. Kita upayakan Indonesia Emas 2045," tuturnya.
Selain itu, dia menyebut Presiden Prabowo mendukung penuh pengawalan investasi dengan dibentuknya tim Satgas Pertumbuhan Ekonomi. Dia mengatakan, dukungan itu juga telah tertuang dalam Keppres Nomor 4 Tahun 2026.
Keppres itu dibentuk untuk mengakselerasi program pemerintah, termasuk paket ekonomi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Lebih lanjut, dia menjelaskan jika di dalam Keppres itu memberikan kemudahan investasi kepada investor, termasuk kesulitan suplai bahan baku industri.
"Termasuk pelaku usaha, kalau ada masalah kita ada penyelesaian di forum menteri. Nah kalau di KEK Kendal ini ada kendala, kita bantu selesaikan."
"Para pelaku usaha akan kami dampingi jika memang butuh policy. Kita siapkan solusi investasi." jelasnya
Menurut dia, secara nasional investasi berkontribusi sekitar 28 persen terhadap PDB dengan industri manufaktur jadi andalan utama investasi.
"Melalui Satgas Pertumbuhan Ekonomi ini kita sudah diperintahkan untuk mengawal seluruh investasi di Indonesia," sambungnya.
Susiwijono menambahkan, capaian pertumbuhan ekonomi di Kabupaten Kendal telah mencapai 7,99 persen di tahun 2025. Capaian ini melampaui pertumbuhan ekonomi nasional yang hanya tembus 5,11 persen.
Dia pun mendukung penuh langkah KEK Kendal yang saat ini tengah berekspansi memperluas kawasan industri tahap 2 yang mencapai 1000 hektar.
"Khusus Kabupaten Kendal, capaian ekonominya dinilai sangat bagus. Kita juga mendorong dorong untuk perluasan di KEK Kendal, dan kami juga minta dukungan bupati dan Pemprov Jateng," tandasnya. (ags)