TRIBUNJAKARTA.COM, CILINCING - Kemacetan parah terjadi di kawasan Jembatan Rorotan, Jalan Inspeksi Kanal Banjir Timur, Cilincing, Jakarta Utara, pada Senin (4/5/2026) pagi tadi.
Kondisi ini membuat warga memilih berjalan kaki, sementara sejumlah pengendara sepeda motor terlibat adu mulut akibat situasi lalu lintas yang tak bergerak.
Jembatan Rorotan merupakan jalur penghubung antara wilayah Bekasi dan DKI Jakarta.
Jalan ini menjadi akses vital bagi masyarakat yang beraktivitas dari dan menuju ibu kota setiap hari.
Pantauan di lokasi pada Senin pagi tadi menunjukkan antrean kendaraan mengular panjang sejak pagi hari.
Bahkan, kemacetan berlangsung lebih dari dua jam hingga membuat arus lalu lintas nyaris lumpuh total.
Sejumlah pengendara sepeda motor terlihat tidak sabar dan emosi.
Adu mulut pun sempat terjadi antara pengendara dengan warga yang berinisiatif mengatur lalu lintas di tengah kemacetan.
Akibat kondisi tersebut, sebagian warga memilih berjalan kaki demi mengejar aktivitas mereka.
Salah satunya Umayroh, warga setempat, yang terpaksa meninggalkan sepeda motornya karena kemacetan tak kunjung terurai.
"Saya dari jam tujuh sudah kena macet. Sudah sekitar dua jam. Mau ke posyandu, jadi terpaksa jalan kaki karena lama banget macetnya," kata Umayroh di lokasi.
Ia mengaku kemacetan memang kerap terjadi di kawasan tersebut, namun kondisi kali ini dinilai jauh lebih parah dari biasanya.
"Sering macet, tapi ini parah banget. Kalau hujan juga biasanya begini. Aktivitas jadi terganggu, ribet banget," ujarnya.
Hal serupa disampaikan Helmy, pengendara sepeda motor yang setiap hari melintas di kawasan tersebut.
Ia mengaku dirugikan karena terlambat sampai ke tujuan.
"Parah ini, hari ini parah banget. Aktivitas jelas terganggu, saya jadi telat," kata Helmy.
Menurutnya, kemacetan dipicu oleh kondisi jalan yang sempit serta volume kendaraan yang melebihi kapasitas.
Selain itu, adanya perbaikan di Jalan Raya Bekasi membuat pengendara mencari jalur alternatif, termasuk melintasi Rorotan.
"Kendaraan sudah overload. Jalannya kecil, sudah nggak sesuai. Harapannya pemerintah turun langsung, lihat kondisi ini. Tadi juga nggak ada petugas yang atur," ujarnya.
Sementara itu, warga lain bernama Adung mengatakan kemacetan diperparah oleh pengendara yang tidak mau mengalah dan kondisi kelelahan warga yang membantu mengatur lalu lintas.
"Sudah terlalu macet, jadi susah diatur. Semua pengen cepat, jadi makin semrawut," ucapnya.
Pengendara lainnya, Aji, juga menyebut kemacetan kerap terjadi di titik perempatan jembatan yang menjadi bottleneck arus kendaraan.
"Biasanya memang di perempatan jembatan itu. Ini parah, saya sudah setengah jam lebih antre," katanya.
Warga dan pengguna jalan berharap pemerintah segera memberikan solusi jangka panjang untuk mengatasi kemacetan di kawasan tersebut.
Pasalnya, kondisi ini dinilai semakin parah dan merugikan masyarakat yang bergantung pada jalur tersebut setiap hari.