SURYA.CO.ID SURABAYA - Pertandingan Persebaya Surabaya melawan PSBS Biak di Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (2/5/2026), bukan hanya soal kemenangan 4-0. Ada kisah menyentuh dari tiga Bonek tunanetra yang hadir langsung di tribun.
Laga Persebaya melawan PSBS Biak menghadirkan cerita berbeda di tribun. Tiga Bonek tunanetra, Dewa serta kakak beradik Brian dan Ade, datang langsung ke stadion untuk pertama kalinya.
Mereka berasal dari Surabaya dan ingin merasakan atmosfer pertandingan Bajol Ijo secara nyata. Kehadiran mereka membuktikan bahwa cinta terhadap sepak bola mampu menembus segala keterbatasan.
Dengan keterbatasan penglihatan, mereka tetap menemukan cara menikmati pertandingan. Sepak bola bagi mereka bukan hanya apa yang terlihat, tetapi apa yang bisa dirasakan melalui suara, getaran, dan kebersamaan.
Dewa mengungkapkan, dirinya tetap bisa mengikuti jalannya pertandingan dengan cara berbeda.
“Kami menikmati pertandingan dari suara komentator. Dari situ kami bisa memahami jalannya permainan dan membayangkan apa yang terjadi di lapangan,” ujarnya.
Baca juga: Milos Raickovic Jadi Motor Lini Tengah Persebaya Surabaya, Kritik Bonek Terjawab
Pria yang juga guru di Gerakan Tunanetra Mengaji itu menambahkan, imajinasi menjadi kunci utama dalam menikmati sepak bola.
“Kalau sudah hafal nama-nama pemain, kami bisa tahu siapa yang menguasai bola. Dari situ kami membangun gambaran sendiri di pikiran, seperti menonton dengan cara kami,” tuturnya.
Pertandingan berakhir manis bagi Persebaya dengan kemenangan telak 4-0. Hasil itu menambah kebahagiaan yang dirasakan Dewa dan kedua rekannya.
Ia mengaku momen tersebut menjadi pengalaman tak terlupakan. Tidak hanya menyaksikan kemenangan, tetapi juga merasakan langsung energi tribun yang selama ini hanya bisa dibayangkan.
“Senang sekali bisa jadi bagian dari suporter di stadion. Saya suka suasananya, apalagi saat semua menyanyikan Song for Pride bersama. Rasanya merinding,” katanya.
Baca juga: Persebaya Siap Jor-joran, 6 Nama Masuk Daftar Belanja Bintang Timnas Jadi Kejutan
Kehadiran tiga Bonek tunanetra menunjukkan bahwa sepak bola adalah ruang terbuka bagi siapa saja. Tidak ada batas untuk merasakan cinta terhadap klub kebanggaan.
Di tengah gemuruh stadion, nyanyian yang menggema, dan semangat yang mengalir tanpa henti, mereka menikmati setiap detik dengan cara mereka sendiri.
Suara menjadi panduan, rasa menjadi penguat, dan kebersamaan menjadi jembatan. Karena pada akhirnya, Persebaya untuk semua.
Kisah Dewa, Brian, dan Ade menjadi simbol inklusivitas dalam sepak bola. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi semangat mendukung tim kesayangan.
Atmosfer stadion yang penuh nyanyian dan sorakan menjadi pengalaman baru bagi mereka. Energi itu membuat mereka merasa benar-benar menjadi bagian dari keluarga besar Bonek.
Bonek lain yang hadir juga memberikan dukungan moral. Mereka menyambut hangat kehadiran tiga suporter tunanetra tersebut, memperlihatkan solidaritas khas Persebaya.
Momen ini mempertegas bahwa Persebaya bukan hanya klub sepak bola, melainkan ruang kebersamaan. Semua orang, tanpa terkecuali, bisa merasakan cinta yang sama.
Kemenangan 4-0 atas PSBS Biak menjadi latar yang sempurna bagi kisah ini. Bajol Ijo tampil dominan, sementara di tribun ada cerita yang lebih besar dari sekadar skor.
Kehadiran tiga Bonek tunanetra menjadi pengingat bahwa sepak bola adalah bahasa universal. Suara dan rasa mampu menggantikan penglihatan, menciptakan pengalaman yang tetap utuh.
Bagi Dewa dan rekannya, ini bukan sekadar pertandingan. Ini adalah momen pembuktian bahwa mereka bisa menikmati sepak bola dengan cara mereka sendiri.
Cerita ini juga menjadi inspirasi bagi suporter lain. Bahwa dukungan tidak selalu harus sempurna secara fisik, tetapi harus tulus dari hati.
Atmosfer stadion Gelora Bung Tomo hari itu menjadi saksi cinta tanpa batas. Nyanyian “Song for Pride” menggema, menyatukan semua suporter dalam satu suara.
Persebaya Surabaya kembali membuktikan bahwa klub ini bukan hanya tentang kemenangan di lapangan. Lebih dari itu, Persebaya adalah tentang kebersamaan dan cinta yang merangkul semua orang.