Eskalasi Cepat di Teluk: Kapal Korea Selatan Terbakar, UEA Hadapi Serangan Udara
TRIBUNNEWS.COM - Ketegangan di kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Selat Hormuz, kembali meningkat dalam beberapa jam terakhir, ditandai dengan serangkaian insiden yang melibatkan kapal komersial dan ancaman serangan lintas negara.
Sebuah kapal kargo milik Korea Selatan dilaporkan mengalami ledakan dan kebakaran saat melintas di Selat Hormuz.
Baca juga: Operasi Maritim AS di Hormuz Dimulai: Sembilan Kapal Tercatat Melintas. Iran Siaga Penuh
Juru bicara perusahaan pelayaran HMM menyatakan kepada Reuters bahwa api muncul di ruang mesin kapal dan penyebabnya masih dalam penyelidikan.
Kementerian Luar Negeri Korea Selatan juga mengonfirmasi insiden tersebut, menyebutkan kapal membawa 24 awak, terdiri dari 18 warga negara asing dan enam warga Korea Selatan.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya ketegangan di jalur pelayaran strategis tersebut, yang selama ini menjadi titik krusial distribusi energi global.
Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab dan dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Situasi semakin memanas setelah Uni Emirat Arab (UEA) mengeluarkan peringatan darurat terkait potensi serangan rudal di sejumlah wilayahnya, termasuk Dubai, Sharjah, dan Ajman.
Peringatan ini menjadi yang pertama sejak Amerika Serikat dan Iran menyepakati gencatan senjata beberapa pekan lalu, sebelum akhirnya status dinyatakan aman kembali.
Sebelumnya, UEA mengecam apa yang disebut sebagai “serangan teroris Iran” terhadap kapal tanker milik Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) yang melintas di Selat Hormuz.
Kementerian Luar Negeri UEA menyebut kapal tersebut menjadi target dua drone, meski tidak menimbulkan korban jiwa.
Dalam perkembangan lanjutan, Kementerian Pertahanan UEA menyatakan sistem pertahanan udaranya tengah menghadapi serangan rudal dan drone yang datang dari arah Iran.
Dalam pernyataan resminya, disebutkan bahwa suara ledakan yang terdengar di sejumlah wilayah merupakan hasil intersepsi terhadap rudal balistik, rudal jelajah, dan pesawat tanpa awak.
Serangan juga dilaporkan berdampak pada infrastruktur energi.
Kantor Media Fujairah menyebut terjadi kebakaran besar di fasilitas industri minyak di wilayah tersebut setelah serangan drone. Insiden ini terjadi tidak lama setelah laporan peluncuran beberapa rudal ke arah wilayah UEA.
Rangkaian peristiwa ini menandai eskalasi baru di kawasan yang sebelumnya sempat mereda pasca kesepakatan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan bahwa situasi di Selat Hormuz kembali berada dalam kondisi rawan, dengan potensi meningkatnya konfrontasi militer yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas regional dan pasokan energi global.
(oln/rtrs/*)