Eskalasi Meningkat, Israel Siaga Tinggi untuk Kemungkinan Perang dengan Iran Kembali Dimulai
Febri Prasetyo May 05, 2026 01:38 PM

TRIBUNNEWS.COM - Tentara Israel mengatakan mereka berada dalam keadaan siaga tinggi untuk kemungkinan dimulainya kembali perang dengan Iran di tengah meningkatnya eskalasi antara Teheran dan Amerika Serikat (AS) di Selat Hormuz.

Stasiun televisi publik, KAN, mengatakan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mengadakan "serangkaian konsultasi keamanan" sepanjang hari Senin (4/5/2026) untuk membahas situasi di Teluk.

Ketegangan regional meningkat setelah AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang memicu pembalasan dari Teheran terhadap Israel, serta sekutu AS di Teluk, bersamaan dengan penutupan Selat Hormuz.

“Kami memantau situasi dan berada dalam keadaan siaga tinggi di tengah eskalasi di Teluk,” kata militer Israel dalam sebuah pernyataan, Senin, dikutip dari Anadolu Agency.

"Kami menegaskan bahwa tidak ada perubahan dalam instruksi Komando Pertahanan Dalam Negeri," jelasnya.

Gencatan senjata mulai berlaku pada 8 April 2026 melalui mediasi Pakistan, tetapi pembicaraan di Islamabad gagal menghasilkan kesepakatan yang langgeng.

Gencatan senjata tersebut kemudian diperpanjang oleh Presiden AS Donald Trump tanpa batas waktu yang ditentukan.

Sejak 13 April, Amerika Serikat telah memberlakukan blokade angkatan laut yang menargetkan lalu lintas maritim Iran di Selat Hormuz.

Sejumlah Usulan Iran

Usulan terbaru Iran yakni untuk mengakhiri perang menyerukan agar AS mencabut sanksi, mengakhiri blokade, dan menarik pasukan dari kawasan tersebut.

Para pejabat Iran mengatakan mereka sedang meninjau tanggapan AS, meskipun juru bicara Kementerian Luar Negeri Esmail Baghaei mengatakan kepada wartawan pada hari Senin bahwa perubahan tuntutan membuat diplomasi menjadi sulit. Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut.

Baca juga: Berhasil Halau Gempuran Iran, 2 Kapal Perusak AS Lintasi Selat Hormuz dan Memasuki Teluk Persia

Iran mengklaim bahwa proposalnya tidak mencakup isu-isu terkait program nuklirnya dan uranium yang diperkaya — yang sejak lama menjadi pendorong utama ketegangan dengan AS dan Israel.

Iran menginginkan isu-isu lain diselesaikan dalam waktu 30 hari dan bertujuan untuk mengakhiri perang daripada memperpanjang gencatan senjata.

Trump menyatakan keraguan pada akhir pekan bahwa proposal tersebut akan menghasilkan kesepakatan.

UEA Mengaku Diserang Iran

Uni Emirat Arab (UEA), sekutu utama AS, menuduh Iran menyerang negara itu dengan rentetan rudal dan drone, membakar kilang minyak di emirat Fujairah bagian timur dan melukai tiga warga negara India.

Serangan pada Senin (4/5/2026) menandai serangan pertama terhadap UEA sejak Iran dan Amerika Serikat menyepakati gencatan senjata pada 8 April 2026.

Hal itu terjadi setelah Presiden AS Donald Trump meluncurkan upaya baru untuk mengawal kapal tanker yang terdampar melalui Selat Hormuz, jalur pasokan energi vital yang sebagian besar telah ditutup sejak perang AS-Israel melawan Iran dimulai pada 28 Februari 2026.

Dilansir Al Jazeera, komando militer terpadu Iran telah memperingatkan kapal-kapal dagang agar tidak menerima tawaran AS dan mengatakan bahwa pasukan Amerika "akan diserang jika mereka berniat mendekati dan memasuki Selat Hormuz".

Kementerian Pertahanan UEA mengatakan bahwa sistem pertahanan udaranya "berhasil menghadang" 12 rudal balistik, tiga rudal jelajah, dan empat drone yang diluncurkan dari Iran sepanjang hari.

Kementerian Luar Negeri negara tersebut mengutuk keras "serangan Iran yang kembali terjadi dan tidak beralasan, yang menargetkan lokasi dan fasilitas sipil di negara tersebut".

Pihaknya menyatakan tidak akan mentolerir ancaman apa pun terhadap keamanan dan kedaulatan UEA dan memperingatkan bahwa mereka memiliki “hak penuh dan sah untuk menanggapi” serangan tersebut.

IRAN SERANG UEA - Eskalasi militer dilakukan Iran menyerang sejumlah titik di UEA.
IRAN SERANG UEA - Eskalasi militer dilakukan Iran menyerang sejumlah titik di UEA. (tangkapan layar/X @sozunozutv)

Sementara itu, Iran telah membantah tuduhan Uni Emirat Arab.

Stasiun televisi pemerintah IRIB mengutip sumber militer yang berpengetahuan luas yang mengatakan bahwa Iran "tidak memiliki program yang direncanakan sebelumnya untuk menyerang fasilitas minyak yang disebutkan".

Sumber tersebut menghubungkan insiden itu dengan "petualangan militer AS yang bertujuan untuk menciptakan jalur bagi transit ilegal kapal melalui jalur air terlarang di Selat Hormuz".

Sumber tersebut menambahkan bahwa “militer AS harus dimintai pertanggungjawaban atas hal ini”.

Negosiasi antara Iran dan AS mengalami kebuntuan sejak gencatan senjata dimulai pada 8 April, dengan program nuklir Teheran dan cengkeramannya di Selat Hormuz tetap menjadi poin perselisihan utama.

Gencatan senjata, yang dicapai melalui mediasi Pakistan, diikuti oleh pembicaraan langsung di Islamabad pada 11 April, tetapi tidak ada kesepakatan yang tercapai mengenai perdamaian yang langgeng.

Trump kemudian memperpanjang gencatan senjata tanpa menetapkan tenggat waktu baru, menyusul permintaan dari Pakistan.

(Tribunnews.com/Nuryanti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.