Siapa sih yang nggak suka siomay? Makanan ini jadi salah satu favorit bagi banyak orang. Biasanya, bahan utama siomay adalah ikan tenggiri, tetapi tetap ada saja oknum pedagang nakal yang menggunakan ikan sapu-sapu.
Hal ini memicu munculnya kekhawatiran dalam mengonsumsi siomay. Lalu, bagaimana membedakan siomay menggunakan ikan tenggiri dan yang memakai ikan sapu-sapu?
Nutrisionis Rita Ramayulis mengatakan salah satu cara paling mudah untuk membedakannya adalah dari bau atau aroma.
"Kalau ikan sapu-sapu nih kalau hidup di lingkungan tercemar, tubuhnya itu ketika toksik masuk itu mengeluarkan bau yang sangat amis. Tapi, kalau dia di Brasil, lingkungan yang sangat steril, dia nggak mengeluarkan bau amis banget," kata Rita di Sunset Talk program detikSore, Senin (4/5/2026).
"Jadi amisnya itu, amis ke arah busuk. Bukan amis ke ikan segar ya. Jadi kalaupun dia diolah, dikasih macam-macam bumbu, tetap aja menyengat," sambungnya.
Rita menambahkan, bau amis dari ikan sapu-sapu bahkan bisa terasa saat siomay atau produk olahan lain masuk ke mulut.
"Terus yang membedakan lagi, ikan sapu-sapu itu teksturnya sangat keras karena kandungan airnya rendah, kandungannya lemaknya rendah. Jadi nggak ada renyah-renyahnya, alot," kata Rita.
"Dia lebih dominan di protein mencapai 20 persen kan, sama mikronutrien lain. Jadi kalau kita gigit itu, rasa teksturnya itu berbeda sama siomay yang dari ikan tenggiri misalnya," sambungnya.
Untuk orang-orang yang memiliki lidah sensitif, Rita mengatakan akan ada sensasi seperti memakan logam, jika benar mengonsumsi siomay ikan sapu-sapu.
"Iya (kayak ada besinya) seperti itu. Ada zat yang berbeda aja di lidah gitu," tutupnya.
Namun, jika memang terlanjur mengonsumsi makanan-makanan mengandung logam berat seperti merkuri, tubuh bisa saja kewalahan. Sebenarnya tubuh memiliki mekanisme pertahanan diri menetralisir racun, melalui organ hati dengan enzim cytochrome P450 (CYP).
"Dia itu bisa membuat tekstur toksik yang besar jadi molekul kecil, yang semula nggak larut air jadi larut air, dia bisa lakukan itu. Tapi kan pertanyaannya, seberapa banyak dia bisa melakukan itu?" kata Rita.
Perlu diingat bahwa hati juga memiliki batas dalam menetralisir racun. Saat zat-zat toksik yang masuk ke tubuh sudah melewati batas, maka organ ini bisa menyerah dan rusak.
Pun dengan organ ginjal yang juga berperan dalam proses pengeluaran zat racun melalui proses filtrasi. Jika zat racun tersebut sudah terlampau banyak, maka muncul juga risiko kegagalan ginjal.





