TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK - Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) 2026 tingkat kecamatan di Kota Pontianak menyisakan kisah haru dari salah satu peserta yang tengah menapaki jalan sebagai penghafal Al-Qur’an.
Kisah haru itu datang dari Dimi Tree Gharin (16), peserta kategori tahfiz 5 juz ma’atilawah.
Remaja yang masih duduk di kelas 2 ini mengaku sempat mengalami kendala saat tampil.
“Tadi sempat kaget, nadanya sempat lari, terus ada lidah kepeleset sedikit salah baca ayat. Tapi alhamdulillah masih bisa lanjut sampai selesai,” ujarnya.
Di balik itu, Dimi menyimpan motivasi sederhana namun kuat. Ia mulai menghafal Al-Qur’an karena dorongan orang tua, namun seiring waktu justru menemukan kenyamanan tersendiri.
“Awalnya karena orang tua, tapi lama-lama saya merasa asyik dengan Al-Qur’an,” katanya.
Persiapan lomba ia matangkan dalam waktu enam hari, sementara untuk menghafal 5 juz membutuhkan waktu sekitar tiga bulan. Ia rutin menyetorkan hafalan kepada ustaz di pondok, dengan target ujian setiap satu juz.
“Biasanya satu juz itu dua minggu, tapi tetap diulang setiap hari supaya lancar,” tambahnya.
• MTQ Pontianak Bergulir, Ratusan Peserta Perebutkan Tiket ke Tingkat Kota
Menariknya, ini menjadi pengalaman pertama Dimi mengikuti MTQ. Kehadiran ustaz, pelatih, dan teman-temannya di lokasi lomba justru membuatnya lebih percaya diri.
“Karena banyak teman yang datang, jadi tidak terlalu grogi,” ungkapnya.
Cerita berbeda datang dari Fikriyatul Ummah (16), peserta tahfiz 5 juz ma’atilawah lainnya. Ia mengaku sempat merasa kesal saat tampil karena hafalannya tersendat hingga mendapat teguran dari dewan juri.
“Agak kesal karena sempat nyangkut di hafalan,” katanya.
Namun, di balik itu ada tekad yang tak kalah kuat.
Fikriyatul mengaku ingin menjadi hafizah karena kecintaannya pada Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pegangan hidup.
“Karena saya memang gemar membaca Al-Qur’an, dan ingin punya pegangan hidup,” ujarnya.
• MTQ Pontianak Tenggara Bukan Sekadar Lomba, Ini Tentang Perjuangan Menghafal Al-Qur’an
Berbeda dengan Dimi, perjalanan Fikriyatul dalam menghafal Al-Qur’an memakan waktu lebih lama.
Ia membutuhkan sekitar satu tahun untuk menyelesaikan hafalan 5 juz, mengingat sistem di pondoknya bukan khusus tahfiz, melainkan hanya kegiatan ekstrakurikuler.
“Jadi waktunya terbagi dengan pelajaran lain, tidak bisa fokus penuh,” jelasnya.
Meski begitu, ia tetap disiplin menghafal setiap hari, dengan durasi lebih dari dua jam yang dibagi antara pagi dan malam.
Sebelum menghafal, ia juga membiasakan diri membaca ayat berulang kali agar lebih mudah melekat.
Pengalamannya di dunia MTQ pun sudah cukup matang. Ia pernah mengikuti berbagai lomba, mulai dari tingkat kecamatan hingga provinsi, bahkan sempat meraih juara.
“Awalnya juga disuruh orang tua, tapi lama-lama jadi menikmati prosesnya,” pungkasnya.
!!!Membaca Bagi Pikiran Seperti Olahraga Bagi Tubuh!!