Pertama, SPBU Sawahan, Padang, Sumatera Barat mulai mengurangi stok harian sebagai imbas kenaikan harga Bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Diketahui, harga BBM non-subsidi seperti Dexlite, Pertamina Dex dan Pertamax Turbo naik kembali per 4 Mei 2026.
Kedua, Harga minyak goreng kemasan rakyat, Minyakita, di Pasar Raya Kota Padang terpantau stabil pada Selasa (5/5/2026).
Para pedagang mengaku tidak berani menaikkan harga di atas ketentuan karena pengawasan masyarakat yang kini semakin ketat.
Terakhir, manajemen Semen Padang FC melakukan penyesuaian harga tiket untuk dua laga kandang terakhir pada gelaran BRI Super League musim 2025/2026.
Kebijakan itu berlaku saat Kabau Sirah menjamu Persik Kediri dan Persebaya Surabaya di Stadion H Agus Salim, Kota Padang.
Baca selengkapnya berikut ini:
SPBU Sawahan, Padang, Sumatera Barat mulai mengurangi stok harian sebagai imbas kenaikan harga Bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi.
Diketahui, harga BBM non-subsidi seperti Dexlite, Pertamina Dex dan Pertamax Turbo naik kembali per 4 Mei 2026.
Sebelumnya tiga jenis BBM tersebut sudah melonjak naik pada 18 April 2026 lalu, dan membuat banyak kendaraan mulai beralih ke subsidi.
Baca juga: Nelayan di Padang Sering Tak Kebagian BBM, Terkendala Masalah Administrasi
Terhitung 4 Mei 2026, harga Dexlite tercatat Rp27.150 dari sebelumnya 24.650 per liternya. Lalu untuk Pertamax Rp20.750 dari 20.250 per liter.
Sedangkan harga Pertamina Dex tercatat Rp29.100 dari 24.950 per liter.
Pengawas SPBU Sawahan, Kota Padang, Dasfitriyan saat ditemui TribunPadang.com di kantornya, Selasa (5/5/2026) mengatakan kenaikan harga BBM non-subsidi tersebut membuat pihaknya mengurangi pasokan per harinya.
"Biasanya 600 liter tersedia dalam sehari, sekarang cuma 400 liter. Pembeliannya menurun pasca terjadi kenaikan," kata dia.
Meski begitu kata dia, menurunnya pembelian Pertamina Dex dan Pertamax Turbo di tempatnya, tak membuat permintaan BBM subsidi meningkat.
Untuk BBM subsidi jenis Pertalite maupun Biosolar, masih cenderung stabil sebelum maupun sesudah kenaikan.
"Tidak ada peningkatan untuk BBM subsidi, masih seperti biasa. Kendaraan yang beralih juga tidak ada, cuma memang menurun sedikit," pungkasnya.
Baca juga: Ekonom Unand Ingatkan Kerentanan Besar di Balik Pertumbuhan Ekonomi Sumbar 5,02 Persen
Kata dia, jenis BBM Pertamina Dex maupun Pertamax Turbo pada biasanya yang membeli hanya kendaraan mewah.
Meski harga naik ujar Dasfitriyan, kendaraan seperti Pajero Sport tetap mengisi Pertamina Dex, hanya saja berkurang dari biasanya.
"Makanya kita kurangi stok perhari, rata-rata kan pengendara yang banyak uang beli itu. Sama saja dengan Pertamax Turbo," tambahnya.
Dampak kenaikan harga BBM Non Subsidi ini juga terlihat di SPBU Wowo, Kecamatan Padang Barat, Kota Padang pada Selasa (5/5/2026) siang.
Di SPBU ini pembeli BBM Non Subsidi Dexlite tampak lengang.
Pantauan Jurnalis TribunPadang.com, Muhammad Iqbal di lapangan sekira pukul 13:12 WIB, tak ada kendaraan yang mengisi BBM tersebut.
Kebanyakan kendaraan hanya mengisi Pertalite dan Pertamax saja.
Namun memang, pilihan pengisian di SPBU hanya ada dua jenis tersebut ditambah Dexlite.
Di sisi lain, antrian kendaraan juga tampak cukup panjang.
Hanya saja masih terpantau belum mengular ke badan jalan ataupun menyebabkan kemacetan.
Pengawas SPBU Wowo, Ikhsan mengatakan pasca kenaikan BBM non subsidi kedua kalinya, pembelian Dexlite memang menurun drastis.
Akan tetapi, ia tidak bisa menjelaskan secara detail berapa penurunan yang terjadi di lapangan.
Kata dia, pembelian Dexlite biasanya memang kebanyakan berdampak pada kendaraan roda empat seperti Pajero Sort dan beberapa kendaraan lainnya yang menggunakan BBM tersebut.
"Pembeliannya memang berkurang, tapi saya belum dapat menyebutkan berapa perkiraan atau angka pastinya, karena naiknya belum lama," ucapnya.
Ia juga tak memperkirakan mengenai peralihan dari Dexlite ke Bio Solar.
Harga minyak goreng kemasan rakyat, Minyakita, di Pasar Raya Kota Padang terpantau stabil pada Selasa (5/5/2026).
Para pedagang mengaku tidak berani menaikkan harga di atas ketentuan karena pengawasan masyarakat yang kini semakin ketat.
Atun, salah satu pedagang minyak di Pasar Raya Padang, mengungkapkan bahwa fluktuasi harga yang sempat terjadi sebelumnya kini telah mereda.
Menurutnya, oknum-oknum yang mencoba memainkan harga di pasar sudah mulai berkurang seiring dengan lancarnya pasokan.
"Untuk harga Minyakita sekarang sudah stabil. Kalaupun ada yang sempat memainkan harga, mungkin itu ulah oknum, tapi sekarang saya menjual sesuai harga biasa," ujar Atun saat ditemui di lapaknya.
Ia menjelaskan bahwa para pedagang tidak bisa semena-mena menaikkan harga jual kepada konsumen.
Baca juga: Agenda Wali Kota Padang hari Ini: Buka PNP Youth Innovators Fest 2026 hingga Hadiri HUT PERTI
Hal ini dikarenakan masyarakat sudah sangat teredukasi mengenai status Minyakita sebagai komoditas subsidi pemerintah.
Atun menilai, jika pedagang nekat mematok harga tinggi, maka konsumen akan langsung melayangkan komplain.
Informasi mengenai Harga Eceran Tertinggi (HET) sudah menjadi rahasia umum bagi warga Kota Padang.
"Masyarakat tahu ini minyak subsidi. Jadi bagaimana kami mau menaikkan harga semena-mena? Kecuali memang sudah ada aturan resmi dari pemerintah terkait kenaikan harga tersebut," tambahnya.
Terkait ketersediaan barang, Atun memastikan bahwa stok Minyakita saat ini dalam kondisi aman.
Tidak ada kelangkaan yang berarti, sehingga permintaan pasar dapat terpenuhi dengan baik setiap harinya.Tingginya daya beli masyarakat terhadap Minyakita juga diakui oleh para pedagang.
Minyak ini menjadi primadona karena harganya yang lebih terjangkau dibandingkan minyak goreng kemasan bermerek lainnya.
Baca juga: Pemkab Dharmasraya Percepat Pembangunan Jembatan Batang Mimpi di Sikabau
Senada dengan Atun, pedagang lainnya di Pasar Raya Padang, Robi, juga menyebutkan kondisi pasar yang mulai kondusif.
Ia mengakui mungkin ada pedagang lain yang terkendala pasokan beberapa waktu lalu, namun kini distribusinya kembali normal.
"Minyakita masih stabil. Pasokan mungkin sempat terkendala kemarin, tapi sekarang sudah aman masuk ke pasar," kata Robi.
Robi membeberkan rincian harga jual Minyakita di kiosnya. Untuk kemasan satu liter, ia menjual seharga Rp15.700, sementara untuk kemasan dua liter dipatok seharga Rp31.500.
Harga tersebut dinilai masih dalam batas wajar bagi para pengusaha mikro. Menurut Robi, pembeli didominasi oleh para pelaku usaha kuliner yang membutuhkan minyak goreng dalam jumlah besar setiap harinya.
"Daya beli tinggi sekali sekarang. Banyak dipakai oleh penjual gorengan, pecel lele, dan warung-warung nasi lainnya karena memang lebih hemat untuk modal usaha," ungkapnya.
Robi juga memberikan saran kepada pihak Bulog agar distribusi minyak subsidi ini tepat sasaran.
Baca juga: Bupati Annisa Suci Ramadhani Lepas 83 Jemaah Haji Dharmasraya, Titip Doa untuk Kemajuan Daerah
Ia meminta adanya pendataan ulang bagi para pedagang di Pasar Raya Padang melalui Dinas Perdagangan.
"Saran saya buat Bulog, tolong data orang-orang di Pasar Raya ini yang menjual minyak melalui dinas perdagangan. Tujuannya agar jalur distribusi lebih ringkas dan harga tetap murah sampai ke tangan kami," tutur Robi.
Di sisi lain, kehadiran Minyakita yang stabil sangat disyukuri oleh masyarakat, Sari seorang ibu rumah tangga.
"Saya setiap dua hari sekali beli Minyakita di sini. Harganya paling masuk akal untuk jualan gorengan. Kalau harganya naik seribu saja, untung saya bisa hilang," kata Sari.
Ia berharap pemerintah terus memantau distribusi minyak ini agar tidak ada lagi oknum yang menimbun stok.
"Harapannya ya stoknya ada terus seperti sekarang. Jangan sampai nanti mau lebaran atau hari besar lainnya tiba-tiba hilang lagi dari peredaran," pungkasnya.
Manajemen Semen Padang FC melakukan penyesuaian harga tiket untuk dua laga kandang terakhir pada gelaran BRI Super League musim 2025/2026.
Kebijakan itu berlaku saat Kabau Sirah menjamu Persik Kediri dan Persebaya Surabaya di Stadion H Agus Salim, Kota Padang.
CEO Semen Padang FC, Hermawan Ardiyanto, mengatakan penyesuaian harga tiket dilakukan agar lebih banyak suporter dapat hadir langsung memberikan dukungan kepada tim pada penghujung musim.
Menurut dia, dua pertandingan tersebut menjadi laga kandang terakhir Semen Padang FC di Stadion H Agus Salim sebelum stadion itu direkonstruksi.
“Manajemen ingin mengajak suporter dan seluruh pendukung Kabau Sirah untuk tetap bersama-sama memberikan dukungan langsung kepada tim pada dua sisa laga kandang yang sekaligus menjadi pertandingan terakhir di GOR H Agus Salim sebelum direkonstruksi,” kata Hermawan, Senin (4/5/2026).
Baca juga: Cuaca 7 Kota Sumbar Didominasi Hujan Ringan Hari Ini, Suhu Capai 30 Derajat
Pada dua pertandingan itu, harga tiket tribun utara dan selatan diturunkan dari Rp 50 ribu menjadi Rp 20 ribu.
Kemudian, tiket tribun timur yang sebelumnya Rp 100 ribu juga disesuaikan menjadi Rp 20 ribu.
Sementara itu, harga tiket tribun barat turun dari Rp 250 ribu menjadi Rp 100 ribu.
Hermawan mengatakan, kebijakan tersebut diharapkan dapat memberi kemudahan bagi masyarakat yang ingin hadir langsung ke stadion.
Ia menambahkan, dukungan dari suporter tetap dibutuhkan tim hingga kompetisi berakhir.
Meski Semen Padang FC dipastikan terdegradasi ke Liga Championship musim depan, manajemen menegaskan tim tetap fokus menuntaskan sisa pertandingan musim ini.
“Liga belum selesai, jadi kami tetap fokus menyelesaikan musim kompetisi ini. Meskipun hasil tidak seperti yang diinginkan, kami tetap berkomitmen untuk menyelesaikan kompetisi dengan baik,” ujarnya.
Hermawan juga menyampaikan permintaan maaf kepada suporter dan masyarakat Sumatera Barat atas hasil tim pada musim ini yang belum memenuhi harapan.
Menurut dia, setelah kompetisi berakhir, manajemen bersama seluruh elemen tim akan melakukan evaluasi menyeluruh sebagai langkah pembenahan menghadapi musim depan.
Proses persiapan rekonstruksi Stadion H Agus Salim, kata Hermawan, akan dimulai setelah laga kandang terakhir pada 15 Mei 2026.
“Setelah laga kandang terakhir 15 Mei, kami langsung bersiap memindahkan barang-barang,” katanya. (*)