Fakta Virus Hanta, Muncul Kasus di Atas Kapal Pesiar MV Hondius, 3 Meninggal, Ini Kata WHO & Ahli
Listusista Anggeng Rasmi May 06, 2026 01:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Virus Hanta atau hantavirus tengah menjadi perbincangan hangat setelah muncul laporan wabah mematikan di atas kapal pesiar MV Hondius yang berlayar di Samudra Atlantik pada awal Mei 2026.

Insiden tersebut langsung menarik perhatian dunia karena terjadi di lingkungan tertutup dengan mobilitas penumpang yang tinggi.

Hingga 5 Mei 2026, dilaporkan sebanyak tiga orang meninggal dunia akibat kejadian tersebut.

Meski demikian, World Health Organization menilai bahwa risiko penyebaran virus ini ke masyarakat global masih tergolong rendah.

Namun, laporan tersebut tetap menimbulkan kekhawatiran publik yang mengingat kembali pengalaman pandemi sebelumnya.

Banyak pihak mulai mempertanyakan apakah situasi ini berpotensi berkembang menjadi ancaman kesehatan global.

Pertanyaan pun muncul, apakah perlu dilakukan pengetatan perjalanan seperti yang pernah diterapkan saat pandemi COVID-19.

Menanggapi hal tersebut, epidemiolog Dicky Budiman memberikan pandangannya terkait situasi terkini.

Menurutnya, hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang cukup kuat untuk memberlakukan pembatasan mobilitas, baik di dalam negeri maupun internasional.

“Yang artinya, secara umum sebetulnya, dan saya sepakat dengan WHO ya, bahwa tidak ada indikasi risiko penularan secara luas dan juga tidak perlu ada pembatasan perjalanan,"ungkapnya saat dihubungi Tribunnews, Selasa (5/5/2026).

Tidak Memenuhi Syarat Wabah Global

Hantavirus berasal dari hewan pengerat seperti tikus
Hantavirus berasal dari hewan pengerat seperti tikus (Stockphoto, Harryarts dan cynoclub)

Baca juga: Upaya Pemkab Klaten Antisipasi Sebaran Virus PMK, Cek Kesehatan Hewan dan Penyemprotan Desinfektan

Dicky menjelaskan, virus Hanta tidak memiliki karakteristik yang memungkinkan penyebaran cepat antar manusia.

Berbeda dengan COVID-19 di awal kemunculannya, virus ini tidak menunjukkan tanda-tanda transmisi luas.

“Hantavirus Pulmonary Syndrome itu bukan penyakit dengan transmisi antar manusia yang efisien. Jadi susah penularannya,"sambungnya. 

Ia menegaskan bahwa ada tiga indikator utama sebuah penyakit bisa memicu pembatasan perjalanan:

  • 1. Penularan antar manusia yang berkelanjutan
  • 2. Tingkat penularan tinggi
  • 3. Penyebaran cepat lintas negara


Ketiganya, menurut Dicky, tidak ditemukan pada kasus virus Hanta saat ini.

Baca juga: China Kini Sedang Dilanda Virus Outbreak Baru Bernama HMPV, Pemerintah Akui Masih Pantau Sebarannya

ilustrasi hantavirus
ilustrasi hantavirus ((Ist)/Learn Worthy)

Risiko Ekonomi Lebih Besar

Pengetatan perjalanan tanpa dasar kuat justru berpotensi menimbulkan dampak negatif.

Bukan hanya pada sektor transportasi, tetapi juga ekonomi secara luas.

“Artinya pembatasan perjalanan tidak proporsional. Dan berpotensi menimbulkan dampak ekonomi yang merugikan tanpa manfaat kesehatan signifikan,"lanjutnya. 

Hal ini menjadi pembeda utama dengan kebijakan saat pandemi, di mana pembatasan dilakukan karena ada manfaat kesehatan yang jelas.

Kapan Harus Waspada Lebih?

Dicky mengingatkan bahwa pembatasan baru relevan jika ada perubahan signifikan pada virus.

Misalnya:

  • Terbukti ada penularan antar manusia
  • Muncul klaster baru di luar lokasi awal


Namun hingga kini, indikasi tersebut belum ditemukan.

Fatal tapi Tidak Mudah Menyebar

Meski tidak mudah menular, virus Hanta tetap berbahaya secara klinis.

Tingkat fatalitasnya bahkan bisa mencapai 40 persen.

Namun karakter penyebarannya yang terbatas membuat risiko global tetap rendah.

Kesimpulannya, masyarakat tidak perlu panik atau membayangkan skenario lockdown.

Yang dibutuhkan adalah pemahaman risiko yang tepat, bukan reaksi berlebihan.

(Tribunnewsmaker.com/ Tribunnews/ Aisyah Nursyamsi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.