POS-KUPANG.COM – Artis senior, Maia Estianty ternyata bukan keturunan orang sembarangan. Bukan karena ayahnya yang adalah seorang arsitek dan Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya periode 1982–1986, tapi neneknya yang adalah istri pertama Ir. Soekarno.
Ayah Maia Estianty bernama Harjono Sigit. Harjono merupakan anak dari Siti Oetari, yang merupakan istri pertama Presiden Soekarno.
Ayah Siti Oetari adalah HOS Tjokroaminoto. Ini artinya, Maia Estianty merupakan cicit dari Pahlawan Nasional dan pemimpin Sarekat Islam, HOS Tjokroaminoto.
Nama Maia Estianty kini tengah disorot seiring dengan kabar bahagia, di mana sang putra El Rumi yang resmi menikah dengan pujaan hatinya, Syifa Hadju. Sosok Maia disorot, selain penampilannya yang dinilai elegan, juga lantaran dirinya yang memiliki darah dari seorang Pahlawan pergerakan nasional.
Maia Estianty merupakan cicit dari Raden Hadji Oemar Said Tjokroaminoto atau HOS Cokroaminoto. HOS Cokroaminoto merupakan Pahlawan Pergerakan Nasional.
Ia lahir di Ponorogo, Jawa Timur, 6 Agustus 1882 dan meninggal di Yogyakarta, 17 Desember 1934 pada umur 52 tahun.
Tjokroaminoto adalah anak kedua dari 12 bersaudara dari ayah bernama R.M. Tjokroamiseno, salah seorang pejabat pemerintahan pada saat itu. Kakeknya, R.M. Adipati Tjokronegoro, pernah juga menjabat sebagai bupati Ponorogo, mengutip pustakaarsip.kamparkab.go.id.
HOS Tjokroaminoto merupakan seorang guru bagi 3 sosok yang pada akhirnya mewarnai panggung sejarah Indonesia, ketiganya yakni:
Musso yang sosialis/komunis
Soekarno yang nasionalis
Kartosuwiryo yang agamis.
Namun ketiga muridnya itu saling berselisih.
Pada bulan Mei 1912, Tjokroaminoto bergabung dengan organisasi Sarekat Islam. Sebagai pimpinan Sarikat Islam, HOS Tjokroaminoto dikenal dengan kebijakan-kebijakannya yang tegas namun dikenal bersahaja.
Dan pada akhirnya tahun 1912, Sarekat Dagang Islam berubah menjadi Sarekat Islam.
HOS Cokroaminoto hingga saat ini akhirnya dikenal sebagai salah satu pahlawan pergerakan nasional yang berbasiskan perdagangan, agama, dan politik nasionalis.
Kata-kata mutiaranya seperti “Setinggi-tinggi ilmu, semurni-murni tauhid, sepintar-pintar siasat” akhirnya menjadi embrio pergerakan para tokoh pergerakan nasional yang patriotic. Dan, ia menjadi salah satu tokoh yang berhasil membuktikan besarnya kekuatan politik dan perdagangan Indonesia.
Melalui putrinya, Siti Oetari Tjokroaminoto, garis keturunan itu mengalir hingga ke Maia Estianty, menjadikannya sebagai cicit dari tokoh besar tersebut. Siti Oetari sendiri lahir dan tumbuh di tengah lingkungan perjuangan.
Ia merupakan putri dari HOS Tjokroaminoto. Salah satu kisah menarik datang dari kehidupan pribadi Siti Oetari.
Pada 1921, saat berusia 16 tahun, ia menikah dengan Soekarno yang saat itu masih berusia 20 tahun dan merupakan murid ayahnya.
Pernikahan tersebut berlangsung sederhana di rumah Tjokroaminoto dan dilatarbelakangi rasa simpati Soekarno kepada ibu Oetari yang sedang sakit parah. Namun, hubungan itu disebut sebagai “kawin gantung” karena tidak dijalani sebagaimana mestinya, mengutip pustakaarsip.kamparkab.go.id.
Dalam catatan, Soekarno lebih fokus pada aktivitas politiknya dan bahkan menyebut tidak pernah benar-benar menjalani kehidupan rumah tangga dengan Oetari. Keduanya akhirnya resmi bercerai pada 1923.
Setelah itu, Siti Oetari menikah kembali pada 1924 dengan Sigit Bachroensalam dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Harjono Sigit.
Sosok Harjono dikenal sebagai mantan Rektor ITS sekaligus arsitek Indonesia.
Dari garis inilah, lahir Maia Estianty, yang berarti ia merupakan cucu dari Siti Oetari dan cicit dari HOS Tjokroaminoto.
Siti Oetari sendiri wafat pada 1986 di usia sekitar 81 tahun, meninggalkan jejak sejarah panjang yang menghubungkan dunia perjuangan kemerdekaan dengan generasi modern saat ini.
(Tribunnews.com/Garudea Prabawati)