TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Profesi Universitas Negeri Makassar (UNM) berusia 50 tahun, Selasa (5/5/2026).
Momentum setengah abad ini menjadi ajang refleksi sekaligus mempererat kebersamaan antar generasi pengelola dan alumni.
Acara perayaan sederhana dilaksanakan di Redaksi LPM Profesi UNM, Jl Daeng Tata I Blok IV H, Parang Tambung, Kecamatan Tamalate, Kota Makassar.
Pemimpin Umum LPM Profesi UNM periode 2026, Yusri Saputra, menyampaikan apresiasi kepada para alumni dan pengelola yang telah berkontribusi dalam menjaga eksistensi lembaga jurnalistik ini.
Ia menyebut keberlangsungan LPM Profesi tidak terlepas dari peran berbagai pihak, terkhusus para alumni.
“Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kakanda senior yang telah menyempatkan waktunya hadir, serta atas pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran sehingga LPM Profesi masih bisa eksis hingga hari ini,” ujarnya.
“LPM Profesi tidak bisa hadir sampai hari ini kalau hanya satu atau dua orang saja, tetapi karena kita semua, mulai dari kakanda senior hingga teman-teman pengelola,” ucapnya lagi.
Usia 50 tahun LPM Profesi UNM, bukan sekadar peringatan hari lahir, tetapi juga menjadi ruang pertemuan lintas generasi.
Momentum ini membuka kesempatan untuk berbagi cerita dan pengalaman perjalanan panjang LPM Profesi.
“Ini bukan sekadar memperingati hari lahir, tetapi menjadi tempat bertemu lintas generasi, berbagi cerita, dan saya berharap ke depan LPM Profesi semakin solid, tangguh, dan menjadi rumah bagi semua yang ingin belajar,” katanya.
Senior LPM Profesi UNM, Lang Gassa menekankan pentingnya LPM Profesi UNM sebagai ruang berkarya yang membentuk kebiasaan menulis dan berpikir kritis bagi Mahasiswa.
Pemimpin Redaksi LPM Profesi taahun 1987 ini, mengenang perjalanan awal pengembangan tabloid sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah LPM Profesi.
Kehadiran tabloid mahasiswa yang sebelumnya hanya berbentuk buletin, menjadi bagian dari proses berkarya yang memberi nilai lebih, baik secara personal maupun kelembagaan.
“Bagi saya, ini adalah sebuah lembaga, sebuah institusi berkarya. Tabloid yang kita adakan tahun 1987 itu luar biasa, melengkapi saya pribadi dan melengkapi karya saya untuk institusi ini,” kenangnya.
Ia juga mengingatkan LPM Profesi UNM tidak hanya berfungsi mencetak jurnalis.
Lebih dari itu, unit kegiatan mahasiswa ini membangun kebiasaan menulis dan berkarya yang akan terus melekat dalam diri setiap anggotanya.
“Jangan berpikir lembaga ini hanya untuk menjadi wartawan, karena kebiasaan menulis dan berkarya itu akan terbawa ke mana pun kita melangkah,” ungkapnya.
“Hasil dari proses di sini akan kalian rasakan ketika sudah berkarya, baik di lembaga politik, pendidikan, maupun pers,” tuturnya.
Senior LPM Profesi lainnya, Asia Ramli Prapanca membagikan pengalaman panjangnya dalam dunia jurnalistik mahasiswa, mulai dari proses awal hingga perkembangan media saat ini.
Ia menceritakan perjalanan LPM Profesi dari sebuah buletin sederhana hingga berkembang menjadi media yang dikenal, tak hanya sebatas pers kampus.
Proses tersebut tidak lepas dari perjuangan bersama serta keberanian dalam menghadapi berbagai tantangan.
“Jadi, buletin saya mengaktifkan, kemudian pulang-pulang saya masuk dengan teman-teman, kakak-kakak yang lain masuk, akhirnya mengambil alih buletin, kemudian kita jadikan menjadi surat kabar provinsi,” ujarnya.
Asia Ramli juga menyinggung berbagai tekanan selama berkecimpung di dunia jurnalistik.
Sebagai perayaan spesial setengah abad, LPM Profesi UNM akan menyelenggarakan reuni akbar yang dijadwalkan pada awal Juli 2026.
Alumni selama 50 tahun LPM Profesi berdiri, yang kini tersebar di berbagai penjuru, dijadwalkan akan hadiri reuni akbar tersebut.
Selain jurnalis atau pemimpin media, alumni LPM Profesi UNM tersebar di berbagai bidang, mulai dari tenaga pendidik, birokrat kampus, politisi, dan berbagai bidang lainnya. (*)