TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Ada masa ketika dapur tak lagi menghangatkan harapan, dan bagi Dimitri Eka Mariana, akhir 2023 menjadi titik ketika nyala semangatnya hampir padam bersama kompor yang nyaris tak lagi ia hidupkan.
Tiga tahun merintis usaha kuliner Vinlandak sejak 2020 yang sebelumnya dikenal sebagai Vinas Kitchenlandak telah menguras tenaga dan batinnya hingga ia berada di ambang menyerah.
Di tengah kelelahan itu, sebuah ajakan sederhana dari rekan sesama pelaku UMKM untuk bergabung dengan program pembinaan Rumah BUMN Makassar menjadi titik balik yang tak pernah ia rencanakan.
Langkah awal yang semula ragu perlahan berubah menjadi keyakinan ketika Dimitri mulai merasakan pendampingan yang tidak hanya teknis tetapi juga menyentuh sisi mental sebagai pelaku usaha.
“Dalam pembinaan saya dibantu manajemen, pemasaran, pengemasan hingga sertifikasi halal,” ungkap Dimitri saat ditemu di rumah produksinya di Jl. Banta Bantaeng Lrg. 3 Jl. Buntu No.27, Banta-Bantaeng, Kota Makassar, beberapa hari lalu.
Dari dapur rumahan yang sederhana, ia mulai menata ulang arah usahanya dengan lebih terstruktur dan terukur.
Tiga produk andalan seperti Kue Durian Vinlandak, Nasi Bento hingga Bangket Kenari Cimonari Cookies menjadi wajah baru yang tampil lebih siap bersaing.
Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam, namun melalui proses panjang yang membentuk kembali cara pandangnya terhadap bisnis.
Dimitri yang sebelumnya enggan tampil di depan umum kini tumbuh menjadi sosok yang lebih percaya diri dalam memimpin usahanya.
Sistem scoring usaha yang diterapkan Rumah BUMN menjadi alat ukur yang membantu Dimitri memahami posisi dan potensi bisnisnya.
Hasilnya mulai terlihat ketika produk Vinlandak yang sebelumnya hanya dipasarkan melalui pre-order kini berhasil masuk ke toko-toko besar hingga hotel berbintang.
Ia juga mulai menjajaki berbagai pameran dan kompetisi tingkat nasional yang membuka jejaring lebih luas.
Di balik capaian itu, ada perjalanan emosional yang tak terlihat, tentang rasa lelah yang perlahan berubah menjadi kebanggaan.
Kisah Dimitri bukanlah cerita tunggal, melainkan satu dari ribuan kisah yang tumbuh di Rumah BUMN Makassar.
Sejak 2017, wadah inkubasi yang didampingi PT Bank Rakyat Indonesia ini telah membina sekitar 6.000 UMKM di Sulawesi Selatan.
Koordinator Rumah BUMN Makassar, Ayu Anisela, menyebut sebagian besar UMKM yang berhasil naik kelas berasal dari sektor fesyen serta makanan dan minuman.
“Bahkan sudah banyak binaan kita yang menjuarai berbagai perlombaan tingkat nasional hingga sukses membuka toko fisik mereka sendiri,” ungkap Ayu.
Rumah BUMN tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem yang terhubung di berbagai daerah.
Di Sulawesi Selatan, sembilan Rumah BUMN saling bersinergi mendampingi pelaku usaha di berbagai kabupaten dengan dukungan perusahaan BUMN berbeda.
Program unggulan yang kini menjadi fokus adalah Brinkubator Lokal yang menjadi ruang tumbuh bagi para pelaku usaha.
Sebanyak 200 UMKM dari sektor fesyen, F&B, dan home decor mengikuti proses kurasi untuk menuju tahap berikutnya.
“Pemenang dari tingkat lokal ini akan mendapatkan suntikan dana tunai, juara pertama Rp5 juta, juara kedua Rp3,5 juta, dan juara ketiga di atas Rp1 juta,” jelas Ayu.
Program ini tidak hanya berhenti pada kompetisi, tetapi menjadi bagian dari peta jalan pembinaan berjenjang.
Mulai dari Brinkubator Lokal yang membangun mindset dan manajemen dasar, hingga Brinkubator Nasional yang fokus pada pemasaran digital.
Tahap tertinggi adalah Brilliant Preneur yang membuka peluang UMKM untuk menembus pasar ekspor.
Meski demikian, akses untuk bergabung tetap terbuka luas bagi siapa saja yang ingin memulai atau mengembangkan usaha.
“Syarat utamanya wajib memiliki rekening BRI dan QRIS BRI agar pelaku UMKM terbiasa memisahkan keuangan pribadi dan usaha,” jelas Ayu.
Lebih dari sekadar pelatihan, peserta juga mendapatkan dukungan sertifikasi halal dan pembaruan kemasan produk.
Bagi Dimitri, Rumah BUMN bukan hanya tempat belajar, tetapi ruang untuk menemukan kembali harapan yang sempat hilang.
Dari dapur sederhana di Makassar, ia kini melangkah lebih jauh membawa produknya ke panggung yang lebih luas.
Kisahnya menjadi pengingat bahwa di balik setiap usaha kecil, selalu ada kemungkinan besar yang menunggu untuk tumbuh ketika mendapat dukungan yang tepat.