TRIBUNTRENDS.COM - Kampung Lele Asap menjadi destinasi baru bagi wisatawan yang berlibur ke Yogyakarta.
Lele asap yang menjadi produk unggulan mereka kini banyak diburu untuk dinikmati langsung atau dijadikan oleh-oleh.
Kampung Lele Asap di Padukuhan Jati, Kalurahan Banaran, Kapanewon Galur, Kulon Progo, telah diresmikan oleh pemerintah, Rabu (6/5/2026).
Dusun Jati yang menjadi Kampung Lele Asap ini bisa memproduksi lele asap hingga 400-500 kilogram (kg) per hari.
Jika hari libur maupun hari besar tiba, mereka bisa memproduksi lele asap hingga 800 kilogram.
Lele asap tersebut dipasarkan ke berbagai daerah hingga bisa dibeli langsung di kampung wisata tersebut.
Baca juga: Angkringan Plataran Senopati Yogyakarta, Hasil Patungan Jukir yang Kehilangan Lahan, Sentra Kuliner
Wisatawan yang tak mau jauh-jauh ke Kulon Progo bisa membeli lele asap di sejumlah pasar di Kabupaten Bantul, Yogyakarta.
Peluncuran Kampung Lele Asap ini diharapkan bisa memperkuat identitas produk lokal agar semakin dikenal luas.
Hal ini disampaikan oleh Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan Kulon Progo, Wakhid Purwosubiyantara.
“Maka kami melaunching Kampung Lele Asap ini agar produk khas Kulon Progo semakin dikenal luas. Selama ini sudah banyak dipasarkan, tetapi belum punya branding, logo, maupun pengakuan resmi sebagai produk daerah,” kata Wakhid usai peresmian, dikutip dari Kompas.com.
Acara peresmian itu juga dihadiri Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko dan Ketua Komisi IV DPR RI, Siti Hediati Soeharto.
Bisnis lele asap ini merupakan usaha turun temurun di Padukuhan Jati.
Kini produk lele asap dikelola oleh generasi ketiga.
Permintaan masyarakat yang cukup tinggi membuat produk lele asap banyak dinikmati.
Oleh karena itu, produk tersebut dinilai sangat potensial dan bisa bersaing di pasaran.
Lele asap di Padukuhan Jati Banaran ini juga memiliki keunggulan.
Keunggulan terletak pada proses pengasapannya yang menggunakan sabut kelapa.
Metode ini menghasilkan tekstur daging yang lebih renyah dengan cita rasa asap yang khas, sehingga mudah diterima pasar.
Banyak diburu, lele asap bisa habis dalam waktu dua hingga tiga jam saja di pasar tradisional.
Produksi lele asap yang banyak juga menyerap tenaga kerja yang tak sedikit.
Hal ini bisa mengurangi pengangguran dan bisa memperbaiki ekonomi warga sekitar.
"Ini menunjukkan pasarnya sudah jelas dan sangat potensial, sekaligus mampu menyerap banyak tenaga kerja,” kata Wakhid.
Baca juga: Hentikan Kereta, Aksi Heroik Purwono di Perlintasan Yogyakarta Diapresiasi, KAI Beri Penghargaan
Ketua Desa Wisata Banaran, Duta Andika, menjelaskan bahwa lele asap merupakan warisan kuliner yang telah diwariskan sejak generasi terdahulu dan masih terus dijaga hingga saat ini.
“Lele asap ini sudah ada sejak zaman simbah-simbah dulu. Sekarang kami ingin mengembangkannya agar tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga menjadi daya tarik orang untuk datang ke sini,” kata Andika.
Menurutnya, upaya pengembangan ini dilakukan agar lele asap tidak hanya dikenal sebagai makanan tradisional, tetapi juga sebagai identitas wisata desa.
Saat ini, terdapat sekitar delapan produsen lele asap di Pedukuhan Jati yang telah aktif memproduksi secara rutin.
Para pelaku usaha tersebut tergabung dalam tiga kelompok pengolah dan pemasar (poklasar), yaitu Poklasar Jati, Poklasar Progo, dan Poklasar Mandiri.
Selain memiliki cita rasa yang khas dan kuat, lele asap juga menjadi favorit karena proses pengolahannya yang unik.
Proses pengasapan tersebut membuat produk lebih tahan lama serta memiliki kandungan lemak yang lebih rendah.
Keunikan ini menjadi nilai tambah yang diharapkan mampu menarik minat lebih banyak konsumen.
Ke depan, masyarakat berharap Kampung Lele Asap dapat menjadi branding baru yang memperkuat daya tarik wisata daerah.
Pengembangan ini juga diharapkan mampu meningkatkan perekonomian warga melalui sektor kuliner dan pariwisata yang berkelanjutan.
(TribunTrends/Ninda)