TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Pemerintah memangkas Dana Desa 2026 hingga 70 persen, yang berimbas pada program kegiatan di desa atau kalurahan, termasuk di Kulon Progo.
Kegiatan yang terdampak termasuk Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Pos Pelayanan Terpadu (Posyandu).
Dampaknya pun dirasakan pula oleh para guru PAUD di Taman Kanak-kanak (TK) Pertiwi di Kalurahan Pengasih, Kapanewon Pengasih, Kulon Progo.
Terdapat 34 anak didik di tempat ini, 5 di antaranya adalah pelajar PAUD.
Kepala TK dan PAUD Pertiwi, Titin Rahayu mengaku sudah mendapat informasi bahwa honor guru PAUD dari Dana Desa dalam bentuk insentif turun di 2026 ini.
"Honor guru PAUD jadi Rp 350 ribu dari sebelumnya Rp 500 ribu, lalu guru pendamping dari Rp 450 ribu jadi Rp 300 ribu, begitu juga dengan guru pendamping muda," kata Titin ditemui pada Kamis (07/05/2026).
Ia memahami bahwa penurunan honor disebabkan oleh pemangkasan Dana Desa oleh pusat secara besar-besaran. Namun di sisi lain ia mengaku kecewa dengan penurunan honor itu.
Pasalnya, tuntutan kinerja tidak sebanding dengan honor yang diterima. Apalagi honor yang sudah sedikit itu pun masih harus dikurangi lagi akibat pemangkasan Dana Desa.
"Kami kan masuk dari pagi sampai anak-anak pulang, lalu masih mengurus administrasi sampai siang, hampir sama kerjanya seperti guru formal," ujar Titin.
Baca juga: Nobar Film Dokumenter di Pendopo Klaten: Edukasi Bahaya Polio Lewat Media Visual yang Menggugah
Ia pun mempertanyakan penurunan honor terjadi di saat program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus berjalan dengan anggaran sangat besar.
Padahal ia merasa program itu tidak berpengaruh banyak pada anak-anak.
Sebab Titin menilai tanpa MBG pun asupan gizi anak tetap bisa terpenuhi. Sebab orang tua mereka sudah menyiapkan makanan untuk anak-anaknya setiap hari.
"Bahkan di tempat kami ada sesi makan bersama dari wali pelajar setiap seminggu sekali," jelasnya.
Salah satu guru di TK dan PAUD Pertiwi adalah Yuni Rahayu.
Ia mengaku sedih dengan adanya pemotongan honor bagi guru PAUD, sedangkan honor mereka banyak bergantung pada Dana Desa.
Meski sedih, ia mengaku tetap semangat dalam mengajar anak-anak. Sebab ia mengatakan sudah menjadi komitmennya sebagai guru PAUD agar bertanggungjawab pada pendidikan anak-anak di sana.
"Kami tetap berusaha memberikan yang terbaik dan bekerja semaksimal mungkin," kata Yuni.(alx)