TRIBUNNEWS.COM - Hari Raya Idul Adha merupakan salah satu hari besar umat Islam yang diperingati setiap tanggal 10 Zulhijah dalam kalender Hijriah.
Perayaan ini identik dengan ibadah kurban sebagai bentuk ketakwaan dan pengorbanan kepada Allah SWT, sekaligus mengenang kisah Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.
Selain sholat Idul Adha, umat Islam juga melaksanakan penyembelihan hewan kurban serta mempererat kepedulian sosial melalui pembagian daging kepada masyarakat yang membutuhkan.
Penentuan Hari Raya Idul Adha di Indonesia dilakukan melalui sidang isbat yang digelar pemerintah bersama berbagai unsur terkait.
Sidang isbat sendiri merupakan forum resmi untuk menetapkan awal bulan Hijriah berdasarkan perpaduan metode hisab atau perhitungan astronomi dan rukyat atau pengamatan hilal secara langsung.
Tujuan sidang ini ialah menghadirkan keputusan yang dapat menjadi pedoman bersama bagi umat Islam di Indonesia.
Tahun ini, sidang isbat penetapan awal Zulhijah 1447 Hijriah sekaligus penentuan Idul Adha 2026 akan dilaksanakan pada 17 Mei 2026.
Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi, kantor layanan Kementerian Agama Republik Indonesia di Jakarta.
Sidang isbat menjadi bagian penting dalam mekanisme pemerintah untuk menentukan awal bulan Hijriah secara resmi.
Dalam forum tersebut, pemerintah melibatkan organisasi masyarakat Islam, para ahli falak, astronom, hingga lembaga terkait guna membahas hasil perhitungan dan pengamatan hilal.
Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam, Abu Rokhmad, menjelaskan bahwa sidang isbat merupakan ruang musyawarah bersama untuk menetapkan awal bulan Hijriah secara komprehensif dan dapat diterima seluruh masyarakat.
Baca juga: Catat, Ini Tanggal Puasa Tarwiyah dan Arafah 2026 Menjelang Idul Adha
“Sidang isbat merupakan forum musyawarah yang mempertemukan pemerintah, ormas Islam, serta para ahli falak dan astronomi dalam menetapkan awal bulan Hijriah,” kata Abu Rokhmad, dikutip dari kemenag.go.id.
Menurutnya, penetapan awal Zulhijah dilakukan dengan mengintegrasikan dua pendekatan utama, yakni hisab dan rukyat.
Hisab digunakan untuk mengetahui posisi hilal secara astronomis, sedangkan rukyat dilakukan melalui pemantauan langsung di berbagai titik pengamatan di seluruh Indonesia.
Pendekatan tersebut dinilai mampu menghadirkan keputusan yang tidak hanya berdasarkan data ilmiah, tetapi juga diperkuat dengan fakta hasil pengamatan di lapangan.
“Pendekatan ini memastikan keputusan yang diambil tidak hanya berbasis data ilmiah, tetapi juga terkonfirmasi melalui pengamatan lapangan,” terangnya.
Tahapan sidang isbat akan dimulai dengan seminar posisi hilal.
Di mana pada tahapan ini, Tim Hisab Rukyat Kemenag akan menjelaskan data astronomi.
Agar berjalan secara transparan, maka masyarakat dapat menyaksikan seminar ini karena akan disiarkan secara terbuka.
Setelah seminar selesai, panitia akan menerima laporan hasil rukyatul hilal dari berbagai wilayah Indonesia.
Data dari seluruh titik pemantauan kemudian dikumpulkan dan dibahas dalam sidang tertutup.
Setelah seluruh data dihimpun, forum sidang akan memasuki tahap musyawarah penetapan awal Zulhijah.
Menteri Agama bersama peserta sidang akan mempertimbangkan hasil hisab dan rukyat secara menyeluruh sebelum mengambil keputusan resmi.
Apabila proses pembahasan telah selesai, pemerintah akan mengumumkan hasil sidang isbat kepada masyarakat melalui konferensi pers agar umat Islam di Indonesia memiliki pedoman yang sama dalam menentukan pelaksanaan Hari Raya Idul Adha 2026.
Baca juga: Jelang Idul Adha 2026, DPR Minta Pengawasan Hewan Kurban Diperketat
Hasil kajian awal yang dibahas dalam rapat persiapan menunjukkan bahwa kondisi astronomi menjelang pergantian bulan menuju Zulhijah 1447 Hijriah dinilai cukup mendukung untuk pengamatan hilal.
Berdasarkan perhitungan yang dilakukan tim ahli, posisi bulan sabit muda diprediksi berada pada titik yang memenuhi standar visibilitas yang digunakan negara-negara anggota MABIMS.
Secara astronomis, ketinggian hilal diperkirakan telah melampaui batas minimal yang menjadi acuan imkan rukyat.
Selain itu, jarak sudut antara matahari dan bulan atau elongasi juga disebut berada dalam rentang yang memungkinkan hilal dapat diamati dari sejumlah wilayah di Indonesia.
Perhitungan menunjukkan tinggi hilal berada di atas 3 derajat dan elongasi di atas 6,4 derajat, sehingga secara teori telah memenuhi kriteria imkan rukyat,” jelasnya.
Walau demikian, pemerintah menegaskan bahwa data hisab tersebut belum dapat langsung dijadikan dasar penetapan awal Zulhijah.
Seluruh hasil perhitungan tetap harus dikonfirmasi melalui proses rukyatul hilal yang dilakukan di berbagai titik pemantauan pada hari sidang isbat berlangsung.
Karena itu, kepastian mengenai awal bulan Zulhijah dan penetapan Hari Raya Idul Adha 2026 masih menunggu hasil pengamatan lapangan serta keputusan resmi yang diumumkan pemerintah usai sidang isbat digelar.
(Tribunnews.com/Farra)