Amerika Serikat–Iran Kembali Bentrok di Selat Hormuz, Gencatan Senjata Terancam Runtuh
Adrianus Adhi May 08, 2026 03:32 PM

SURYA.co.id - Bentrok terbaru antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz kembali memicu ancaman runtuhnya gencatan senjata. Kedua pihak saling menuduh melanggar kesepakatan, sementara negosiasi damai melalui Pakistan masih berlangsung rapuh.

Amerika Serikat melaporkan tiga kapal perusak mereka diserang rudal, drone, dan kapal kecil Iran. Komando Pusat AS (CENTCOM) menyebut serangan itu terjadi saat kapal melintasi jalur internasional di Selat Hormuz.

“Pasukan AS mencegat serangan Iran yang tidak diprovokasi dan merespons dengan serangan untuk membela diri,” kata CENTCOM seperti SURYA.co.id kutip dari KOMPAS.com

Target serangan balasan mencakup lokasi peluncuran rudal, pusat komando, dan pengawasan militer Iran di Pulau Qeshm serta Bandar Abbas.

Iran menuduh AS lebih dulu melanggar gencatan senjata. Militer Teheran menyebut kapal tanker minyak Iran dan wilayah sipil menjadi sasaran serangan Amerika.

“Agresor Amerika melanggar gencatan senjata, menargetkan kapal tanker minyak Iran,” demikian pernyataan Markas Pusat Khatam al-Anbiya. Iran mengklaim serangan balasan mereka menimbulkan kerusakan signifikan pada kapal AS.

Baca juga: Trump dan Netanyahu Kena Semprot Senator AS Imbas Perang Iran Berkepanjangan: Cukup Sudah

Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan menggunakan rudal balistik, rudal antikapal, dan drone peledak. Namun, CENTCOM membantah ada aset Amerika yang terkena serangan.

Presiden Donald Trump menegaskan kapal perusak AS berhasil melintasi Selat Hormuz tanpa kerusakan. “Kerusakan besar terjadi pada penyerang Iran,” ujarnya di Truth Social.

Trump juga memperingatkan Iran agar segera menandatangani kesepakatan. “Kami akan menghantam mereka jauh lebih keras dan jauh lebih brutal di masa depan,” tulisnya.

Seorang pejabat AS menyebut serangan dilakukan di Bandar Abbas dan Pulau Qeshm. Iran menuduh serangan udara AS menghantam wilayah sipil di pesisir Qeshm, Bandar Khamir, dan Sirik.

Teheran menyatakan telah melakukan aksi balasan dengan menyerang kapal militer AS di timur selat dan selatan pelabuhan Chabahar.

Negosiasi Damai Terancam

Bentrok terbaru terjadi sehari setelah Trump menyebut peluang kesepakatan damai masih terbuka. Namun, ia juga mengancam pemboman lebih besar jika negosiasi gagal.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengatakan Teheran akan menyampaikan posisinya kepada Pakistan sebagai mediator setelah memfinalisasi pandangan mereka.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menyatakan optimisme terhadap proses damai. “Saya sangat yakin gencatan senjata ini akan berubah menjadi jangka panjang,” katanya.

Meski demikian, warga Iran mulai skeptis terhadap peluang perdamaian.

“Ini hanya permainan Trump lainnya; kalau tidak, mengapa begitu banyak kapal perang dikirim menuju Iran?” lanjutnya.

Baca juga: Iran Pertimbangkan Tawaran Damai Amerika Serikat: Akhiri Perang atau Hadapi Serangan Lebih Besar

Selat Hormuz tetap menjadi jalur vital energi dunia. Sekitar 20 persen pasokan minyak global melewati jalur ini.

Sekretaris Jenderal Organisasi Maritim Internasional PBB, Arsenio Dominguez, menyebut sekitar 1.500 kapal dan 20.000 awak kini terjebak di Teluk akibat konflik.

CENTCOM menekankan militer AS tidak mencari eskalasi. Namun, mereka tetap siap melindungi pasukan Amerika dari serangan Iran.

Trump menegaskan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir. “Rencananya sangat sederhana. Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir,” katanya di Gedung Putih.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.