Iran Ejek Ancaman Trump yang akan Melenyapkan Teheran dengan Bom Nuklir
Ansari Hasyim May 09, 2026 08:03 PM

 

SERAMBINEWS.COM - Iran melontarkan sindiran tajam terhadap ancaman serangan nuklir yang dilontarkan mantan Presiden AS, Donald Trump, dengan menyebutnya sebagai pernyataan “absurd dan menggelikan”.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengecam retorika tersebut lewat unggahan di X.

Ia menulis bahwa klaim mencari perdamaian dan mencegah krisis nuklir bertolak belakang dengan “solusi” yang ditawarkan yakni ancaman kehancuran total.

Baca juga: Pejuang Hizbullah Serang Kumpulan Tentara Zionis, Hujan Roket Hantam Tank Israel

“Sungguh absurd dan menggelikan bahwa mereka mengaku ingin perdamaian, namun solusi yang diajukan adalah ‘cahaya besar yang menyala-nyala’,” tulis Baghaei.

Untuk memperkuat sindirannya, Baghaei menyertakan cuplikan film klasik Amerika tahun 1964, Dr. Strangelove or: How I Learned to Stop Worrying and Love the Bomb, karya sutradara Stanley Kubrick.

Film satir antiperang itu mengisahkan peluncuran serangan nuklir yang tak disengaja terhadap Uni Soviet, sebuah kritik tajam terhadap logika kehancuran massal di era Perang Dingin.

Unggahan tersebut muncul setelah Trump, berbicara kepada wartawan pada Kamis lalu, menyatakan bahwa jika gencatan senjata dengan Iran gagal, “Anda hanya perlu melihat satu cahaya besar yang keluar dari Iran.” Trump juga menegaskan penghentian program nuklir Teheran sebagai syarat utama untuk mengakhiri konflik.

Sementara itu, Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, mengatakan Teheran masih meninjau proposal terbaru AS terkait negosiasi untuk mengakhiri konflik, dan menambahkan bahwa tanggapan akan disampaikan pada waktu yang tepat.

Baghaei menolak tenggat waktu yang ditetapkan oleh pejabat Amerika, mengatakan bahwa tenggat waktu tersebut tidak berarti apa-apa bagi Iran dan menegaskan bahwa Teheran tidak akan menanggapi tenggat waktu atau ultimatum.

Para pejabat Iran mengatakan penundaan tersebut mencerminkan kompleksitas teknis dari perjanjian yang diusulkan dan perlunya persetujuan dari berbagai pusat kekuasaan di Teheran.

Al Jazeera melaporkan bahwa proses tersebut melibatkan para pemimpin parlemen, termasuk Mohammad Bagher Ghalibaf, Korps Garda Revolusi Islam, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi, dan pada akhirnya Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei, yang persetujuannya diperlukan sebelum tanggapan akhir dikirim ke Washington. 

AS Bungkam Soal Tumpahan Minyak Pulau Kharg

Di sisi lain, Amerika Serikat menolak berkomentar mengenai tumpahan minyak besar di lepas Pulau Kharg, terminal ekspor minyak utama Iran.

Department of Defense menyatakan tidak akan menanggapi dugaan serangan terbaru di wilayah tersebut.

Menurut laporan Associated Press, citra satelit awal pekan ini menunjukkan tumpahan minyak telah muncul sebelum serangan terbaru AS terhadap kapal-kapal Iran dan lokasi pesisir pada Kamis hingga Jumat pagi.

Tumpahan pertama kali terdeteksi pada Selasa, dan pada Jumat meluas hingga sekitar 71 kilometer persegi (27,4 mil persegi), berdasarkan analisis perusahaan intelijen maritim Windward AI.(*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.