TRIBUNPADANG.COM- Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI mulai mengarahkan arus baru pengembangan Pendidikan Islam di Indonesia.
Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) kini didorong melampaui pola lama yang hanya menekankan kajian normatif-keagamaan menuju integrasi ilmu yang lebih luas, adaptif, dan kompetitif secara global.
Hal itu disampaikan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Amien Suyitno, dalam Rapat Kerja UIN Imam Bonjol Padang, Sabtu (9/5/2026).
Baca juga: Pacu Kinerja Layanan, UIN Imam Bonjol Siapkan Penghargaan bagi PPID Pelaksana Terbaik
Menurut Suyitno, arah baru Pendidikan Islam bergerak pada pendekatan stream sebagai arus baru pengembangan pendidikan yang mengintegrasikan agama dengan sains, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika.
Pendekatan itu dikenal melalui penguatan feature studies: religion, technology, science, engineering, art, dan mathematics.
Ia menegaskan, madrasah dan PTKI kini berada pada fase kesiapan baru menghadapi masa depan global.
Indikatornya terlihat dari meningkatnya jumlah lulusan madrasah yang diterima di kampus-kampus luar negeri.
Baca juga: Alumni UIN Imam Bonjol Diharapkan Aktif Kabarkan Kegiatan kepada Iluni Daerah
“Anak-anak madrasah hari ini sudah siap menghadapi masa depan. Mereka mulai masuk ke kampus-kampus internasional dengan kompetensi yang semakin kuat,” ujarnya, mengutip uinib.ac.id.
Suyitno juga memaparkan lima arah kebijakan strategis pengembangan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di Indonesia.
Kebijakan itu disiapkan sebagai peta jalan transformasi mutu pendidikan tinggi Islam agar lebih relevan dengan kebutuhan zaman dan dunia kerja global.
Lima arah kebijakan itu meliputi:
Pertama, Ma’hadisasi. Konsep ma’had di lingkungan PTKI diarahkan melampaui fungsi asrama mahasiswa. Ma’had al-Jamiah diposisikan sebagai pusat pembinaan karakter, penguatan tradisi intelektual, dan pembentukan kultur akademik berbasis pesantren;
Kedua, program Double Degree. PTKI didorong membangun kerja sama dengan perguruan tinggi nasional dan internasional agar mahasiswa memperoleh dua gelar sekaligus, yakni bidang keislaman dan bidang ilmu umum strategis; Ketiga, program Fast Track.
Skema ini memungkinkan mahasiswa berprestasi menyelesaikan pendidikan S1 dan S2 dalam waktu lebih singkat melalui integrasi riset akademik sejak jenjang sarjana; Keempat, PSDKU (Program Studi di Luar Kampus Utama).
Kebijakan ini membuka akses pendidikan tinggi Islam yang lebih luas ke berbagai daerah, dengan tetap menjaga standar mutu dan akreditasi program studi; Kelima, reformulasi pengembangan program studi.
PTKI diarahkan mengembangkan prodi berbasis akademik, profesi, dan vokasi agar selaras dengan perkembangan sains, teknologi, industri, dan kebutuhan pasar kerja masa depan.
“Transformasi ini menjadi momentum penting bagi Pendidikan Islam Indonesia untuk bergerak lebih progresif, terbuka, dan berdaya saing global tanpa kehilangan fondasi nilai-nilai keislaman,” tegas Suyitno.
Raker UIN Imam Bonjol Padang digelar di Hotel Imam Bonjol, 8-10 Mei 2026, yang melibatkan seluruh perwakilan elemen civitas akademika. Raker ini menandakan program kerja menjadi fondasi hingga tahun 2029.
Rektor UIN Imam Bonjol Padang, Prof. Dr. Hj. Martin Kustati, M.Pd menyebutkan, Raker ini menekankan koordinasi dan kolaborasi antar elemen untuk bekerja sama menjalankan tugas agar bisa meraih reputasi dan prestasi. Orientasi kepada kemajuan civitas akademika.