TRIBUNTRENDS.COM - Menjelang Idul Adha, penjual hewan kurban memiliki strategi berbeda-beda untuk memasarkan produk mereka.
Ada yang memilih cara unik untuk mempromosikan hewan kurban mereka.
Salah satunya UD Mulya Slamet Farm di Kalurahan Sukoreno, Kulon Progo, Yogyakarta.
Para calon pembeli ramai mendatangi kandang sapi milik UD Mulya Slamet Farm.
Kandang sapinya tampak biasa, namun yang membedakan justru keberadaan dua perempuan di kandang tersebut.
Dua wanita berhijab mengenakan kemeja flanel dan celana panjang ini ternyata Sales Promotion Girl (SPG) di peternakan tersebut.
Berdandan ala koboi, dua wanita ini akan melayani dan mendampingi para calon pembeli sapi kurban.
Baca juga: Dewi Perssik Siapkan Dua Sapi Jumbo Berbobot 1,3 Ton untuk Kurban Idul Adha
Salah satu SPG yang bernama Ika Prihatin menuturkan bahwa ia membantu di kandang sapi tersebut hanya di hari Jumat-Minggu.
Hal ini lantaran pembeli sapi kurban lebih ramai saat weekend.
Mereka juga lah yang akan membantu para calon pembeli memilih sapi.
Tentu saja, Ika Prihatin harus menguasai berbagai jenis sapi, bobot, hingga perkiraan hasil daging dari hewan yang akan dibeli.
“Kami membantu di kandang ini setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu karena biasanya pembeli lebih ramai di hari-hari itu. Mungkin karena Senin sampai Kamis orang bekerja, jadi mereka meluangkan waktu di akhir pekan untuk mengecek hewan kurban,” kata Ika Prihatin, salah satu SPG, dikutip dari Kompas,com.
Berbagai jenis sapi tersedia di UD Mulya Slamet Farm.
Mulai dari limousin, simental, sapi Bali, hingga sapi lokal Peranakan Ongole (PO).
Harga sapi yang ditawarkan juga beragam, tergantung jenis dan beratnya.
Di UD MUlya Slamet Farm sendiri rata-rata sapi memiliki bobot hidup di atas 350 kg.
Harga yang ditawarkan juga berkisar antara Rp 20 juta hingga Rp 30 juta,
Ika Prihatin sudah dua tahun membantu penjualan sapi kurban di UD Mulya Slamet Farm.
Biasa menjual barang-barang kebutuhan sehari-hari, Ika mendapat pengalaman baru karena menjual hewan kurban.
Ia pun harus belajar memahami seluk-beluk hewan ternak dan beraktivitas langsung di kandang.
“Pekerjaannya sebenarnya tidak jauh berbeda dengan SPG pada umumnya. Bedanya, kami harus siap beraktivitas langsung di kandang dan memahami seluk-beluk hewan ternak,” katanya.
Menurutnya, menjadi seorang SPG sapi kurban tidak cukup hanya pandai menawarkan produk.
Mereka juga dituntut berani memegang sapi, tidak merasa jijik berada di lingkungan kandang, serta mampu menjelaskan detail kondisi hewan kepada calon pembeli agar lebih yakin sebelum menentukan pilihan.
Di balik aktivitasnya di kandang sapi, Ika bersama rekannya, Nuni Andriyani, sehari-hari bekerja sebagai SPG freelance untuk berbagai produk.
Pengalaman mereka cukup beragam, mulai dari memasarkan makanan, minuman, hingga produk rokok.
“Kalau event rokok atau produk lain kan sudah biasa turun ke pasar atau lapangan. Jadi masuk kandang sapi sebenarnya tidak terlalu kaget,” kata Nuni.
Meski sudah terbiasa bekerja di lapangan, Nuni mengaku tetap harus mempelajari banyak hal baru saat menjadi SPG sapi kurban.
Ia belajar mengenali jenis sapi, memahami ukuran dan bobot hewan, hingga mengetahui karakteristik masing-masing sapi agar mampu menjawab pertanyaan calon pembeli dengan baik.
Sementara itu, Pemilik UD Mulya Slamet Farm, Olan Suparlan, menjelaskan bahwa kehadiran SPG sapi kurban merupakan bagian dari strategi pemasaran untuk memberikan pelayanan yang berbeda kepada konsumen.
Menurut Olan, keberadaan SPG cukup efektif membantu komunikasi dengan calon pembeli, terutama mereka yang baru pertama kali membeli sapi kurban.
“SPG membantu menjelaskan jenis sapi, perkiraan bobot hidup, perkiraan hasil daging, sampai karakteristik sapi yang bagus untuk kurban,” kata Olan.
Sebelum mulai bertugas, para SPG terlebih dahulu menjalani pelatihan langsung di kandang.
Dalam pelatihan tersebut, mereka diperkenalkan pada berbagai jenis sapi, cara memperkirakan kualitas daging, hingga memahami ciri fisik sapi yang baik untuk kurban.
Olan menuturkan, penggunaan SPG di usaha ternaknya sudah diterapkan selama dua tahun terakhir.
Strategi ini dinilai cukup efektif untuk meningkatkan promosi penjualan, termasuk melalui media sosial seperti TikTok, Facebook, dan WhatsApp.
“SPG juga membantu memperluas jaringan pemasaran lewat media sosial. Jadi promosi tidak hanya mengandalkan pembeli yang datang langsung,” katanya.
Baca juga: Kurban Ramah Lingkungan, Masjid Agung Al-Aqsha dan HIPMI Klaten Pakai Besek Alas Daun Jati & Pisang
Menjelang Idul Adha tahun ini, UD Mulya Slamet Farm menyiapkan lebih dari 100 ekor sapi untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Hewan kurban tersebut didatangkan dari berbagai daerah, mulai dari Bali, Gunungkidul, Kebumen, hingga sejumlah wilayah di Jawa Tengah dan DIY.
Tak hanya fokus pada penjualan, pengelola kandang juga memberi perhatian serius terhadap kesehatan ternak.
Pemeriksaan rutin dilakukan agar seluruh sapi tetap dalam kondisi prima sebelum sampai ke tangan pembeli.
Pihak peternakan secara berkala bekerja sama dengan dokter hewan untuk memantau kesehatan sapi di kandang.
“Minimal seminggu sekali dokter hewan datang mengecek kesehatan sapi. Kalau ada yang sakit langsung ditangani,” kata Olan.
Menurutnya, seluruh sapi yang telah dibeli pelanggan tetap dirawat dengan baik hingga waktu pengiriman tiba.
Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kondisi hewan tetap sehat dan layak dijadikan kurban.
“Kalau ada sapi yang sakit sebelum dikirim, kami siap mengganti dengan sapi sehat dengan harga yang sama. Itu bentuk tanggung jawab kami kepada pembeli,” kata Olan.
Komitmen itu menjadi bentuk pelayanan sekaligus jaminan kepercayaan kepada para pembeli menjelang hari raya kurban.
(TribunTrends/Ninda)