Trump Menolak Proposal Damai Iran yang Minta Ganti Rugi Rp 4.000 Triliun, Timur Tengah Panas Lagi
Ilham Fazrir Harahap May 11, 2026 02:54 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Amerika Serikat menolak proposal terbaru Teheran untuk mengakhiri perang yang selama beberapa bulan terakhir mengguncang kawasan Timur Tengah dan pasar energi global.

Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kembali memasuki fase berbahaya setelah Presiden AS Donald Trump dengan tegas menolak proposal tersebut.

"Saya baru saja membaca tanggapan dari apa yang disebut 'Perwakilan' Iran. Saya tidak menyukainya — SAMA SEKALI TIDAK DAPAT DITERIMA!" tulis Trump di Truth Social.

Penolakan tersebut langsung memicu gejolak baru di pasar internasional, seperti dilaporkan www.aljazeera.com, Senin (11/5/2026).

Baca juga: Ketua KPK Blak-blakan Ngurus Koruptor Banyak Makan Biaya, Uang Negara Terkuras Beri Makan-Baju

Harga minyak mentah dunia melonjak tajam karena investor khawatir konflik berkepanjangan akan mengganggu distribusi energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia.

Di tengah tekanan ekonomi, ancaman militer, dan perang pengaruh regional, negosiasi antara Washington dan Teheran kini terlihat semakin jauh dari titik damai.

Iran Sebut Proposalnya “Realistis dan Positif”

Seorang pejabat Iran yang berbicara kepada Al Jazeera dengan syarat anonim menyebut respons terbaru Teheran terhadap proposal 14 poin dari Amerika Serikat sebagai langkah “realistis dan positif”.

Baca juga: Penjelasan Kolonel Inf Jani Setiadi Berani Bubarkan Nobar Film Pesta Babi, Sebut Narasi Provokatif

Menurut pejabat tersebut, proposal Iran difokuskan pada penghentian perang secara menyeluruh di kawasan, khususnya di Lebanon, serta upaya menyelesaikan perselisihan strategis dengan Washington.

Iran juga mengajukan beberapa poin utama yang selama ini menjadi inti konflik, antara lain:

  • Negosiasi mengenai status Selat Hormuz.
  • Masa depan program nuklir Iran.
  • Pencabutan total sanksi ekonomi.
  • Mekanisme internasional yang menjamin pelaksanaan kesepakatan.
  • Pelepasan aset Iran yang dibekukan di luar negeri.

Teheran menegaskan bahwa seluruh usulan itu disusun berdasarkan “kepentingan tertinggi negara” dan hasil konsultasi dengan negara-negara kawasan.

Namun proposal tersebut langsung ditolak Trump.

Hingga kini, Trump belum memberikan penjelasan rinci mengenai alasan penolakan terhadap tawaran Iran.

Namun sejumlah analis menilai hampir seluruh poin yang diajukan Teheran menyentuh garis merah kebijakan luar negeri Washington.

Pemerintah AS secara konsisten menolak:

  • Ambisi nuklir Iran.
  • Pengaruh regional Teheran.
  • Dukungan terhadap kelompok seperti Hamas dan Hizbullah.
  • Kontrol Iran terhadap Selat Hormuz.
  • Washington juga menilai Iran tidak boleh memiliki kemampuan militer yang dapat mengancam Israel maupun sekutu-sekutu Amerika di Timur Tengah.

Reporter Al Jazeera dari Washington, Rosiland Jordan, mengatakan pemerintahan Trump tampaknya tidak ingin memberikan konsesi pada isu-isu strategis yang dianggap dapat memperkuat posisi Iran.

“Setiap poin yang diajukan Iran menyentuh area yang tidak ingin dikalahkan oleh Amerika Serikat,” lapornya.

Selat Hormuz Jadi Titik Perebutan Paling Panas

Salah satu isu paling sensitif dalam negosiasi adalah Selat Hormuz — jalur laut sempit yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.

Iran menuntut pengakuan atas kedaulatannya di kawasan tersebut, termasuk hak mengenakan biaya transit kapal serta pencabutan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Sebaliknya, Trump menegaskan blokade akan tetap berlangsung sampai tercapai kesepakatan final.

Konflik di Selat Hormuz kini menjadi ancaman serius bagi stabilitas ekonomi global. Gangguan kecil saja di kawasan itu dapat langsung memicu lonjakan harga energi dunia.

Harga Minyak Dunia Langsung Melonjak

Pasar global bereaksi cepat setelah kabar penolakan proposal Iran muncul.

Harga minyak Brent melonjak 2,69 persen menjadi 104,01 dolar AS per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,24 persen menjadi 98,51 dolar AS per barel.

Lonjakan tersebut memperpanjang kenaikan harga pada perdagangan sebelumnya dan memicu kekhawatiran baru mengenai inflasi global.

Investor menilai kebuntuan diplomatik antara Washington dan Teheran dapat memperbesar risiko gangguan distribusi energi internasional dalam jangka panjang.

Iran Tuntut Ganti Rugi Perang Rp4.000 Triliun

Dalam proposalnya, Iran juga menuntut kompensasi atas kerusakan akibat serangan Amerika Serikat dan Israel.

Nilai ganti rugi yang diminta mencapai sekitar 270 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp4.000 triliun.

Selain itu, Teheran meminta pencairan aset negara senilai 20 miliar dolar AS yang selama ini dibekukan akibat sanksi internasional.

Tuntutan tersebut dipandang sangat berat oleh Washington dan berpotensi menjadi salah satu penghambat terbesar dalam proses negosiasi.

“Ini Bukan Perundingan Damai”

Analis politik internasional sekaligus pendiri Off the Record Strategies, Mark Pfeifle, menyebut situasi saat ini bukan lagi perundingan damai biasa.

“Ini bukan perundingan perdamaian, ini adalah perundingan tekanan,” ujarnya.

Menurut Pfeifle, kedua pihak kini berusaha saling menekan hingga salah satu menyerah lebih dulu.

Amerika Serikat menggunakan:

Sanksi ekonomi,
Blokade laut,
Tekanan militer.
Sementara Iran menggunakan:

Ancaman terhadap Selat Hormuz,
Ketidakpastian pasar energi,
Tekanan ekonomi regional.
Pfeifle menilai Trump kini memainkan strategi “wait and see” sambil berharap tekanan ekonomi dapat memaksa Iran menyerah.

Namun kondisi di Iran juga belum menunjukkan tanda-tanda runtuh.

Ekonomi Iran Tertekan Berat

Iran memang menghadapi tekanan ekonomi besar.

Nilai tukar rial dilaporkan anjlok hingga sekitar 1,84 juta rial per dolar AS. Inflasi bahan pokok seperti roti dan minyak goreng bahkan disebut melampaui 200 persen.

Secara keseluruhan, inflasi nasional Iran diperkirakan mencapai sekitar 50 persen.

Meski demikian, bocoran intelijen AS menunjukkan Iran masih mampu bertahan selama beberapa bulan ke depan di bawah tekanan saat ini.

Fakta tersebut membuat posisi Trump menjadi semakin rumit.

Diplomasi Iran Bergerak Cepat

Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terus melakukan komunikasi diplomatik dengan sejumlah negara.

Media pemerintah Iran IRIB melaporkan Araghchi telah berbicara melalui telepon dengan Menteri Luar Negeri Belanda Tom Berendsen untuk membahas perkembangan regional dan hubungan bilateral.

Sebelumnya, Araghchi juga melakukan pembicaraan dengan Menteri Luar Negeri Mesir Badr Abdelatty.

Langkah diplomatik ini menunjukkan Iran masih berupaya membangun dukungan internasional di tengah tekanan Amerika Serikat dan sekutunya.

Kini dunia menunggu arah berikutnya dari konflik yang berpotensi mengubah peta geopolitik global tersebut.

Apakah Trump akan meningkatkan tekanan militer dan ekonomi? Ataukah Iran akan kembali mengajukan kompromi baru?

Yang pasti, setiap keputusan dari Washington dan Teheran kini tidak hanya menentukan masa depan Timur Tengah, tetapi juga stabilitas ekonomi dunia secara keseluruhan.

(Tribun-Medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.