JUMLAH Korban Jiwa Akibat Hantavirus Menjadi 3 Orang, Terbaru di Kalimantan Barat
Tommy Simatupang May 11, 2026 11:27 PM

TRIBUN-MEDAN.com - Kasus hantavirus di Indonesia sudah terdeteksi di sejumlah provinsi. Korban meninggal dunia akibat hantavirus telah bertambah menjadi 3 orang.  

Terbaru, pasien yang berasal dari Kalimantan Barat (Kalbar) menjadi korban terbaru.

Sebagai infromasi, hantavirus merupakan keluarga virus yang mengakibatkan penyakit seperti sindrom paru hantavirus (HPS) dan demam berdarah dengan sindrom ginjal (HFRS).

Dikutip dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), manusia bisa tertular melalui kontak dengan hewan pengerat seperti tikut dan mencrit, terutama ketika terpapar urine, kotoran, dan air liur hewan tersebut.

Sebenarnya, virus ini tercatat sudah ada sejak tahun 1950-an. Lalu, dilansir laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), virus tersebut sudah terdeteksi sekira tahun 1980-an.

Kini, virus ini menjadi perhatian global setelah terdeteksi pada saat kapal pesiar MV Hondius berlayar di Samudra Atlantik pada April hingga Mei 2026.

Baca juga: RESPONS Purbaya Terkait Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Disebut Dalam Kasus Suap, Apakah Dibersihkan?

Baca juga: SOSOK dan Profil Wakil Presiden Filipina Sara Duterte yang Baru Dimakzulkan DPR

Tercatat ada tiga orang dalam kapal pesiar tersebut tewas dan memaksa dilakukannya evakuasi terhadap penumpang lain.

Kembali lagi ke kasus di Kalimantan Barat (Kalbar), informasi ini pertama kali disampaikan oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Kalbar, Harisson.

"Iya, ditemukan satu kasus virus Hanta di Kalbar. Ini berdasarkan hasil pemeriksaan spesimen yang dikirim oleh Dinkes Provinsi, salah satunya Kalimantan Barat,” ujar Harisson, dikutip dari Tribun Pontianak, Senin (11/5/2026).

Dia mengungkapkan pasien sempat dirawat di rumah sakit pada 2 Maret 2026 lalu dan dinyatakan meninggal dunia sehari berselang.

Harisson menuturkan, saat datang, pasien dalam kondisi tubuh menguning hingga demam tinggi selama beberapa hari.

“Pasien datang ke rumah sakit sudah dalam kondisi umum yang sangat buruk. Sudah terjadi ikterik atau tubuh menguning, mengalami anuri atau tidak ada air kemih, serta demam tinggi yang sudah berlangsung selama empat hari sebelum dibawa ke rumah sakit,” jelasnya.

Dia mengungkapkan penanganan terhadap pasien penderita Hanta Virus di Kalbar telah berdasarkan standar operasional prosedur (SOP) dari Kemenkes.

“Penanganan virus hanta berfokus pada deteksi dini, isolasi, terapi suportif, serta pengendalian lingkungan dan tikus sebagai sumber penularan,” ujarnya.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menerapkan pola hidup bersih dan sehat.

Warga diminta menghindari makanan atau barang yang berpotensi terkontaminasi liur, urine, maupun kotoran tikus.

Ada 23 Kasus Hantavirus di Indonesia, 3 Meninggal

Kemenkes menyebut total ada 23 kasus hantavirus di Indonesia sejak 2024 hingga pekan ke-16 tahun 2026.

Dari total keseluruhan kasus, virus ini telah mengakibatkan tiga orang meninggal dunia.

"Ini situasi nasional. Ada 23 positif, tiga kematian, sisanya sembuh. Sisa dua kasus suspek sudah terkonfirmasi negatif," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes, Aji Muharwarman.

Berdasarkan laporan Kemenkes, kasus terbanyak terjadi di DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yakni enam kasus.

Baca juga: Kasus Virus Hanta Ditemukan di Indonesia, Epidemiolog Soroti Sanitasi Lingkungan dan Populasi Tikus

Lalu, ada Jawa Barat dengan lima kasus. Kemudian disusul beberapa provinsi lain seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatra Barat (Sumbar), hingga Jawa Timur (Jatim) dengan satu kasus.

Berikut daftar provinsi yang masyarakatnya terjangkit hantavirus:

DKI Jakarta: 6 kasus
Daerah Istimewa Yogyakarta: 6 kasus
Jawa Barat: 5 kasus
Nusa Tenggara Timur: 1 kasus
Kalimantan Barat: 1 kasus
Sumatra Barat: 1 kasus
Sulawesi Utara: 1 kasus
Banten: 1 kasus
Jawa Timur: 1 kasus
Namun, Kemenkes mengungkapkan jenis virus yang ada di Indonesia adalah Seoul Virus dan bukannya Andes Virus seperti yang telah terkonfirmasi menjadi penyebab tewasnya tiga orang di kapal pesiar mewah MV Hondius.

Aji mengungkapkan risiko penyebaran virus tersebut kini masih tergolong rendah berdasarkan penilaian WHO.

"Menurut WHO risikonya masih rendah," katanya.

(*/tribun-medan.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.