Ngerinya Jalur Jembatan Padang Besi, Pernah Ada Mobil Masuk ke Rumah saat Kecelakaan
afrizal May 11, 2026 11:27 PM

TRIBUNPADANG.COM, PADANG- Tragedi tabrakan beruntun yang terjadi di Jembatan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, pasca-kecelakaan beruntun pada Minggu (10/5/2026) pagi, menyisakan trauma yang dalam bagi warga sekitar. 

Hani, misalnya, menilai kejadian nahas ini bukan sekadar angka statistik kecelakaan.

Melainkan ancaman nyata yang menghantui ruang tamu mereka setiap harinya.

Hani, yang tinggal hanya beberapa meter dari lokasi kejadian, mengungkapkan bahwa harapan terbesarnya saat ini adalah adanya langkah konkret dari pemerintah dan pihak terkait. 

Baca juga: Saksikan Tabrakan Beruntun di Padang Besi, Nofel Lihat Truk Hantam Pohon Sebelum Toyota Rush

Ia tidak ingin jalur di depan rumahnya terus dijuluki sebagai "jalur maut" yang sewaktu-waktu bisa menjemput nyawa siapa saja.

Siklus Mengerikan

Keresahan Hani berdasar pada fakta bahwa kecelakaan rem blong di kawasan tersebut sudah menjadi siklus yang mengerikan. 

Ia berharap ke depannya ada evaluasi total mengenai kelayakan kendaraan besar, terutama truk-truk pengangkut logistik yang melintas dari arah Solok.

Menurut Hani, pengawasan terhadap kelaikan jalan atau ramp check harus diperketat sebelum kendaraan memasuki turunan tajam menuju Padang Besi. 

Ia menilai, jika sistem pengereman truk Hino BM 9936 KU tersebut diperiksa lebih awal, mungkin nyawa empat orang di Toyota Rush itu masih bisa terselamatkan.

Berharap Ada Jalur Penyelamat 

Selain pengawasan kendaraan, Hani juga menaruh harapan pada perbaikan infrastruktur tambahan di sekitar Jembatan Padang Besi. 

Ia membayangkan adanya jalur penyelamat (escape ramp) yang lebih efektif atau penambahan rambu peringatan yang jauh lebih mencolok bagi pengemudi luar kota.

Trauma yang dialami ibunda Hani menjadi alasan kuat mengapa ia menuntut perubahan segera. 

“Kami ingin tidur dengan tenang tanpa harus terbangun karena suara benturan yang menyerupai ledakan," ungkapnya saat ditemui, Senin (11/5/2026).

Hani menceritakan bahwa setiap kali mendengar suara decitan rem yang panjang, jantungnya seakan berhenti berdetak. 

Harapannya sederhana ia ingin lingkungan tempat tinggalnya kembali menjadi tempat yang aman bagi anak-anak dan orang tua, bukan lokasi evakuasi mayat.

Mobil Pernah Masuk Rumah Warga

Kejadian enam bulan lalu, di mana sebuah mobil masuk ke rumah warga, bagi Hani adalah peringatan keras yang hingga kini belum mendapatkan solusi permanen. 

Ia berharap pihak kepolisian dan Dinas Perhubungan tidak hanya datang saat evakuasi, tetapi juga memberikan solusi pencegahan.

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi bagi para sopir truk yang melintas. 

Hani berharap perusahaan otobus atau logistik memberikan pelatihan khusus bagi sopir mereka mengenai cara menghadapi medan ekstrem di jalur lintas Solok-Padang ini.

Trauma Tak Kunjung Hilang

Hani mengaku bahwa suara dentuman keras akibat tabrakan tersebut masih terngiang di telinganya.

Saking kerasnya suara ledakan dari benturan antar kendaraan, ia bahkan tidak berani langsung keluar rumah untuk melihat kondisi di jalan.

"Suara ledakannya besar sekali, saya sampai tidak berani lihat langsung ke jalan saat itu," ujar Hani dengan nada suara yang masih terdengar bergetar saat memberikan keterangan saat ditemui TribunPadang.com.

Dampak psikologis dari kecelakaan ini tidak hanya dirasakan oleh Hani, namun juga anggota keluarganya.

Ibunda Hani yang menyaksikan langsung prosesi tabrakan tersebut mengalami trauma hebat hingga kondisi fisiknya menurun drastis.

Menurut penuturan Hani, sesaat setelah melihat kejadian memilukan itu, ibunya langsung lemas dan tidak sanggup berdiri karena lututnya yang gemetar hebat.

"Kemarin saat kecelakaan beruntun, ibu saya melihat langsung. Beliau langsung trauma, lututnya sampai gemetar dan terpaksa kami bawa berobat ke Puskesmas agar kondisinya membaik," lanjut Hani.

Rita Tak Berani Tidur di Kamar

Suara dentuman keras dari arah jalan raya masih terus membekas di ingatan Rita Bahar (70), warga kawasan Jembatan Padang Besi, Kelurahan Padang Besi, Kecamatan Lubuk Kilangan, Kota Padang, Sumatera Barat.

Minggu (10/5/2026) pagi, perempuan lanjut usia itu kembali dikejutkan dengan kecelakaan beruntun yang melibatkan lima kendaraan di depan kawasan tempat tinggalnya.

Kecelakaan tersebut melibatkan dua unit truk dan tiga mobil pribadi yang seluruhnya melaju dari arah Solok menuju Kota Padang.

Akibat musibah itu, empat orang dilaporkan meninggal dunia, sementara empat korban lainnya masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit.

Warga Trauma Kejadian Lampau

Namun di tengah kepanikan dan proses evakuasi korban, ada ketakutan lain yang terus menghantui warga sekitar, terutama Rita.

Rumah yang ia tinggali berada tepat setelah turunan tajam di kawasan tersebut.

Menurut Rita, setiap kendaraan yang mengalami rem blong dari arah Solok berpotensi menghantam rumah-rumah warga di sekitar lokasi.

Trauma itu bukan tanpa alasan.

Beberapa tahun lalu, rumah Rita pernah dihantam sebuah mobil minibus yang mengalami rem blong. 

Peristiwa itu merenggut nyawa cucunya yang saat itu sedang tertidur di kamar.

“Saya sangat takut. Bahkan saya setiap hari tidak berani tidur di dalam kamar. Karena cucu saya yang seharusnya sekarang sudah kelas 6 SD meninggal dunia ditabrak mobil rem blong saat sedang tidur di kamarnya,” kata Rita Bahar kepada TribunPadang.com dengan suara bergetar.

Sejak kejadian itu, Rita mengaku memilih tidur di ruang tamu dibandingkan di kamar rumahnya.

“Saya tidak pernah lagi tidur di kamar. Siang malam saya tidur di ruang tamu karena takut ada mobil rem blong menghantam rumah,” ujarnya.

Penyelidikan Mendalam

Pihak Satlantas Polresta Padang yang sedang melakukan penyelidikan mendalam diharapkan Hani dapat memberikan rekomendasi teknis kepada pemerintah kota. 

Bripka Oyon Tanjung dari Unit Lantas Polsek Lubuk Kilangan sebelumnya menyebutkan bahwa korban telah dievakuasi ke Semen Padang Hospital (SPH) dan RS Unand. 

Namun bagi Hani, evakuasi yang cepat tidaklah cukup jika penyebab kecelakaan terus berulang tanpa ada pembenahan sistemik.

Identitas korban seperti Arif Candra Efendi, Jhon Efendi, Hj Efrialita, dan Del yang semuanya merupakan warga Solok, menambah keprihatinan Hani. 

Ia merasa sedih karena jalur di dekat rumahnya seringkali menjadi tempat berakhirnya perjalanan orang-orang yang hendak menuju ibu kota provinsi.

Dukungan psikologis bagi warga sekitar juga menjadi salah satu poin harapan yang tersirat. 

Hani berharap ada perhatian bagi warga yang terdampak trauma, mengingat suara kecelakaan kemarin begitu hebat hingga membuat anggota keluarganya sakit karena syok.

Menutup perbincangannya, Hani menekankan bahwa keamanan jalan raya adalah tanggung jawab bersama. 

Ia berharap tragedi Minggu pagi itu menjadi kecelakaan beruntun terakhir yang ia saksikan dari balik jendela rumahnya di Padang Besi.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.