Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Program hilirisasi peternakan yang dicanangkan Pemerintah Provinsi Lampung mendapat dukungan dari DPRD Lampung.
Mikdar Ilyas, anggota Komisi II DPRD Lampung yang membidangi soal peternakan, menilai pengolahan hasil peternakan di dalam daerah dapat meningkatkan nilai tambah sekaligus membuka lapangan kerja baru.
Menurut Mikdar, Lampung memiliki potensi besar di sektor peternakan sehingga hasil ternak tidak seharusnya dijual dalam bentuk mentah ke luar daerah.
Dia mencontohkan ayam fillet yang selama ini banyak dibeli dari luar daerah. Padahal daging mentahnya dari Lampung.
“Kalau bisa ayam fillet dipenuhi dari Lampung sendiri. Selama ini pengolahan di Lampung masih terbatas sehingga kebutuhan ayam fillet masih banyak didatangkan dari luar daerah, sehingga itulah konsep-konsep hilirisasi yang perlu dikembangkan,” ujarnya, Selasa (12/5/2026).
Ia mengatakan Pemprov Lampung bersama organisasi perangkat daerah terkait juga telah membahas pembangunan rumah potong hewan unggas di Lampung.
Langkah tersebut dinilai penting agar hasil ternak dapat diolah langsung di daerah sebelum dipasarkan.
Menurutnya, selama ini ayam dari Lampung banyak dikirim dalam kondisi mentah ke luar daerah, kemudian kembali masuk ke Lampung setelah dipotong dan diolah.
“Jadi jangan lagi kita menjual ayam mentah lalu membeli kembali setelah dipotong. Hilirisasi ini harus melibatkan banyak pihak supaya menambah lapangan kerja dan menguntungkan peternak,” katanya.
Tak hanya unggas, Mikdar juga mendorong pengolahan sapi potong menjadi produk daging segar maupun olahan agar memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.
Saat ini, kata dia, daging sapi slice juga banyak dibeli dari luar daerah. Sementara Lampung menjual sapi hidup ke luar.
Apabila ada rumah potong di Lampung, kata dia, dapat meningkatkan ekonomi daerah. Terlebih, Lampung memiliki ribuan dapur MBG.
Ia mencontohkan kebutuhan protein hewani untuk program dapur makan bergizi yang jumlahnya cukup besar.
Dengan asumsi terdapat 1.500 dapur dan masing-masing melayani sekitar 2.000 penerima manfaat, kebutuhan daging sapi dan ayam dinilai sangat potensial dipenuhi dari hasil peternakan Lampung.
“Kalau daging sapi 1 kilogram bisa menjadi sekitar 20 potong untuk kebutuhan penerima manfaat. Begitu juga ayam potong satu ekor bisa menjadi 10 potong,” jelasnya.
Selain daging dan ayam, hilirisasi juga diharapkan menyasar sektor perikanan.
Mikdar berharap seluruh hasil peternakan dan perikanan Lampung dapat diolah di daerah sendiri dengan melibatkan koperasi desa.
“Kita harapkan Koperasi Merah Putih bisa ikut mengolah hasil peternakan untuk kemudian dijual ke dapur-dapur yang ada,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Usaha dan Pasca Panen Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Lampung Anwar Fuadi mengatakan Lampung tidak hanya dikenal sebagai lumbung pangan nasional, tetapi juga menjadi salah satu lumbung ternak nasional.
“Lampung memiliki potensi peternakan yang sangat besar dan menjadi salah satu pilar strategis dalam penyerapan tenaga kerja, baik di sektor hulu maupun hilir,” ujarnya.
Berdasarkan prognosis supply-demand komoditas peternakan Lampung tahun 2026, telur ayam ras surplus hingga 45.630 ton, daging ayam ras surplus 10.096 ton, dan daging sapi surplus 985 ton.
Selain itu, populasi sapi potong di Lampung mencapai 905.322 ekor atau peringkat keempat nasional.
Sedangkan populasi kambing mencapai 1.974.609 ekor dan berada di peringkat ketiga nasional.
Untuk sektor unggas, populasi ayam ras petelur mencapai 14.029.863 ekor dan menempatkan Lampung di posisi kedelapan nasional.
Anwar menjelaskan, hilirisasi peternakan menjadi langkah penting dalam menjaga ketahanan pangan melalui peningkatan nilai tambah produk yang lebih variatif, tahan lama, dan bernilai gizi tinggi.
Menurutnya, Pemprov Lampung saat ini juga mendorong percepatan program Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) dengan memperkuat rantai pasok perunggasan dari hulu hingga hilir.
Program tersebut meliputi pembangunan fasilitas pembibitan ayam pedaging dan ayam petelur, pabrik pakan, rumah potong hewan unggas, hingga pengolahan pasca panen berupa tepung telur.
“Integrasi pascapanen menjadi kunci penguatan Lampung sebagai lumbung pangan strategis nasional,” tandasnya.
(Tribunlampung.co.id/Riyo Pratama)