Sering Disebut sebagai Dalang Krisis, Siapa George Soros Sebenarnya?
Moh. Habib Asyhad May 12, 2026 02:34 PM

George Soros, ekonom dan filantropis kontroversial yang namanya sering disebut ketika terjadi krisis. Namanya juga diseret-seret disebut sebagai pendonor beberapa lembaga di Indonesia.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Nama George Soros kembali sering muncul belakangan ini. Namanya sering disebut sebagai dalang di banyak krisi, juga disebut sebagai pendonor banyak lembaga di Indonesia.

Siapa George Soros sebenarnya?

Mengutip berbagai sumber, George Soros adalah ekonom senior dan juga filantropis Hungaria-Amerika Serikat. Sebagaimana disebut di awal, namanya sering dikaitkan dengan teori konspirasi dan gejolak krisis ekonomi di berbagai negara.

Nama lahir George Soros adalah György Schwartz. Dia dilahirkan di Budapest, Hungaria, pada 12 Agustus 1930, dan tumbuh di tengah gejolak Perang Dunia II.

Menurut sebuah sumber, Soros pernah merasakan langsung pahitnya diskriminasi. Di Hungaria tempatnya dilahirkan, dia harus merasakan pahitnya pendudukan Nazi Jerman pada 1944–1945.

Ketika itu lebih dari 500.000 orang Yahudi Hungaria menjadi korban pembantaian. Keluarga Soros yang berlatar Yahudi berhasil bertahan hidup dengan cara memperoleh identitas palsu, menyembunyikan jati diri mereka, sekaligus membantu orang lain melakukan hal yang sama.

“Alih-alih menyerah pada nasib, kami melawan kekuatan jahat yang jauh lebih kuat daripada kami, tapi kami menang. Kami tidak hanya bertahan hidup, tapi juga bisa membantu orang lain,” ujar Soros terkait kondisi itu.

Setelah perang Hungaria jatuh ke tangan rezim komunis. Soros kemudian pindah ke London pada 1947.

Di ibu kota Inggris itu, Soros bekerja paruh waktu sebagai kuli kereta api dan pelayan klub malam untuk membiayai kuliahnya di London School of Economics. Pada 1956, Soros hijrah ke Amerika Serikat dan mulai meniti karier di dunia keuangan.

Kariernya melesat hingga pada 1970 dia mendirikan Soros Fund Management. Ini adalah sebuah hedge fund yang kemudian menjadikannya salah satu investor paling sukses dalam sejarah Amerika Serikat.

Tak hanya itu, Soros juga mendirikan Quantum Fund.

Popularitas George Soros terjadi pada September 1992, sebagaimana dikutip dari Britanica. Ketika itu, pemerintah Inggris terpaksa mendevaluasi pound sterling dan lewat Quantum Fund, Soros menjual miliaran pound sterling dengan uang pinjaman, lalu membelinya kembali setelah nilai mata uang itu jatuh.

Dari strategi ini, Soros meraup keuntungan sekitar 1 miliar dolar AS dalam waktu singkat. Aksi tersebut membuatnya dijuluki “orang yang menghancurkan Bank of England.”

Tapi tidak semua spekulasinya berhasil. Pada 1994, dia merugi besar setelah salah memprediksi penguatan dolar AS terhadap yen Jepang. Dana yang dikelolanya juga kehilangan ratusan juta dollar hanya dalam satu hari pada Februari tahun itu.

Namanya kembali jadi perbincangan saat krisis finansial Asia 1997. Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad menuduhnya menjadi biang kerok kejatuhan ringgit.

Tapi faktanya, dana Soros justru ikut menderita kerugian miliaran dollar. Dia lalu bangkit lewat keuntungan dari saham internet pada 1999, tetapi mulai mengadopsi strategi investasi lebih hati-hati setelah gelembung teknologi pecah di 2000.

Pada 2002, Soros dijatuhi denda 2,2 juta euro (2,9 juta dollar AS) oleh pengadilan Prancis karena kasus perdagangan orang dalam (insider trading) terkait saham Société Générale pada 1988. Upaya bandingnya ditolak pada 2006.

Soros kemudian memutuskan, Quantum Fund tidak lagi mengelola dana investor eksternal. Statusnya hanya aset milik dirinya dan keluarganya.

Tak hanya sebagai investor, Soros juga menorehkan jejak besar di bidang filantropi. Pada 1984, dia mendirikan Open Society Foundations (OSF), jaringan yayasan yang awalnya berfokus pada Eropa Timur.

Di Hungaria, dia mendanai beasiswa, membantu modernisasi sekolah dan bisnis, bahkan memperoleh izin untuk beroperasi bebas meski negara itu masih di bawah rezim komunis. Setelah Perang Dingin berakhir, OSF memperluas jangkauan ke Cekoslowakia, Polandia, Rusia, hingga Yugoslavia.

Soros kerap menuai kritik, karena di satu sisi menentang praktik jangka pendek dalam pemerintahan Barat, sementara di sisi lain memperoleh keuntungan besar dari spekulasi mata uang.

Walau demikian, komitmennya dalam membangun demokrasi dan masyarakat terbuka tetap berjalan. Memasuki abad ke-21, OSF aktif di lebih dari 70 negara, mendukung berbagai inisiatif pendidikan, hak asasi manusia, dan transparansi pemerintahan.

Pada 2017, Soros dilaporkan telah mengalokasikan sekitar 18 miliar dolar AS untuk OSF, menjadikannya salah satu organisasi filantropi terbesar di dunia.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.