Jemaah Haji Lampung Sudah Tiba di Mekkah
Daniel Tri Hardanto May 12, 2026 08:19 PM

Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung - Rombongan jemaah haji asal Lampung sudah menginjakkan kaki di Mekkah untuk melanjutkan rangkaian ibadah musim haji 1447 Hijriah.

Di antara ibadah yang dilakukan sebelum puncak musim haji adalah umrah.

Ketua Kloter JKG 12 Ahmad Saidi menjelaskan, rombongan telah menempuh perjalanan dari Madinah menuju Mekkah pada 11 Mei 2026 lalu.

"Sekarang posisi sudah di Mekkah. Berangkat dari Madinah kemarin tanggal 11," ujar Saidi melalui sambungan telepon, Selasa (12/5/2026).

Selama berada di Mekkah, seluruh jemaah Lampung yang berjumlah 445 orang kini bermukim di pemondokan yang terletak di wilayah Misfalah.

Jarak dari maktab atau lokasi menginap menuju Masjidil Haram mencapai sekitar 2,1 km.

"Di Mekkah sekarang bermukim di wilayah Misfalah, jaraknya 2.100 meter kalau ditempuh jalan kaki, ya sekitar 2 kilometer," jelasnya.

Setibanya di kota suci ini, para jemaah mulai mengisi waktu dengan berbagai rangkaian aktivitas ibadah mandiri di Baitullah.

Hal senada diungkapkan Winardi, Ketua Kloter JKG 07 asal Kota Bandar Lampung. Mereka tiba di Madinah dengan 11 bus sejak 5 Mei lalu.

Ia menyebut saat ini aktivitas jemaah mulai fokus melakukan ibadah jemaah di Masjidil Haram.

"Teman-teman jemaah juga sudah melakukan ibadah umrah sunah, tawaf sunah selama berada di sini," ungkap Winardi.

Meski begitu, Winardi menyebut aktivitas ibadah sunnah tersebut dilakukan dengan tetap memperhatikan kesiapan fisik masing-masing individu.

Petugas kloter terus memantau pergerakan jemaah agar pelaksanaan ibadah tambahan ini tidak mengganggu kesehatan mereka menjelang puncak haji.

"Aktivitas jemaah yang sehat bisa di Masjidil Haram. Namun, bagi lansia kami sarankan tetap di hotel saja," pungkas Winardi.

Konsumsi Haji Digital

Kementerian Haji dan Umrah melalui Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi terus melakukan transformasi besar dalam pelayanan jemaah haji.

Salah satu sektor krusial yang mengalami pembaruan masif adalah layanan konsumsi yang kini bertumpu pada teknologi digital dan peningkatan standar gizi.

Inovasi ini dirancang khusus untuk memastikan kebugaran ratusan ribu jemaah tetap prima menjelang puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).

Perbedaan paling mencolok pada penyelenggaraan tahun ini adalah terintegrasinya seluruh ekosistem katering ke dalam sistem digital.

Pengelolaan data konsumsi mulai dari pencatatan distribusi, pemantauan jumlah porsi, hingga verifikasi layanan kini berjalan secara seketika (real-time).

Sistem cerdas ini sangat membantu percepatan koordinasi dan penanganan kendala logistik di lapangan secara presisi.

"Pada tahun ini pengelolaan data konsumsi mulai terintegrasi secara digital, mulai dari pencatatan distribusi, monitoring jumlah porsi, hingga verifikasi layanan," jelas Kepala Bidang Konsumsi PPIH Arab Saudi, Indri Hapsari, kepada Tim Media Center Haji (MCH), di Mekkah, Senin (11/5/2026).

Kehadiran teknologi ini menjadi sangat vital mengingat PPIH harus mengelola distribusi dari 51 dapur penyedia menuju 177 hotel yang dihuni 527 kloter jemaah di Mekkah.

Pengawasan ketat yang dilakukan oleh PPIH terbukti membuahkan hasil yang sangat terkendali.

Hingga saat ini, sistem mencatat lebih dari 1.193.534 boks makanan telah sukses didistribusikan ke tangan jemaah tanpa kendala berarti.

Selain modernisasi sistem, kualitas isi piring jemaah juga mengalami perbaikan yang signifikan.

Penyusunan menu tahun ini dilakukan dengan perhitungan matang yang memperhatikan keseimbangan gizi dan penyesuaian cita rasa khas Nusantara.

Variasi lauk-pauk sengaja diperkaya agar jemaah tidak mudah merasa jenuh dan tetap memiliki selera makan yang tinggi.

Langkah ekstra juga diambil pemerintah dengan menyuntikkan tambahan nutrisi pelengkap di luar makanan utama harian.

Setiap jemaah kini secara rutin mendapatkan tambahan susu, buah-buahan segar, dan air mineral.

"Penyusunan menu dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan gizi, variasi lauk, dan penyesuaian selera jemaah haji Indonesia," papar Indri.

Fokus pelayanan konsumsi saat ini juga mulai diarahkan pada persiapan krusial di fase puncak haji.

Setibanya jemaah di Arafah, mereka akan langsung disambut dengan tiga botol air mineral sebagai minuman pembuka.

Selama menjalani wukuf di Arafah pada 8 hingga 9 Zulhijah, jemaah akan mendapatkan jaminan maksimal lima kali makan penuh.

Sebelum pergerakan malam menuju Muzdalifah, sebuah paket kelengkapan konsumsi tambahan juga akan didistribusikan sebagai bekal energi jemaah.

Sesampainya di Mina untuk melontar jumrah, layanan logistik kembali dimaksimalkan.

Mulai tanggal 10 hingga 13 Zulhijah, jemaah akan diberikan suplai makanan maksimal sebanyak sepuluh kali agar kondisi fisik mereka tetap terjaga dan optimal. 

(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.