Rupiah Sentuh Rp17.521 per Dolar AS, Pemerintah Siapkan Strategi Jaga Stabilitas Pasar
M Zulkodri May 12, 2026 10:23 PM

 

POSBELITUNG.CO--Nilai tukar rupiah kembali mengalami tekanan hebat dan sempat menyentuh level terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Selasa (12/5/2026).

Rupiah tercatat menyentuh angka Rp17.521 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pukul 10.04 WIB di tengah meningkatnya tekanan pasar global dan kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi internasional.

Merespons kondisi tersebut, pemerintah memastikan tetap menjaga stabilitas pasar keuangan domestik melalui koordinasi bersama Bank Indonesia (BI).

Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menilai otoritas moneter masih memiliki kemampuan untuk mengendalikan pergerakan nilai tukar rupiah agar tidak terus mengalami pelemahan tajam.

“Kita serahkan itu ke ahlinya di sana, di Bank Sentral. Saya pikir mereka akan bisa mengendalikan dengan baik,” ujar Purbaya kepada wartawan di Kantor Kementerian Keuangan, Jakarta Pusat, Selasa (12/5/2026).

Purbaya mengakui pelemahan rupiah saat ini sudah melampaui asumsi dasar makro ekonomi yang digunakan dalam penyusunan APBN 2026.

Dalam dokumen anggaran negara, pemerintah sebelumnya menetapkan asumsi kurs rupiah berada di kisaran Rp16.500 per dolar AS.

Meski begitu, pemerintah menilai kondisi fiskal nasional masih cukup kuat untuk menghadapi tekanan tersebut.

Menurut Purbaya, berbagai skenario risiko telah diperhitungkan sejak awal dalam penyusunan kebijakan anggaran negara.

Selain mengandalkan intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing, pemerintah juga mulai menyiapkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik.

Langkah itu dilakukan guna mengendalikan lonjakan yield surat utang negara yang berpotensi memicu keluarnya dana asing dari pasar keuangan Indonesia.

“Kita nggak mau yield-nya terlalu tinggi. Kalau yield naik terlalu tinggi, asing yang pegang bond di sini kan ada capital loss. Dia akan keluar. Jadi kita kendalikan itu supaya asing nggak keluar atau malah masuk,” jelas Purbaya.

Pemerintah khawatir lonjakan imbal hasil obligasi negara dapat memperbesar risiko capital outflow atau arus modal keluar.

Jika investor asing melepas kepemilikan surat utang secara besar-besaran, tekanan terhadap rupiah diperkirakan akan semakin berat.

Karena itu, pemerintah bersama Bank Indonesia disebut terus memantau perkembangan pasar keuangan secara intensif untuk menjaga kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia.

Sementara itu, Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menjelaskan bahwa BSF merupakan bagian dari Bond Stabilization Framework yang sebelumnya pernah digunakan saat kondisi pasar keuangan mengalami tekanan tinggi.

Melalui skema tersebut, pemerintah dapat membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder untuk menjaga stabilitas harga obligasi dan menahan volatilitas pasar.

“Kalau Kementerian Keuangan tujuannya untuk menjaga agar yield tidak melonjak terlalu signifikan,” kata Juda.

Ia menjelaskan, dana untuk BSF berasal dari cadangan fiskal pemerintah, termasuk saldo anggaran lebih (SAL) serta dana cadangan lainnya yang memang disiapkan menghadapi gejolak pasar.

Meski rupiah melemah tajam, Juda menilai kondisi pasar keuangan nasional saat ini masih berada dalam kategori normal dan belum memasuki fase krisis.

Namun pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipatif agar gejolak tidak berkembang lebih besar.

Pelemahan rupiah kali ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, termasuk penguatan dolar AS dan ketegangan geopolitik internasional yang memicu aksi jual di pasar negara berkembang.

Pelaku pasar kini menanti langkah lanjutan Bank Indonesia dan pemerintah untuk menjaga kestabilan rupiah sekaligus mempertahankan arus investasi asing tetap masuk ke Indonesia.(*)

Sumber : Kontan.co.id/Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.