Regional Vice President-Asia Pacific STR Jesper Palmsqvuit menilai bahwa okupansi atau tingkat keterisian hotel-hotel mewah di Indonesia sudah kembali seperti saat sebelum pandemi COVID-19 dengan tingkat resilien yang lebih tinggi. Bahkan, kenaikannya melampaui kinerja segmen hotel lainnya
"Jadi ini merupakan sesuatu yang harus ditanggapi dengan sangat positif dan menjadikan proyeksinya pun untuk masa depan menjadi tinggi," kata Palmsqvuit dikutip dari Rabu (13/5/2026).
Palmsqvuit mengatakan minat wisatawan domestik terhadap wisata mewah di berbagai destinasi wisata saat ini terus berkembang. Kondisi itu dapat dilihat melalui data milik STR, yang menyatakan bahwa okupansi hotel mewah di Indonesia dalam periode 12 bulan hingga Maret 2026 sudah menyamai capaian sebelum pandemi yakni mencapai 64 persen.
Angka tersebut melampaui kinerja segmen hotel lainnya yang masih berada di bawah level pra-pandemi yang angkanya berada pada kisaran 59 persen. Di samping itu, dia menyebut tarif kamar hotel di Indonesia ikut mengalami kenaikan lebih dari 40 persen dibandingkan tahun 2019.
Salah satu wilayah yang disebutnya mengalami pertumbuhan sektor wisata mewah yang baik adalah Bali.
Merujuk pada sebuah data riset yang dilakukan oleh C9 Hotelworks, Bali saat ini menjadi penyumbang sekitar 25 persen nilai pasar branded residence (properti hunian mewah) di Indonesia.
Terdapat lebih dari 70 proyek pengembangan aktif yang tersebar di sejumlah kawasan wisata seperti Canggu, Berawa, Uluwatu, Seminyak sampai dengan Sanur.
Director Harmoni Bali Edward Kusma menyoroti untuk mengembangkan potensi Bali lebih maksimal, pemerintah perlu mengatasi sejumlah permasalahan seperti masih maraknya pembuangan sampah di destinasi wisata hingga akses air bersih di wilayah Bali Selatan.
Dia menyarankan agar pemerintah mematangkan pembangunan infrastruktur di beberapa wilayah, sehingga sektor branded recidence yang terhubung dengan layanan hotel dapat lebih maksimal.
Dia juga menyebut fasilitas lain yang dinilai memungkinkan untuk menambah durasi menetap di Bali seperti dibangunnya sekolah maupun rumah sakit internasional.
Direktur Pacific Asia Horwath HTL Matt Gebbie menambahkan bahwa pertumbuhan sektor wisata mewah di Indonesia tidak hanya soal peningkatan jumlah wisatawan, tetapi juga perubahan pola permintaan pasar.
"Untuk dapat membuka lebih banyak lokasi pariwisata di Indonesia, pertama-tama, kita membutuhkan akses. Mudah bagi wisatawan mewah untuk datang ke sana, karena lebih mudah untuk membantu lebih banyak orang datang, dan pada akhirnya, akan memberikan apa yang kita inginkan, yaitu tingkat hunian yang lebih tinggi untuk destinasi di sana," ujar Gebbie.





