Perang Iran vs AS, Jalur Darat Gurun Arab Jadi 'Napas' Baru Ekonomi Global Usai Selat Hormuz Lumpuh
Eri Ariyanto May 13, 2026 05:44 PM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Perang antara Iran dan Amerika Serikat kembali memicu ketegangan global yang berdampak luas terhadap stabilitas energi dunia.

Eskalasi konflik yang melibatkan dua kekuatan besar ini membuat kawasan Timur Tengah berada di ambang krisis yang lebih besar.

Selat Hormuz, yang selama ini menjadi jalur vital pengiriman minyak dunia, dilaporkan mengalami gangguan serius hingga berpotensi lumpuh.

Kondisi ini langsung mengguncang pasar energi global karena hampir seperlima pasokan minyak dunia melewati jalur strategis tersebut. 

Lonjakan harga minyak dan ketidakpastian distribusi energi pun mulai menghantui negara-negara importir, termasuk di Asia dan Eropa.

Di tengah kekacauan ini, muncul wacana baru mengenai jalur darat melalui gurun Arab sebagai alternatif distribusi energi global.

Rute darat tersebut dinilai lebih stabil secara geopolitik meski memiliki tantangan besar dari sisi infrastruktur dan biaya logistik.

Sejumlah analis menyebut skenario ini dapat mengubah peta perdagangan energi dunia jika krisis Selat Hormuz berlangsung lama.

Kini dunia menanti apakah jalur darat gurun Arab benar-benar mampu menjadi “napas baru” ekonomi global di tengah krisis yang terus memburuk.

Baca juga: Serangan Israel Kembali Mengguncang Lebanon Selatan, Dua Mobil Jadi Sasaran di Jalan Raya Utama

Seperti diketahui, penutupan Selat Hormuz akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah memaksa dunia menyaksikan kebangkitan kembali "kafilah gurun" modern. 

Jika berabad-abad lalu unta menjadi penopang perdagangan, kini ribuan truk berat dan jaringan kereta api lintas negara di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Oman menjadi katup pengaman yang menjaga stabilitas ekonomi global.

Setiap pengiriman yang berhasil melewati gurun pasir, mengurangi tekanan dari Selat Hormuz yang tertutup dan memberi ruang bagi pemerintah negara-negara Teluk untuk menunggu negosiasi.

Rute-rute truk tersebut merupakan bagian dari penataan ulang peta logistik regional yang lebih luas, dengan mengarahkan kembali perdagangan menjauhi Teluk Persia dan menyediakan rencana darurat yang sangat penting.

OPERASI KEBEBASAN - Tangkap layar Khaberni, Senin (4/5/2025) menunjukkan kapal perang Amerika Serikat (AS), di perairan sekitar Selat Hormuz. AS meluncurkan operasi Kebebasan dengan tujuan membuka blokade laut yang diterapkan Iran di wilayah tersebut.
OPERASI KEBEBASAN - Tangkap layar Khaberni, Senin (4/5/2025) menunjukkan kapal perang Amerika Serikat (AS), di perairan sekitar Selat Hormuz. AS meluncurkan operasi Kebebasan dengan tujuan membuka blokade laut yang diterapkan Iran di wilayah tersebut. ((Ist)/HO/IST/Tangkap Layar/Khaberni)

Keajaiban logistik Arab Saudi

Salah satu pemain utama dalam mobilisasi ini adalah Maaden, perusahaan pertambangan milik negara Arab Saudi. 

Dikutip dari The Wall Street Journal, Selasa (12/5/2026), CEO Maaden, Bob Wilt mengatakan, pihaknya melakukan manuver cepat dengan mengerahkan ribuan truk untuk mengangkut pupuk dari wilayah Teluk menuju pelabuhan Laut Merah.

"Dari 600 menjadi 1.600, lalu menjadi 2.000, sekarang kami memiliki 3.500 truk yang beroperasi sepanjang waktu dari Teluk hingga Laut Merah," ujarnya. 

Langkah ini sangat penting mengingat Arab Saudi adalah pengekspor fosfat terbesar ketiga di dunia, bahan utama pupuk yang mencegah krisis pangan global.

Meskipun biaya operasional jalur darat jauh lebih mahal dan kurang efisien dibandingkan pelayaran, lonjakan harga komoditas saat ini mampu menutup biaya tambahan tersebut. 

“Kami tidak merencanakan ini. Kita telah menunjukkan kemampuan kita. Mari kita perkuat ini dan selalu siapkan jalur menuju Laut Merah,” kata Wilt. 

Sekarang, dia sedang mempertimbangkan bagaimana menata ulang operasional perusahaan agar lebih mudah mengakses pusat-pusat ekspor yang baru menjadi penting. 

Analis dari perusahaan riset CRU bahkan menyebut respons cepat ini sebagai "keajaiban logistik Arab Saudi".

Dari pelabuhan kecil jadi gerbang utama pasar glonal

Perubahan drastis juga terlihat di Uni Emirat Arab (UEA). Pelabuhan Khor Fakkan yang terletak di Teluk Oman, di luar Selat Hormuz, kini menjadi jalur kehidupan bagi UEA. 

Sebelum konflik, lalu lintas truk di pelabuhan ini hanya berkisar 100 unit per hari, namun kini melonjak drastis hingga 7.000 unit per hari.

Volume kontainer mingguan pun meroket dari 2.000 menjadi 50.000 kontainer. 

CEO Gulftainer yang mengelola pelabuhan tersebut, Farid Belbouab mengibaratkan kecepatan adaptasi ini seperti menyusun orkestra dalam semalam. 

Pelabuhan yang dulunya hanya tempat transit kini berubah menjadi gerbang utama, dengan barang-barang langsung didistribusikan ke gudang dan pabrik melalui truk.

Peredam goncangan pasar global

Meskipun jalur darat tidak dapat sepenuhnya menggantikan kapasitas besar kapal tangki minyak atau mengatasi kekurangan bahan bakar jet, mobilisasi ini berfungsi sebagai peredam guncangan bagi pasar global.

Jaringan supermarket Spinneys di Uni Emirat Arab mengirimkan truk-truk yang bermuatan makanan Inggris, termasuk keripik kentang, oatmeal, dan camilan anak-anak, dalam perjalanan selama 16 hari dari Kent di Inggris melalui Eropa Barat, kemudian Mesir dan Arab Saudi, hingga ke Dubai.

Etihad Rail Freight baru-baru ini memindahkan ratusan mobil Nissan dari Fujairah, di pantai timur UEA, ke Abu Dhabi, yang terletak di Teluk Persia, menandai pengangkutan kendaraan pertama di negara itu menggunakan kereta api.

Konvoi truk merupakan contoh terbaru dari bagaimana ekonomi global menunjukkan ketahanan yang mengejutkan dalam menghadapi guncangan terkait perang. 

Meskipun ekspor terpenting di kawasan ini, minyak dan gas alam telah turun tajam, sejumlah besar barang terus dikirim ke pasar global melalui jalur cadangan.

(TribunNewsmaker.com/Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.