Laporan Wartawan Serambi Indonesia Masrizal | Banda Aceh
SERAMBINEWS.COM, BANDA ACEH - Setiap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) sejatinya memiliki kemampuan literasi yang sama dalam membangun kesadaran terhadap norma-norma yang berlaku di masyarakat.
Hal ini disampaikan politikus senior Pantai Golkar, Andi HS dalam diskusi terbatas Fraksi Golkar DPRA yang membahas agraria Aceh di ruang rapat fraksi tersebut di Gedung DPRA, Banda Aceh, Selasa (12/5/2026).
"Saya pikir Fraksi Golkar perlu menginisiasi diskusi seperti ini dan membuat pustaka besar, sehingga anggota DPRA dipandu oleh literasi," kata Andi yang menjabat Wakil Ketua DPP Partai Golkar ini.
Dengan demikian, apabila anggota DPRA kekurangan referensi dalam menyampaikan pendapat, maka bisa memperkayanya dengan membaca di pustaka.
"Anggota DPRA dari Golkar harus punya warna itu," ucapnya. "Nanti akan muncul kesadaran baru di Aceh, kalau bicara pertumbuhan Aceh, bicaranya dengan Golkar," tambah dia.
Menurut Andi, hal ini menjadi penting karena anggota DPRA merupakan perwakilan rakyat yang diberi mandatoris secara khusus untuk menata dan memperjuangkan kepentingan rakyat.
Baca juga: Salim Fakhry Tunjuk Ansari Muhammad sebagai Plt Ketua Golkar Aceh Besar
"Menurut saya, teman-teman di DPRA itu menjadi entitas yang membangun conscious (kesadaran) dalam menumbuhkan norma-norma," kata Andi.
Sebab, sambung Andi, setiap individu membutuhkan lingkungan yang diatur oleh norma-norma.
"Bahwa kita yang butuh lingkungan itu. Kalau rusak lingkungan itu, kita yang kena. Lingkungan tidak butuh kita," ujarnya.
Ia kemudian mencontohkan bagaimana rakyat negara-negara Skandinavia hidup dengan norma-norma yang sudah berakar sejak zaman dulu.
Negara-negara Skandinavia-- Norwegia, Swedia, dan Denmark, terkenal dengan sistem sosial yang sangat teratur.
Keseharian masyarakat di sana diatur oleh norma-norma sosial unik yang berfokus pada kesetaraan, kebersamaan, dan efisiensi.
Baca juga: Fraksi Golkar DPRA Bahas Revisi UUPA, Usulkan Dana Otsus Berlaku Sepanjang Usia UU
"Kalau kita lihat negara-negara Skandinavia, di negara mereka regulasi sedikit. Mereka diikat oleh norma.
Atau yang kita sebut adat istiadat. Adat istiadat itu bukan yang kita maksud selama ini. Tapi turunan dari perilaku," terang Andi. (*)