TRIBUNNEWSMAKER.COM - Josepha Alexandra atau yang akrab disapa Ocha akhirnya buka suara terkait polemik Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat yang belakangan viral di media sosial.
Siswi SMA Negeri 1 Pontianak itu mengaku tidak menyangka momen dalam perlombaan yang diikutinya bersama tim akan mendapat perhatian besar dari masyarakat luas.
Diketahui, nama Ocha menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan ketidakadilan dalam penilaian lomba.
Saat itu, timnya disebut telah memberikan jawaban yang benar, namun justru dinyatakan salah oleh dewan juri dan dikenai pengurangan poin sebesar minus lima.
Video peristiwa tersebut kemudian ramai beredar di media sosial hingga memicu banyak dukungan dari warganet kepada Ocha dan tim SMA Negeri 1 Pontianak.
Dalam pertemuannya dengan Ketua Komisi II DPR yang juga anggota MPR RI, Muhammad Rifqinizamy Karsayuda, di Jakarta, Rabu (13/5/2026), Ocha menyampaikan rasa terima kasihnya kepada masyarakat.
Baca juga: Polemik Lomba Cerdas Cermat, Disdik Kalbar Sebut Speaker Error, MPR Minta Maaf & Nonaktifkan Juri
Ia mengaku sangat terharu atas dukungan dan berbagai aspirasi positif yang diberikan publik kepada dirinya dan tim.
"Saya dan tim sebenarnya tidak menyangka bahwa atensinya bisa sebesar ini dan video yang tersebar juga booming (populer)," ujar Ocha, sebagaimana dipantau dari video YouTube KompasTV.
"Jadi dari saya dan tim berterima kasih kepada masyarakat atas dukungan dan aspirasi positifnya kepada kami," lanjutnya.
Tak hanya itu, Ocha berharap peristiwa yang dialaminya dapat menjadi pelajaran sekaligus motivasi untuk terus berkembang dan berprestasi ke depan.
Menurutnya, dukungan masyarakat menjadi penyemangat besar bagi dirinya dan tim SMA Negeri 1 Pontianak agar terus percaya diri dalam menunjukkan kemampuan mereka.
Polemik LCC Empat Pilar MPR RI sebelumnya memang menjadi perhatian nasional.
Banyak pihak menilai Ocha dan timnya menunjukkan sikap berani serta kritis saat mempertahankan jawaban yang diyakini benar.
Dukungan publik pun terus mengalir, bahkan sejumlah tokoh nasional ikut memberikan perhatian terhadap kasus tersebut.
Baca juga: Disalahkan Juri Cerdas Cermat, Josepha Alexandra Kini Bernasib Mujur, Dapat Beasiswa S1 ke Tiongkok
Kini, Ocha berharap semua perhatian yang diterimanya bisa menjadi energi positif untuk melangkah lebih maju di masa depan.
Rifqi yang merupakan alumni SMA Negeri 1 Pontianak mengaku dihubungi teman-teman SMA-nya dulu yang mengirimkan video LCC MPR yang diikuti Ocha dan kawan-kawan.
Rifqi mengatakan pada awalnya dirinya tidak terlalu memperhatikan lomba tersebut karena mengira kegiatan LCC tersebut sudah diselenggarakan MPR berkali-kali sejak lama.
"Tapi kemudian ketika saya cermati dua hal secara substansi memang ada kejanggalan yang cukup fatal," ujarnya.
Ia menyebut jawaban yang disampaikan oleh salah satu peserta dari SMAN 1 Pontianak persis mengutip ketentuan di dalam Undang-Undang Dasar dan Undang-Undang tentang Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait mekanisme pemilihan anggota BPK yang saat itu menjadi soal yang ditanyakan dalam LCC.
Rifqi mengatakan sebagai pembentuk undang-undang, dirinya tahu persis mana yang benar dan salah terkait hal itu.
"Ketika kemudian itu disalahkan, tentu ini menjadi persoalan," ucapnya.
Rifqi menyatakan dirinya lantas membuat video pernyataan resmi yang isinya meminta MPR untuk segera membuat klarifikasi secara utuh dan meminta maaf secara terbuka.
Ia juga meminta dua orang dewan juri yang kebetulan merupakan pegawai negeri sipil (PNS) di lingkungan MPR RI untuk menyampaikan permohonan maaf secara fair.
"Karena bagi saya ini bukan soal siapa yang menang siapa yang salah, ini soal angle di mana fair atau tidak fair pelaksanaan lomba ini dilakukan," ucapnya.
Rifqi menambahkan, poin penting lain yang ingin ditegaskannya adalah MPR harus tetap memosisikan Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar sebagai lomba yang prestisius.
Rifqi menekankan, peristiwa yang terjadi kepada Ocha bisa saja terulang lagi jika pihak penyelenggara tidak melakukan evaluasi dan perbaikan.
Sebab, dewan juri diduga memberikan penilaian berbeda terhadap jawaban yang sama dari peserta.
Dipantau dari tayangan YouTube MPR yang kembali ditayangkan KompasTV, Grup C dari SMAN 1 Pontianak dalam LCC tersebut mendapat nilai -5 (minus 5) untuk jawaban terkait proses pemilihan anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Namun, saat jawaban yang sama disampaikan Grup B dari SMAN 1 Sambas, alih-alih menilai salah, dewan juri membenarkan jawaban tersebut dan memberikan nilai 10.
Perbedaan penilaian itu pun memicu tanda tanya dan protes dari peserta.
Dalam perkembangannya, Sekretariat Jenderal MPR RI menonaktifkan dewan juri dan pembawa acara atau MC pada kegiatan LCC Empat Pilar MPR RI di Provinsi Kalimantan Barat.
MPR RI menjelaskan, penonaktifan tersebut berkaitan dengan penilaian dewan juri atas jawaban dari salah satu peserta.
“Panitia pelaksana dari Sekretariat Jenderal MPR RI telah menonaktifkan Dewan Juri dan MC pada kegiatan LCC ini,” bunyi keterangan dalam unggahan di akun Instagram @mprgoid, Selasa (12/5/2026).
(Tribunnewsmaker.com/Kompas.tv/Tri Angga Kriswaningsih)