Oleh: Isa Elfianto - Peneliti Prospect Institute
DI tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, penggunaan sedotan plastik masih menjadi kebiasaan yang sulit ditinggalkan. Kebiasaan menggunakan sedotan plastik menunjukkan bahwa masyarakat masih sering mengutamakan kepraktisan dibandingkan tanggung jawab lingkungan.
Banyak orang menganggap sedotan plastik hanyalah benda kecil yang tidak memberikan dampak besar. Padahal, di balik bentuknya yang sederhana, sedotan plastik menyimpan ancaman serius bagi lingkungan.
Sedotan plastik termasuk kategori single-use plastic atau plastik sekali pakai. Artinya, produk ini umumnya hanya digunakan dalam hitungan menit sebelum akhirnya dibuang menjadi sampah residu. Ironisnya, limbah tersebut membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai di alam.
Sebagian besar sedotan plastik diproduksi dari bahan polypropylene (PP) yang dikenal tahan panas dan aman digunakan untuk makanan (food grade) (Abdullah et al., 2020). Meski demikian, aman digunakan bagi manusia bukan berarti aman bagi lingkungan juga. Setelah dibuang, sedotan plastik dapat mencemari tanah, sungai, paling jauh hingga mencapai lautan.
Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) (Safitri & Ika, 2022), Indonesia menghasilkan sekitar 93 juta ton sampah sedotan plastik setiap tahun. Sedotan plastik bahkan termasuk dalam 10 penyumbang terbesar sampah plastik di laut dunia (Ocean Conservancy, 2017).
Tidak hanya di Indonesia, persoalan sampah plastik juga menjadi ancaman global. Penelitian Jambeck et al. (2015) menyebutkan bahwa pada tahun 2010 terdapat sekitar 275 juta metrik ton sampah plastik yang dihasilkan oleh 192 negara pesisir dunia. Dari jumlah tersebut, sekitar 4,8 hingga 12,7 juta metrik ton diperkirakan masuk ke lautan.
Besarnya jumlah limbah plastik tersebut pada akhirnya membawa risiko yang serius terhadap ekosistem. Terlebih lagi, World Economic Forum (2016) memprediksi bahwa jumlah sampah plastik di lautan dapat melampaui jumlah ikan pada tahun 2050 apabila tidak ada upaya serius untuk mengatasinya. Data ini menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah berkembang menjadi krisis lingkungan internasional yang memerlukan perhatian bersama.
Dampak pencemaran plastik terhadap ekosistem tidak dapat dianggap remeh. Banyak satwa liar salah mengenali potongan plastik sebagai makanan, bahkan sampai terjerat, seperti penyu yang viral terdokumentasi (Fauziah & Adinaya, 2018). Sedotan plastik yang tertelan dapat menyebabkan gangguan pencernaan, keracunan, bahkan hingga kematian. Kondisi ini menunjukkan bahwa limbah plastik bukan hanya persoalan estetika lingkungan, tetapi juga ancaman nyata bagi keberlangsungan makhluk hidup.
Permasalahan tersebut makin mengkhawatirkan bila dikaitkan dengan kondisi pengelolaan sampah di Indonesia. Saat ini, Indonesia menghadapi persoalan serius terkait peningkatan volume sampah setiap tahun. Sejumlah tempat pembuangan akhir (TPA) bahkan diperkirakan akan mengalami over kapasitas pada tahun 2028 (Wiryono & Prabowo, 2026). Jika penggunaan plastik sekali pakai terus dibiarkan tanpa pengendalian, maka krisis sampah berpotensi menjadi makin sulit diatasi.
Melihat besarnya dampak pencemaran plastik, perubahan kebiasaan masyarakat dalam menggunakan produk sekali pakai menjadi hal yang mendesak. Penggunaan alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti sedotan stainless steel, sedotan bambu, sedotan kertas, maupun sedotan bioplastik, perlu didorong secara lebih luas. Selain dapat digunakan kembali, beberapa alternatif tersebut juga lebih mudah terurai sehingga mampu mengurangi pencemaran lingkungan. Di samping itu, dukungan pemerintah dan pelaku usaha diperlukan untuk membatasi penggunaan plastik sekali pakai dalam kehidupan sehari-hari.
Pada akhirnya, menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari tindakan besar. Mengurangi penggunaan sedotan plastik dapat menjadi langkah sederhana yang memberikan dampak positif bagi masa depan bumi.
Kesadaran lingkungan juga tidak harus menunggu seseorang mampu menerapkan gaya hidup bebas plastik secara sempurna. Kebiasaan kecil, seperti mengurangi penggunaan sedotan plastik, tetap memiliki arti penting apabila dilakukan secara konsisten dan kolektif. Dengan demikian, langkah sederhana tersebut dapat menjadi kontribusi nyata dalam menjaga keberlanjutan lingkungan bagi generasi mendatang. (*)