Cerita Sunarto, Petani di OKU Timur Pilih Tanam Daun Bawang : Harga Jual Lebih Tinggi
Sri Hidayatun May 16, 2026 02:32 PM

TRIBUNSUMSEL.COM, MARTAPURA - Di tengah hamparan persawahan yang membentang luas, aktivitas panen daun bawang milik Sunarto berlangsung penuh kesibukan.

Sejak pagi hari, para pekerja terlihat mencabut daun bawang yang telah siap panen, membersihkan akar dan daun kering, lalu mengikatnya menjadi beberapa ikatan sebelum dibawa untuk dipasarkan. 

Tumpukan daun bawang segar yang memenuhi pondok sederhana di pinggir kebun menjadi tanda hasil panen yang cukup menggembirakan.

Lahan tanam daun bawang milik Sunarto seluas kurang lebih 1.250 meter per segi atau sekitar 25 meter x 50 meter itu tampak tertata rapi menggunakan mulsa plastik.

Barisan tanaman hijau tumbuh subur di tengah cuaca cerah, menunjukkan perawatan yang dilakukan secara rutin selama masa tanam. 

Menurut Sunarto, daun bawang yang ia budidayakan dapat dipanen dalam waktu sekitar satu bulan setelah ditanam.

“Kalau perawatannya bagus dan cuaca mendukung, umur satu bulan sudah bisa dipanen. Yang penting penyiraman dan pemupukan jangan terlambat,” ujar Sunarto saat ditemui di lokasi kebun, Sabtu (16/5/2026).

Ia mengatakan, hasil panen kali ini cukup membantu memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih harga daun bawang di tingkat petani saat ini berada di kisaran Rp17.000 per kilogram. 

Baca juga: Hama Sundep dan Ancaman Iklim, Jadi Biang Kecemasan Para Petani Padi OKU Timur

Dengan harga tersebut, para petani masih bisa merasakan keuntungan meski biaya perawatan tanaman dan pupuk terus mengalami kenaikan.

“Alhamdulillah harga sekarang lumayan bagus, sekitar Rp17 ribu per kilo. Jadi hasil panen masih bisa menutupi biaya perawatan dan ada sisa untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Sunarto menuturkan, budidaya daun bawang membutuhkan ketelatenan karena tanaman harus dirawat setiap hari agar tetap tumbuh optimal. 

Selain menjaga kelembapan tanah, petani juga harus rutin membersihkan gulma dan mengantisipasi serangan hama yang dapat merusak tanaman.

“Kalau daun bawang ini memang harus rajin dicek. Kadang ada ulat atau daun mulai menguning, jadi harus cepat ditangani supaya hasilnya tetap bagus,” jelasnya.

Meski demikian, ia mengaku tetap bersyukur karena permintaan pasar terhadap daun bawang cukup stabil. Hasil panen biasanya dijual ke pengepul dan pasar tradisional di sekitar wilayah setempat.

Dalam sekali panen, sebagian hasil juga langsung dipesan pedagang untuk kebutuhan sayur mayur harian.

Di balik aktivitas sederhana di kebun tersebut, terlihat jelas bagaimana kerja keras para petani menjadi penopang ekonomi keluarga sekaligus penyedia kebutuhan pangan masyarakat. 

Semangat Sunarto dalam mengelola lahan pertaniannya menjadi gambaran ketekunan petani desa yang terus bertahan dan produktif di tengah berbagai tantangan pertanian saat ini.

Ikuti dan gabung di saluran WhatsApps Tribunsumsel.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.