TRIBUNJAMBI.COM - Saat ini nilai tukar rupiah ke dollar semakin lemah.
Per Sabtu (16/5/2026) satu dollar AS dihargai Rp17.600.
Lantas barang apa yang akan terimbas melemahnya nilai tukar rupiah ini?
Pelemahan rupiah dinilai berisiko mendorong kenaikan harga sejumlah barang konsumsi, mulai dari pangan impor, gadget, obat-obatan, hingga suku cadang kendaraan.
Pangan impor paling cepat terdampak
Dalam kondisi rupiah melemah hari ini, kenaikan harga biasanya paling cepat terjadi pada produk pangan yang bahan bakunya masih diimpor, seperti gandum dan kedelai.
Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi mengatakan harga bahan baku impor di tingkat produsen mulai naik sejak akhir April 2026 dan berpotensi diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan.
“Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik,” ujar Rahma.
Di sisi lain, Indonesia juga masih mengimpor gandum, kedelai, bawang putih, susu, hingga berbagai bahan baku pangan lainnya.
Baca juga: Update Kebakaran Gudang Minyak Jambi, Warga Dengar 7 Kali Ledakan
Baca juga: Mengaku Menanggung Beban Finansial, Seorang Advokat Gugat UU Perkawinan ke MK
Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat karena transaksi menggunakan dollar AS.
Dampaknya tidak hanya terasa pada produk impor langsung, tetapi juga makanan olahan yang memakai bahan baku impor.
Kenaikan harga gandum, misalnya, dapat memengaruhi harga roti, biskuit, mi instan, hingga pakan ternak.
Karena itu, sembako naik karena rupiah melemah menjadi salah satu risiko yang mulai diwaspadai pelaku pasar dan konsumen.
Setelah pangan, tekanan kurs rupiah juga biasanya cepat terasa pada produk elektronik dan gadget.
Hal ini karena sebagian besar komponen elektronik, semikonduktor, hingga perangkat jadi masih bergantung pada impor dan transaksi global berbasis dollar AS.
Produk seperti telepon seluler, laptop, televisi, konsol gim, kamera, hingga perangkat rumah tangga elektronik berpotensi mengalami penyesuaian harga lebih cepat dibandingkan barang lain.
Distributor dan retailer umumnya mulai menyesuaikan harga ketika stok lama habis dan digantikan barang impor baru dengan kurs yang lebih mahal.
Tekanan serupa juga dapat terjadi pada aksesori elektronik, suku cadang komputer, hingga perangkat jaringan internet yang mayoritas masih didatangkan dari luar negeri.
Pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi harga obat-obatan dan kosmetik.
Indonesia masih mengimpor bahan baku farmasi dalam jumlah besar. Ketika kurs dollar AS naik, biaya produksi industri farmasi otomatis meningkat.
Baca juga: Kronologi 375 Gram Emas Ilegal Diamankan Petugas Bandara Sultan Thaha Jambi
Kondisi tersebut dapat berdampak pada harga obat, vitamin, alat kesehatan, hingga produk perawatan tubuh dan kosmetik yang menggunakan bahan baku impor.
Sementara di sektor otomotif, kenaikan kurs dollar AS dapat meningkatkan harga suku cadang, ban, pelumas, hingga komponen elektronik kendaraan.
Kenaikan biaya operasional transportasi juga mulai menjadi perhatian seiring mahalnya suku cadang kendaraan yang mayoritas masih impor.
Di saat yang sama, tekanan kurs dan kenaikan harga minyak dunia mulai berdampak pada harga BBM nonsubsidi.
Kenaikan biaya energi dinilai dapat memicu efek berantai terhadap ongkos logistik dan distribusi barang.
Jika biaya distribusi meningkat, harga barang lokal pun berisiko ikut terdorong naik karena rantai pasok menjadi lebih mahal. (*)
Sumber: Kompas
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi
Baca juga: Gagal Berangkat Umrah, Jamaah NRH Jambi Mengaku Sudah Bayar Rp152 Juta
Baca juga: Daftar Tarif Listrik PLN perkWH pada Mei 2026 untuk Semua Golongan