POSBELITUNG.CO--Kapal pesiar MV Hondius yang tengah berlayar dari Amerika Selatan menuju Afrika dan Eropa berubah menjadi pusat perhatian dunia setelah wabah Hantavirus menyerang para penumpangnya.
Salah satu suara paling menyentuh datang dari Jake Rosmarin, seorang blogger traveler asal Boston, Amerika Serikat, yang ikut berada di dalam kapal saat wabah terjadi.
Melalui video TikTok yang viral dan ditonton jutaan orang, Rosmarin menggambarkan suasana mencekam di dalam kapal setelah tiga penumpang meninggal dunia akibat dugaan infeksi Hantavirus.
Perjalanan wisata selama 35 hari yang awalnya dipenuhi antusiasme kini berubah menjadi pengalaman traumatis bagi sekitar 150 penumpang dari 23 negara yang berada di kapal tersebut.
Dalam video yang diunggah pada 5 Mei 2026, Rosmarin tampak menahan tangis saat menceritakan kondisi psikologis para penumpang yang mulai dilanda rasa takut dan kecemasan.
Ungkapan itu langsung menyentuh perhatian publik dunia. Banyak warganet menyampaikan simpati sekaligus doa bagi keselamatan para penumpang.
Rosmarin mengaku ketidakjelasan situasi menjadi bagian paling berat yang harus mereka hadapi selama berada di kapal.
Menurutnya, seluruh penumpang hanya ingin mendapatkan kepastian, rasa aman, dan kesempatan kembali pulang ke rumah masing-masing.
Baca juga: Prabowo Siapkan Tanda Kehormatan untuk Kapolri dan Panglima TNI, Puji Peran di Ketahanan Pangan
Wabah di kapal diketahui bermula ketika seorang pria asal Belanda berusia 70 tahun mengalami sakit pada 6 April 2026 saat kapal masih berada di tengah pelayaran.
Pria tersebut mengalami gejala demam tinggi, sakit kepala, sakit perut, diare, hingga gangguan pernapasan.
Kondisinya terus memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada 11 April 2026.
Saat itu, penyebab kematian belum diketahui secara pasti sehingga jasad korban tetap berada di kapal selama hampir dua minggu.
Pada 24 April, kapal akhirnya berlabuh di Saint Helena dan jasad korban dipulangkan ke Belanda bersama istrinya yang berusia 69 tahun.
Namun situasi kembali memburuk ketika sang istri juga mulai mengalami gangguan kesehatan dalam perjalanan pulang.
Wanita tersebut sempat pingsan di Bandara Tambo, Johannesburg, Afrika Selatan, sebelum akhirnya meninggal dunia pada 26 April 2026.
Belakangan, hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan korban terpapar Hantavirus.
Di tengah kepanikan yang mulai menyelimuti kapal, seorang penumpang asal Inggris juga mengalami gejala serupa berupa demam dan sesak napas.
Kondisinya memburuk ketika kapal berada di sekitar Pulau Ascension.
Pada 27 April, pria tersebut diterbangkan ke Afrika Selatan untuk mendapatkan perawatan intensif.
Hasil laboratorium yang keluar beberapa hari kemudian memastikan pria Inggris itu positif Hantavirus.
Belum reda ketegangan di kapal, seorang wanita asal Jerman kembali jatuh sakit pada 28 April.
Ia mengalami kesulitan bernapas sebelum akhirnya meninggal dunia pada 2 Mei 2026.
Kematian ketiga tersebut membuat suasana di dalam kapal berubah drastis. Para penumpang mulai ketakutan dan khawatir wabah akan semakin meluas.
Baca juga: Catat, BPOM Tarik 11 Kosmetik Berbahaya dari Peredaran, Sampo Anti Ketombe Populer Ikut Disorot
Ketika kapal tiba di sekitar Cape Verde pada 3 Mei, situasi semakin rumit.
Tiga penumpang lainnya dilaporkan mengalami demam tinggi, termasuk dokter kapal.
Otoritas kesehatan Cape Verde langsung melarang kapal berlabuh dan tidak mengizinkan penumpang yang sakit turun ke daratan.
Keputusan itu membuat para penumpang terisolasi di tengah laut sambil menunggu hasil koordinasi internasional.
Pada 4 Mei, kapal akhirnya diizinkan berlabuh di Praia, pelabuhan utama Cape Verde.
Namun seluruh aktivitas dilakukan dengan pengawasan ketat otoritas kesehatan dan tim medis internasional.
Meningkatnya jumlah korban membuat World Health Organization turun tangan melakukan investigasi bersama otoritas kesehatan setempat.
WHO menyebut Hantavirus merupakan virus langka yang umumnya ditularkan melalui kontak dengan tikus, urine, kotoran, atau cairan tubuh hewan pengerat lainnya.
Dalam kondisi tertentu, virus juga dapat menular melalui gigitan maupun cakaran tikus.
Tim medis kemudian melakukan pemeriksaan intensif terhadap seluruh penumpang dan awak kapal.
Pada 6 Mei, beberapa penumpang yang diduga terinfeksi dievakuasi menggunakan perlengkapan hazmat sebelum diterbangkan ke Belanda untuk mendapat penanganan lebih lanjut.
Setelah negosiasi panjang antara WHO dan pemerintah Spanyol, MV Hondius akhirnya diizinkan melanjutkan perjalanan menuju Kepulauan Canary.
Kapal dijadwalkan berlabuh di Tenerife untuk proses evakuasi dan pemulangan penumpang.
Menteri Kesehatan Spanyol Monica Garcia mengatakan seluruh penumpang non-warga Spanyol yang dinyatakan sehat akan dipulangkan ke negara asal masing-masing.
Sementara 14 warga Spanyol akan menjalani karantina khusus di rumah sakit militer Madrid.
Meski demikian, keputusan pemerintah pusat Spanyol memicu penolakan dari pemerintah regional Canary Islands.
Presiden Wilayah Kepulauan Canary Fernando Clavijo menyebut keputusan menerima kapal belum didasarkan pada pertimbangan teknis yang matang.
Di tengah situasi penuh ketidakpastian, kondisi para penumpang dilaporkan mulai stabil.
Salah satu penumpang, Kasem Hato, mengatakan para awak kapal terus memberikan pembaruan informasi dan menerapkan protokol kesehatan ketat.
“Orang-orang menanggapi situasi ini dengan serius tetapi tanpa kepanikan,” katanya.
Penumpang diminta menjaga jarak, menggunakan masker, dan rutin memakai hand sanitizer selama berada di dalam kapal.
Meski aktivitas terbatas, sebagian penumpang berusaha menjaga kondisi mental dengan membaca buku, menonton film, hingga berkumpul menikmati minuman hangat.
Beberapa hari setelah video pertamanya viral, Jake Rosmarin kembali mengunggah perkembangan terbaru kondisi di kapal.
Dalam video yang diunggah 7 Mei 2026, Rosmarin menyebut para penumpang yang terduga terinfeksi telah berhasil dievakuasi.
Ia juga mengatakan suasana di kapal mulai lebih tenang dibanding beberapa hari sebelumnya.
“Selain dua penumpang yang terdampak dan sudah dievakuasi, semua orang lain di kapal dalam keadaan baik dan tetap bersemangat,” ujarnya.
Meski demikian, pengalaman traumatis tersebut dipastikan meninggalkan bekas mendalam bagi banyak penumpang yang berada di kapal.
Bagi mereka, perjalanan wisata yang seharusnya menjadi petualangan indah kini berubah menjadi mimpi buruk yang akan terus diingat sepanjang hidup.(*)
(TribunTrends.com/Kompas.com)