TRIBUNBANYUMAS.COM, PURWOKERTO - Mendoan yang selama ini identik dengan gorengan hangat di warung pinggir jalan Banyumas, kini diangkat menjadi film dokumenter yang digarap serius menembus festival film nasional hingga internasional.
Film dokumenter bertajuk Polifoni Mendoan resmi merampungkan proses pengambilan gambar di sejumlah lokasi di Kabupaten Banyumas.
Proyek tersebut merupakan penerima hibah Dana Indonesiana milik Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2025 dalam skema Karya Kreatif Inovatif yang dikelola melalui dana abadi kebudayaan nasional.
Sutradara film sekaligus penerima hibah, King Anugrah Wiguna, mengatakan film ini mencoba melihat mendoan bukan sekadar makanan khas Banyumas, melainkan produk budaya yang menyimpan banyak lapisan cerita sosial dan identitas masyarakat.
Menurutnya, mendoan merupakan kuliner khas Banyumas yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), namun belum pernah didokumentasikan secara mendalam sebagai subjek gastronomi lokal.
"Mendoan ada di mana-mana, tapi jarang sekali kita benar-benar mendiskusikannya," kata King kepada Tribunbanyumas.com, dalam rilisnya, Sabtu (16/5/2026).
Ia menilai, kedekatan masyarakat Banyumas dengan mendoan menjadi sesuatu yang unik dibanding makanan tradisional lain di berbagai daerah.
Baca juga: 2 PLTU di Jawa Tengah Terapkan Co-Firing, Pakai Serbuk Gergaji: Berpotensi Petani Terusir dari Lahan
"Mendoan bisa ditemukan di mana saja dan kapan saja. Kedekatan seperti itu sulit ditemukan pada makanan khas daerah lain," ujarnya.
Film ini lahir dari diskusi antara King bersama penulis naskah Abdul Aziz Rasjid.
Keduanya kemudian mengembangkan gagasan tentang mendoan sebagai simbol keseharian masyarakat Banyumas yang selama ini dianggap biasa, namun menyimpan banyak cerita di baliknya.
Dalam proses produksinya, Polifoni Mendoan menggunakan format dokumenter Poetic-Expository dengan empat fragmen utama yang membawa penonton menyusuri berbagai lapisan cerita mendoan.
Konsep yang diusung adalah polifoni, yakni menghadirkan banyak suara dari para pengrajin, penjual hingga penikmat mendoan.
"Mendoan adalah polifoni. Berisi beragam suara yang berasal dari para pengrajin, penjual, dan penikmatnya yang berlapis-lapis. Suara yang mungkin tidak senada karena keragamannya. Kami datang, mendengarkan dan merekam harmoninya," ujar King.
Untuk memperkuat narasi film, tim produksi memilih aktor Aksara Dena sebagai narator utama.
Nama Aksara Dena dikenal melalui sejumlah film dan serial seperti AUM!, 13 Bombs, Cigarette Girl, Tumbal Darah hingga Losmen Bu Broto: The Series.
King menyebut kapasitas akting Aksara Dena serta kedekatannya dengan budaya Banyumas menjadi alasan utama pemilihannya sebagai pengisi suara narasi film.
Baca juga: Agustina Wilujeng Gercep Tangani Banjir Tugu-Ngaliyan, Pembersihan dan Penanganan Tanggul Dikebut
Produksi pengambilan gambar dilakukan di sejumlah titik di Banyumas, mulai dari Desa Pliken yang dikenal sebagai sentra pengrajin tempe, kawasan Kota Purwokerto, hingga warung-warung malam di Baturaden dan Desa Kebocoran.
Saat ini, seluruh tahapan riset, observasi lapangan, penyusunan naskah hingga proses syuting telah selesai dilakukan.
Adapun tim produksi film ini seluruhnya berbasis di Banyumas dan Purwokerto.
Selain King dan Abdul Aziz Rasjid, proyek ini turut melibatkan Krisna Aditya sebagai Direktur Fotografi, Hasna Aulia sebagai Asisten Sutradara, Rida Purnamasari sebagai ilustrator, Reno Kristanto sebagai penata suara, Rifqi Akmal sebagai fotografer, Farobi Fatkhurridho sebagai produser dan Aldy Daffa sebagai asisten produser.
Film dokumenter Polifoni Mendoan ditargetkan rampung pada pertengahan tahun 2026 dan direncanakan mengikuti sejumlah festival film nasional maupun internasional. (jti)