Kisah Dongeng Antoine Semenyo, dari Pemain Non-Liga Sampai Jadi Pahlawan Man City di Piala FA
Salma Fenty May 17, 2026 10:30 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Kisah dongeng Antoine Semenyo di kompetisi piala sepak bola tertua dunia, Piala FA Inggris membawa Manchester City mengalahkan Chelsea di laga final yang berlangsung di Wembley Stadium pada Sabtu (16/5/2026) malam.

Antoine Semenyo mencetak satu-satunya gol yang berkesudahan dengan skor 1-0 untuk kemenangan Man City atas The Blues.

Ia memanfaatkan umpan Erling Haaland dengan melakukan tendangan backheel untuk merubah laju bola dan mengecoh pada pemain Chelsea, termasuk sang kiper Robert Sanchez pada menit ke-71.

Antoine Semenyo keluar sebagai pahlawan bagi tim asuhan Pep Guardiola, dengan golnya membawa Man City meraih gelar kedua setelah Carabao Cup pada musim ini.

Menariknya, kisah-kisah perjalanan Semenyo dari yang dulu bermain jauh dari kasta tertinggi sepak bola Inggris, kini menjadi salah satu pemain paling memukau di level tersebut.

Kisah-kisah Antoine Semenyo

Delapan tahun lalu di kelompok usia 18 tahun, Antoine Semenyo masih bermain di akademi Bristol City (klub Championship).

Ia sempat menjalani masa peminjaman dengan klub non-liga, kasta keenam di sepak bola Inggris, National League Youth, yakni Bath City.

Seiring berjalannya waktu, Semenyo mulai mendapatkan tempat di Bristol City. Ia juga sempat menjalani masa peminjaman dengan klub League Two (kasta keempat) dengan Newport City pada tahun 2018.

Masa yang kemudian tidak berubah hingga tahun 2023, ketika ia pindah dari Britol ke Sunderland, kembali lagi ke Bristol, sebelum akhirnya dipinang Bournemouth yang mengendus bakat dan kemampuannya.

Bournemouth ketika itu masih dibesut oleh Gary O'Neil saat Semenyo gabung pada Januari 2023.

Pada pertengahan tahun, Andoni Iraola datang ke klub yang berjuluk The Cherries itu. Inilah yang menjadi masa-masa terbaik Semenyo hingga dilirik Pep Guardiola untuk dibawa ke Etihad Stadium.

Semenyo gabung dengan Man City pada transfer musim dingin 2026, dan tidak butuh waktu lama bagi pemain yang kini berusia 26 tahun itu beradaptasi dan menjadi sosok sentral dalam permainan tim di sisi sayap kanan.

Gol Semenyo ke gawang Chelsea memastikan gelar ke-16 untuk Pep Guardiola selama masa kariernya sebagai pelatih, dan menjadi trofi ke-20 dalam masa jabatannya di Man City.

"Sejak kecil saya selalu ingin bermain untuk tim-tim papan atas, butuh waktu lama untuk sampai ke sana, tetapi saya bersyukur," kata Semenyo, dikutip dari BBC.

"Saya belum pernah berkompetisi memperebutkan trofi seperti ini sebelumnya, jadi semuanya baru bagi saya. Ini adalah hasil yang bagus, saya tidak bisa bohong," lanjutnya.

Piala FA adalah trofi kedua bagi Semenyo setelah Carabao Cup dengan mengalahkan Arsenal pada Maret lalu.

Sorak Gembira untuk Semenyo

Antoine Semenyo tidak butuh adaptasi dengan permainan Pep Guardiola. Pemain yang delapan tahun lalu itu masih bermain jauh dari level elit, bertransformasi menjadi sosok yang bisa membanggakan banyak orang.

Lantunan melodi 'Just the Way You Are' menggema di bagian barat Stadion Wembley dari pada suporter Man City, mereka bersorak gembiran menyanyikannya untuk Semenyo.

Pahlawan baru klub telah tiba dengan membentuk satu kesatuan tim yang solid sebagai pesaing gelar.

Setelah dua trofi dalam genggaman, kini saatnya Semenyo merebut trofi Liga Inggris dari Arsenal jika memungkinkan di sisa laga musim ini.

Selain trofi Piala FA, semenyo juga mendapat predikat pemain terbaik di ajang tersebut, sekaligus membantu Man City menjadi tim pertama yang memenangkan 100 persen pertandingan mereka di kedua kompetisi tersebut (carabao Cup).

Jauh sebelum malam pesta pora ini terjadi di Wembley, saat debut melawan Exeter di Piala FA, Antoine Semenyo mencetak gol dalam kemenangan 10-1 Man City.

Hingga akhir kompetisi, Semenyo menjadi salah satu pemain dengan keterlibatan gol paling banyak, sejumlah lima gol (3 gol, 2 assist).

Di Liga Inggris, Semenyo sudah menghasilkan enam gol dan satu assist untuk Man City.

"Hal pertama yang dikatakan Pep kepada saya ketika pertama kali datang adalah 'jangan mengubah gaya bermainmu'," beber Semenyo.

"Dia tahu kami banyak mengontrol permainan, dia tetap saya ingin menjadi diri saya sendiri, tetap menciptakan sedikit kekacauan," sambungnya.

Ya, masalah yang sempat terjadi di awal musim karena kurang agresifnya lini serang. Ditambah dengan rapuhnya lini pertahanan seiring pemain cedera.

Oleh sebab itu Pep mendatangkan Marc Guehi dan Semenyo pada jendela transfer musim dingin.

Kedatangan Guehi dan Semenyo berperan vital dan memberikan dampak yang begitu responsif dari Man City.

Kini, mereka hanya memerlukan beberapa pertandingan lagi, sambil berharap Arsenal terpeleset untuk meraih treble Liga Inggris.

Tidak ada waktu untuk merayakan kemenangan FA, laga berat melawan Bournemouth sudah di depan mata, dan akan menjadi pertandingan krusial dalam langkah The Citizens untuk merebut trofi Liga Inggris.

Kemudian ditutup dengan pertandingan melawan Aston Villa di akhir musim.

(Tribunnews.com/Sina)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.