TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Lemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat nyatanya tak selalu menjadi kabar buruk bagi seluruh sektor usaha di pasar saham.
Di tengah tekanan kurs, sejumlah industri justru berpotensi menikmati peningkatan keuntungan.
Kepala Wilayah Bursa Efek Indonesia Kaltimtara, Ferdinan Sihombing mengatakan, dampak pelemahan rupiah sangat bergantung pada model bisnis masing-masing perusahaan.
Menurutnya, perusahaan yang bergantung pada impor bahan baku menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Termasuk juga, perusahaan lain yang memiliki utang dalam mata uang asing juga berisiko mengalami tekanan keuangan akibat beban pembayaran yang meningkat.
Baca juga: Dampak Rupiah Melemah, Pasar Saham di Kaltimtara Ikut Bergejolak
"Perusahaan yang banyak melakukan impor pasti akan menghadapi kenaikan biaya produksinya," jelasnya, (18/5/2026).
Ia mencontohkan, industri yang menggunakan bahan baku impor seperti gandum, susu, kedelai hingga bahan baku farmasi akan menghadapi lonjakan biaya operasional ketika nilai dolar naik.
Sehingga, kenaikan biaya produksi tersebut dapat menekan laba bersih perusahaan.
"Perusahaan farmasi misalnya, bahan baku obatnya masih banyak diimpor dari luar negeri," tambahnya.
Di sisi lain, lemahnya rupiah justru menjadi keuntungan bagi sektor berbasis ekspor.
Ferdinan menjelaskan, perusahaan yang menjual produknya ke pasar internasional akan menerima pendapatan dalam mata uang asing.
Dengan begitu, nilai pendapatannya akan meningkat ketika dikonversi ke rupiah. Seperti, sektor tambang dan perkebunan menjadi contoh industri yang berpotensi memperoleh keuntungan dari situasi tersebut.
"Kalau perusahaan yang orientasinya ekspor seperti tambang atau kelapa sawit, biasanya akan diuntungkan," ungkapnya.
Kondisi serupa juga diperkirakan terjadi di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara yang selama ini memiliki dominasi sektor sumber daya alam.
Meski jumlah emiten di Kaltimtara masih terbatas, bagi Ferdinan, perusahaan dengan basis ekspor diperkirakan tetap mampu mencatat kinerja positif di tengah tekanan kurs.
Sebaliknya, perusahaan yang masih mengandalkan bahan baku impor diperkirakan akan mengalami kenaikan biaya operasional.
Tak ayal, kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi perusahaan untuk menjaga stabilitas keuangan di tengah fluktuasi nilai tukar.
"Perusahaan yang bahan produksinya impor otomatis biayanya makin besar sehingga bisa memengaruhi laba bersihnya," pungkasnya. (*)
Penulis: Ardiana
Caption: Lemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat nyatanya tak selalu menjadi kabar buruk bagi seluruh sektor usaha di pasar saham. Di tengah tekanan kurs, sejumlah industri justru berpotensi menikmati peningkatan keuntungan. (Tidak ada foto).