TRIBUNKALTIM.CO, BALIKPAPAN - Lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang menembus angka Rp 17.661 memberi dampak besar terhadap pasar modal nasional, termasuk di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Kepala Wilayah Bursa Efek Indonesia Kaltimtara, Ferdinan Sihombing mengatakan, pelemahan rupiah menjadi salah satu isu ekonomi yang paling banyak diperbincangkan investor dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi pergerakan saham, tetapi juga psikologis investor di pasar modal sehingga memicu gejolak dalam pasar saham di Kaltimtara.
"Investor biasanya akan lebih berhati-hati karena nilai tukar rupiah melemah. Ini memunculkan kekhawatiran dan ketidakpastian terhadap kondisi ekonomi," jelasnya, Senin (18/5/2026).
Baca juga: Efek Rupiah Melemah, Harga Daging Brisket Asap di Balikpapan Alami Kenaikan
Ia menjelaskan, dampak lemahnya rupiah dapat dirasakan baik oleh investor domestik maupun asing.
Ketika kurs rupiah terus melemah, sebagian investor cenderung menahan transaksi sambil menunggu situasi lebih stabil.
Secara nasional, kondisi tersebut turut mempengaruhi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dalam beberapa pekan terakhir juga mengalami penurunan.
Meski begitu, Ferdinan menyebut aktivitas transaksi pasar modal secara umum masih menunjukkan pertumbuhan dibandingkan tahun lalu.
Baginya, tren nasional tersebut kemungkinan besar juga tercermin di wilayah Kaltimtara, terutama pada aktivitas transaksi harian investor.
"Kalau dilihat secara keseluruhan, rata-rata transaksi masih meningkat dibanding tahun lalu. Tetapi memang dalam beberapa minggu terakhir ada penurunan dibanding awal tahun yang sempat melonjak cukup tinggi," tambahnya.
Selain memengaruhi investor, pelemahan rupiah juga menjadi tantangan bagi perusahaan terbuka yang memiliki utang dalam mata uang asing maupun kebutuhan bahan baku impor.
Biaya operasional perusahaan berpotensi meningkat ketika kurs dolar naik, sehingga dapat menekan laba perusahaan dan memengaruhi sentimen pasar saham.
Namun, di sisi lain, ia menilai pelemahan rupiah tak selalu berdampak negatif bagi seluruh emiten atau sektor perusahaan.
Perusahaan yang memiliki orientasi ekspor justru berpotensi mendapatkan keuntungan karena pendapatan mereka berasal dari mata uang asing yang nilainya meningkat saat dikonversi ke rupiah.
"Perusahaan yang orientasinya ekspor biasanya justru diuntungkan karena pendapatannya dalam bentuk mata uang asing," jelasnya.
Sementara itu, untuk wilayah Kaltimtara sendiri, Ferdinan menyebut sektor berbasis ekspor seperti tambang dan perkebunan berpotensi menikmati kenaikan laba akibat penguatan nilai dolar terhadap rupiah.
Meski begitu, ia menilai dampak spesifik terhadap emiten di Kaltimtara tetap perlu dilihat melalui laporan keuangan masing-masing perusahaan.
"Kalau perusahaan-perusahaan tambang atau kelapa sawit yang penghasilannya ekspor, harusnya akan diuntungkan karena ada lonjakan laba dari konversi rupiah,” pungkasnya. (*)