WARTAKOTALIVECOM -- Pemerintah Iran kembali melontarkan pernyataan keras terhadap Amerika Serikat.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Teheran kini tidak lagi menaruh kepercayaan kepada Washington di tengah hubungan kedua negara yang terus dibayangi ketegangan politik dan diplomatik.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi saat berbicara kepada para jurnalis di New Delhi, India, di sela agenda pertemuan para menteri luar negeri negara-negara BRICS, Jumat (15/5/2026).
Dalam keterangannya, Araghchi menekankan bahwa Iran masih membuka peluang dialog dengan Amerika Serikat, namun hanya jika Washington menunjukkan keseriusan dan komitmen nyata dalam proses negosiasi.
“Iran tidak memiliki kepercayaan terhadap Amerika Serikat. Kami hanya tertarik melanjutkan pembicaraan apabila mereka menunjukkan pendekatan yang serius,” ujar Araghchi.
Pernyataan itu mencerminkan semakin dalamnya jurang ketidakpercayaan antara Teheran dan Washington yang selama beberapa tahun terakhir terus dipenuhi ketegangan, terutama terkait isu program nuklir Iran, sanksi ekonomi, serta konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah.
Hubungan Iran dan Amerika Serikat memang belum sepenuhnya pulih sejak keluarnya Washington dari kesepakatan nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018 silam.
Keputusan tersebut diambil pemerintahan Presiden AS saat itu, Donald Trump, yang kemudian kembali memberlakukan berbagai sanksi ekonomi terhadap Iran.
Sejak saat itu, upaya negosiasi untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir berjalan tersendat. Iran beberapa kali menuding Amerika Serikat tidak konsisten terhadap komitmen diplomatik, sementara Washington menilai Teheran terus meningkatkan aktivitas nuklirnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, ketegangan kedua negara juga meningkat seiring dinamika keamanan di Timur Tengah.
Iran menilai tekanan politik dan ekonomi yang dilakukan AS menunjukkan bahwa Washington belum benar-benar mengubah pendekatannya terhadap Teheran.
Meski demikian, pernyataan Araghchi juga menunjukkan bahwa pintu diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Iran masih membuka kemungkinan pembicaraan lanjutan, tetapi dengan syarat adanya langkah konkret dan itikad serius dari pihak Amerika Serikat.
Forum BRICS yang berlangsung di India sendiri menjadi ajang penting bagi Iran untuk memperkuat komunikasi dengan negara-negara berkembang dan mitra strategis di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global.
Kehadiran Iran dalam forum tersebut sekaligus memperlihatkan upaya Teheran memperluas kerja sama internasional di luar pengaruh Barat.
Pengamat menilai, sikap keras Iran terhadap Amerika Serikat merupakan bagian dari strategi diplomasi untuk meningkatkan posisi tawar Teheran dalam berbagai perundingan internasional.
Namun di sisi lain, ketidakpercayaan yang terus membesar dikhawatirkan dapat memperumit peluang tercapainya stabilitas di kawasan Timur Tengah dalam waktu dekat.