BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Suasana duka masih menyelimuti Desa Kacung, Kecamatan Kelapa, Kabupaten Bangka Barat, Senin (18/5/2026) malam.
Rumah sederhana di RT 02 RW 01 yang menjadi lokasi peristiwa berdarah tampak tertutup rapat tanpa aktivitas.
Bekas tragedi itu masih terlihat jelas dari timbunan tanah di halaman rumah yang digunakan untuk menutup bercak darah.
Tak ada yang menyangka, halaman rumah itulah yang menjadi lokasi kasus perkelahian antara dua orang pria yang masih berstatus sepupu di Desa Kacung, Kecamatan Kelapa, Bangka Barat menggemparkan warga setempat.
Peristiwa yang terjadi di siang bolong sekira pukul 12.30 WIB, Senin (18/5/2026) itu bagaikan langit runtuh bagi keluarga besar Afrianza atau kerap disapa Anja (25 tahun) dan Fauzi (29 tahun).
Dua orang pria yang masih berstatus sepupu tersebut terlibat cekcok hingga berujung maut. Fauzi meninggal dunia usai ditusuk dengan sebilah pisau oleh Anja.
Kejadian nahas itu dapat dikatakan berlangsung singkat, bahkan hampir tak ada satupun warga atau tetangga sekitar yang menjadi saksi atau bahkan sempat melerai.
Seperti yang diungkapkan oleh Nanda, Ketua RT 02 RW 01, Desa Kacung. Dia mengatakan, peristiwa perkelahian yang berakhir penusukan itu terjadi saat suasana di sekitar sedang sepi.
“Kejadiannya sekitar habis sholat zuhur lah. Enggak ada warga yang tau, karena itukan jam-jam orang istirahat kerja, mungkin ada pulang ke rumah terus tidur,” kata Ketua RT saat diwawancarai Bangkapos.com.
Meski rumahnya hanya berjarak 200 meter dari TKP, Nanda mengaku bahwa dirinya baru tau ada peristiwa berdarah itu setelah ada ibu-ibu yang berteriak meminta pertolongan untuk mencarikan mobil.
Namun, karena tidak ada yang bisa menyetir mobil, pelaku kemudian berinisiatif membawa mobil milik bibinya dan menyetir sendiri kendaraan Honda CRV berwarna coklat yang sedang terparkir tepat di sebelah rumah pelaku.
Pelaku bersama dengan sejumlah anggota keluarga yang lain membawa korban ke Puskesmas Kelapa untuk diberi penanganan.
Diketahui, rumah pelaku yang menjadi TKP perkelahian tersebut sebagian besar masih dikeliling oleh rumah-rumah dari keluarga besarnya, termasuk rumah bibi si pemilik mobil.
“Jadi pas kami datang, udah dibawa (si korban-red). Jadi enggak nemu, enggak nengok (ngeliat-red) korbannya, cuma nengok darah,” jelasnya.
Nanda mengungkap, pelaku dan korban masih memiliki hubungan saudara, bahkan keduanya tergolong dekat dan akrab.
“Kalau hubungan kekeluargaan masih jelas, soalnya ibu korban dan ibu pelaku ini kakak adik,” tuturnya.
Pelaku dan korban diketahui sudah berkeluarga dan masing-masing sudah mempunyai dua orang anak.
Diakuinya, peristiwa penusukan yang terjadi di lingkungannya itu membuat warga setempat syok. Apalagi, sejauh ini tidak pernah ada permasalahan antara korban dan pelaku.
Bahkan keduanya tergabung dalam satu tim motor gas track yang sama di Desa Kacung.
“Orang berdua ini akur-akur aja, enggak ada masalah-masalah, malahan mereka ini satu tim gas track di desa,” ungkapnya.
Oleh karena itu, dirinya pun heran lantaran sejauh ini tidak pernah ada konflik antara keduanya. Termasuk pula konflik di sosial media yang menurut Nanda tidak pernah ada.
“Enggak ada, soalnya saya memiliki nomor keduanya, pelaku dan korban, enggak ada sindir-sindirian,” tuturnya.
Adanya peristiwa inipun memberikan luka mendalam bagi keluarga besar pelaku dan korban. Bahkan kata Nanda, ibu pelaku sempat pingsan setelah mengetahui adanya peristiwa memilukan tersebut.
“Ibu pelaku syok karena ngelihat korban dan pelaku itu masih saudara (sepupu-red). Setau saya, sehabis korban dikebumikan pun belum sadar,” ujarnya.
Bahkan, dari peristiwa penusukan oleh sepupu ini, pelaku sendiri lah yang mengantarkan korban ke Puskesmas Kelapa untuk diberi penanganan.
Tak hanya itu, masih dengan menggunakan mobil yang sama ketika mengantar korban, pelaku sendiri lah yang datang ke Polsek Kelapa untuk menyerahkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Sementara itu, korban diketahui telah dikebumikan di pemakanan desa setempat pada sore, di hari yang sama dengan kejadian memilukan tersebut.
Nanda selaku Ketua RT pun telah mengikuti oleh TKP oleh pihak kepolisian sebagai bagian dari proses penanganan kasus dan melihat langsung barang bukti berupa sebilah pisau.
Luka di dada
Peristiwa yang terjadi sekira pukul 13.00 WIB tersebut bermula dari cekcok antara pelaku dan korban melalui sambungan telefon WhatsApp.
Cekcok tersebut kemudian berubah menjadi aksi saling tantang dan menghantarkan langkah korban untuk mendatangi kediaman pelaku di Desa Kacung.
Saat korban dan pelaku bertemu, kemudian terjadilah perkelahian antara keduanya hingga aksi penusukan terhadap korban tak dapat terhindarkan.
Informasi yang dihimpun Bangkapos.com, pelaku dan korban masih memiliki hubungan kekerabatan dimana keduanya diketahui masih sepupu.
Adapun identitas pelaku yakni pria bernama Afrianza alias Anja (25 tahun), sedangkan korban bernama Fauzi (29 tahun).
Dari peristiwa berdarah tersebut, terungkap fakta bahwa usai terjadi penusukan, pelaku sendiri yang membawa korban ke Puskesmas Kelapa.
Hal itu disampaikan oleh Kepala Puskesmas Kelapa, Hupazmi Fajri. Dia menyebut, bahwa pelaku membawa korban bersama dengan satu orang warga lainnya menggunakan mobil.
“Waktu datang dibawa ke sini, korban sudah dalam kondisi meninggal dunia,” kata Hupazmj saat diwawancarai Bangkapos.com.
Lebih lanjut, dari penanganan yang dilakukan oleh dokter Puskesmas Kelapa, korban diketahui mengalami luka benda tajam pada dada bagian kanan.
“Panjang lukanya sekitar 4 cm dengan kedalaman luka sekirar 2 cm,” ungkapnya.
Tak hanya itu, diketahui pula bahwa pelaku datang sendiri ke Polsek Kelapa untuk menyerahkan diri dan mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Terpisah, Kapolsek Kelapa, Iptu Dahri Iskandar mengatakan bahwa pelaku saat ini sedang menjalani pemeriksaan untuk dimintai keterangan dan selanjutnya penanganan kasus akan diambil alih oleh Polres Bangka Barat.
“Untuk penanganan awalnya di kami (Polsek Kelapa-red), untuk penanganan selanjutnya di Polres, dan sudah saya sampaikan ke Bapak Kapolres,” ungkap Kapolsek Kelapa, Iptu Dahri Iskandar saat dikonfirmasi via telfon.
Pantauan Bangkapos.com, saat ini, pelaku sedang menjalani pemeriksaan di ruangan Unit Reskrim Polsek Kelapa.
“Saat ini masih di periksa oleh tim kami di Polsek, selanjutnya penanganan perkara akan dilakukan oleh Polres,” imbuhnya.
Bermula cekcok di Whatsapp
Peristiwa kekerasan yang berujung maut tersebut bermula dari cekcok antara korban dan pelaku melalui sambungan telepon WhatsApp yang kemudian berubah jadi aksi saling tantang.
Kejadian tersebut terjadi sekira pukul 13.00 WIB di halaman rumah pelaku di Desa Kacung. Berdasarkan hasil pemeriksaan awal oleh pihak kepolisian, korban mendatangi rumah pelaku dan terjadi perkelahian antara keduanya.
Saat perkelahian berlangsung, korban disebut sempat mengambil batu, sementara pelaku masuk ke dalam rumah mengambil pisau dapur lalu kembali dan melakukan penusukan ke arah dada korban.
Hal ini turut dibenarkan oleh Kasi Humas Polres Bangka Barat, Iptu Yos Sudarso. Dalam keterangannya, dia menyebut bahwa akibat peristiwa itu, korban mengalami luka serius pada bagian dada dan dinyatakan meninggal dunia di tempat.
“Pihak kepolisian bergerak cepat setelah menerima laporan kejadian tersebut. Polsek Kelapa Polres Bangka Barat langsung mendatangi lokasi kejadian, mengamankan pelaku beserta barang bukti, serta melakukan langkah-langkah penyelidikan untuk proses hukum lebih lanjut,” kata Iptu Yos.
Dalam penanganan perkara tersebut, polisi turut mengamankan satu bilah pisau dapur yang diduga digunakan pelaku saat kejadian.
“Saat ini pelaku telah diamankan di Polsek Kelapa Polres Bangka Barat dan kasusnya masih dalam proses penyidikan oleh pihak kepolisian,” ujarnya.
Lebih lanjut, Kasi Humas Polres Bangka Barat juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing emosi dalam menyelesaikan persoalan.
“Kami mengajak masyarakat untuk mengedepankan penyelesaian masalah secara baik dan tidak menggunakan kekerasan karena dapat menimbulkan akibat yang fatal,” imbuhnya. (Bangkapos.com/Arya Bima Mahendra)